Bandung |Nusantara Jaya News – Gerakan Pemuda Energi menggelar aksi di Swiss-Belresort Heritage Dago, Bandung, menanggapi Rakernas METI. Mereka menyoroti konflik sosial, kerusakan lingkungan, dan persoalan tata kelola proyek energi yang diduga bermasalah.(31/1)
Gerakan Pemuda Energi menuntut evaluasi proyek-proyek yang diduga memicu konflik, seperti proyek biomassa dan hutan tanaman energi di bawah pengawasan Endi Novaris Syamsudin, proyek PLTS Terapung dan PLTA/PLTM di bawah pengawasan Wiluyo Kusdwiharto, serta proyek PT Ketaun Hidro Energi yang dipimpin Zulfan Zahar.
Mereka menegaskan bahwa transisi energi harus memperhatikan keadilan sosial dan keselamatan ekologis, bukan hanya target kapasitas dan investasi. “Jika konflik, penggusuran, dan dugaan pelanggaran hukum terus dibiarkan, maka narasi ‘energi bersih’ berisiko berubah menjadi slogan kosong,” kata Ronald Panjaitan, Koordinator Lapangan Gerakan Pemuda Energi.
Gerakan Pemuda Energi mendesak audit dan penegakan hukum terhadap proyek-proyek yang diduga bermasalah dan meminta METI membuka evaluasi terbuka atas persoalan-palasan ini. Mereka juga meminta pemerintah untuk lebih transparan dalam mengelola proyek-proyek energi dan memastikan bahwa masyarakat lokal mendapatkan manfaat yang adil dari proyek-proyek tersebut.
“Transisi energi harus menjadi proses yang inklusif dan berkelanjutan, bukan hanya untuk kepentingan segelintir orang,” tambah Ronald. Gerakan Pemuda Energi berkomitmen untuk terus mengawasi dan memperjuangkan keadilan sosial dan lingkungan dalam proyek-proyek energi di Indonesia.(Arf)
Penanggung Jawab Aksi: Ronald Panjaitan















