Badung |Nusantara Jaya News – Sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat yang terintegrasi dalam kurikulum kokurikuler wajib, Sekolah Cendekia Harapan melaksanakan Live In Program di Banjar Mambul, Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Program yang berlangsung selama tiga hari ini melibatkan siswa kelas 7 dan 8 jenjang Sekolah Menengah Pertama, dan difokuskan pada kontribusi nyata siswa terhadap permasalahan lokal melalui edukasi dan pengembangan solusi berbasis teknologi.
“Live In bukan hanya tentang tinggal di desa, tetapi tentang memahami, menganalisis, dan memberikan kontribusi yang relevan untuk masyarakat. Inilah wujud dari visi kami: empowering scholars to build better communities,” jelas Ni Putu Indah Cahya Prihatina, S.Hut., M.M., Chief of Engagement Sekolah Cendekia Harapan.
Sebelum pelaksanaan program, para siswa melakukan riset mendalam terhadap kondisi Desa Taman, termasuk aspek sosial, lingkungan, serta potensi dan tantangan yang dihadapi warga. Beberapa isu utama yang diidentifikasi antara lain: sistem pengelolaan sampah yang kurang efektif, rendahnya kesadaran hidup sehat di kalangan muda, serta minimnya edukasi tentang pelestarian lingkungan.
Berangkat dari temuan tersebut, siswa kemudian merancang proyek pengabdian dalam bentuk aplikasi dan kegiatan edukasi langsung kepada masyarakat. Salah satu inovasi unggulan adalah aplikasi Taman Bersih, sebuah platform edukatif yang bertujuan membantu warga dalam memahami dan menerapkan prinsip pengelolaan sampah yang benar. Aplikasi ini menyediakan fitur “misi lingkungan” yang dapat diikuti warga, dengan tantangan seputar pemilahan sampah, komposting, dan pengurangan plastik. Setiap misi yang diselesaikan dapat ditukarkan menjadi koin hadiah yang dapat dimanfaatkan dalam komunitas.
Proyek lain yang dikembangkan adalah aplikasi _Eco Buddy_, yang memungkinkan warga untuk melaporkan kerusakan lingkungan di sekitar mereka, seperti pencemaran sungai atau penebangan pohon liar. Laporan ini kemudian ditindaklanjuti bersama oleh komunitas, difasilitasi oleh sistem notifikasi dalam aplikasi. Tujuannya adalah mendorong kolaborasi warga dalam menjaga kelestarian lingkungan secara aktif dan terstruktur.
Dalam pelaksanaannya, siswa juga melakukan edukasi langsung kepada siswa SD Negeri 1 Desa Taman. Mereka menyampaikan materi mengenai pengelolaan sampah, hidup sehat, dan pelestarian lingkungan secara interaktif. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari para guru dan siswa setempat.
Ni Luh Sekar Astuti, S.Pd., M.Pd., Gr., wali kelas 7 sekaligus Chief of Quality Assurance Sekolah Cendekia Harapan yang turut mendampingi siswa, menyampaikan bahwa anak-anak tidak hanya menyampaikan materi, tapi juga menggali akar masalah secara kritis. “Mereka menemukan bahwa permasalahan bukan semata pada ketiadaan fasilitas, tetapi pada minimnya pemahaman dan kesadaran warga terhadap pentingnya pengelolaan sampah. Karena itu, mereka menekankan pada solusi berbasis edukasi,” terang Sekar.
Salah satu siswa, Caira Firmansyah dari kelas 7, mengaku bangga bisa berkontribusi nyata. “Saya senang bisa mengajar Bahasa Inggris dan mengenalkan aplikasi Taman Bersih kepada warga. Harapannya, aplikasi ini bisa membuat Desa Taman jadi desa percontohan pengelolaan sampah,” ujarnya.
Antusiasme dan keterlibatan siswa CH juga mendapat apresiasi dari Sekretaris Desa Taman, I Gede Wardana. Ia menyoroti manfaat konkret dari kehadiran siswa CH. “Kami sangat berterima kasih. Hanya dalam tiga hari, siswa-siswa ini mampu menganalisis kondisi desa kami, dan bahkan menciptakan aplikasi yang bisa digunakan untuk menangani masalah nyata, seperti pengelolaan sampah dan pelaporan lingkungan,” kata Wardana.
Ia menambahkan bahwa meskipun desa telah memiliki TPS dan program pemilahan sampah berbasis rumah tangga, implementasinya belum maksimal karena kurangnya pemahaman warga.“Saya melihat apa yang dilakukan siswa-siswa CH ini bukan hanya berdampak sesaat. Mereka tidak hanya datang memberi bantuan, tetapi juga
membangun kesadaran, memperkenalkan sistem, dan mengajarkan cara berpikir solutif kepada warga. Ini adalah fondasi penting untuk keberlanjutan. Jika aplikasi dan edukasi yang mereka bawa bisa terus digunakan dan dikembangkan bersama warga, saya yakin Desa Taman bisa menjadi contoh desa mandiri yang peduli lingkungan dan sehat secara sosial,” ungkap I Gede Wardana, Sekretaris Desa Taman.
Live In Program di Desa Taman bukan sekadar pengalaman tiga hari, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang Sekolah Cendekia Harapan dalam membentuk generasi pembelajar yang bertanggung jawab sosial dan mampu menjadi agen perubahan. Program ini dirancang agar nilai-nilai empati, kolaborasi, dan inovasi dapat membawa manfaat nyata bagi masyarakat, tidak hanya selama program berlangsung, tetapi juga dalam jangka panjang.
Melalui riset, aksi nyata, dan pengembangan solusi berkelanjutan seperti aplikasi digital dan edukasi berbasis komunitas, siswa CH turut meletakkan dasar bagi perubahan pola pikir dan perilaku warga terhadap isu-isu lingkungan dan sosial. Sekolah Cendekia Harapan percaya bahwa pendidikan yang bermakna adalah pendidikan yang tidak berhenti di ruang kelas, melainkan hadir dan tumbuh bersama masyarakat.
Dengan semangat pemberdayaan komunitas dan kolaborasi lintas generasi, Sekolah Cendekia Harapan akan terus berupaya membangun jembatan antara pengetahuan dan kepedulian, agar anak-anak tidak hanya belajar tentang dunia, tetapi juga turut membangunnya. (Red)