banner 1000x130

Ingin Nasihat Didengar Anak? Ini Trik dari dr. Aisah Dahlan

banner 2500x130

SURABAYA |Nusantara Jaya News — Meskipun tujuannya mulia, memberi nasihat anak tidak boleh dilakukan dengan serampangan. Pokoknya anak langsung diberitahu, dilarang, plus diomelin. Karena ketika nasihat disampaikan dengan cara yang tidak pas, maka yang didapat hanyalah kesia-siaan.

Peringatan itu disampaikan oleh dr. Aisah Dahlan CM.NLP., CCHt., CI., dalam acara Family Role in Modern Parenting, From Home to a Brighter Future, di SMP-SMA SAIM Surabaya East 2, Jl. Keputih Tegal 54. Acara diikuti oleh ratusan walimurid, guru, dan undangan. Turut hadir Wakil Walikota Surabaya Ir H. Armuji, M.H.

banner 1000x130

Sesi parenting bersama narasumber dokter dan pakar neurosains ini cukup memberikan pemahaman baru bagi orang tua mengenai pentingnya kondisi emosional anak dalam proses belajar dan pembentukan karakter.

Dalam pemaparannya, dr. Aisah Dahlan menjelaskan bahwa bila hendak memberikan nasihat kepada anak hendaklah dilakukan pada waktu yang tepat, yaitu saat batang otak belakang (otak reptile), sedang tidak tegang.

“Karena ketika kondisi otak belakang anak sedang tegang, maka anak akan merespons segala nasihat dengan tiga cara, yang sama-sama tidak menguntungkan. Pertama, melawan atau ngeyel. Kedua, pergi berlari atau mengabaikan. Ketiga, dia diam membatu, freeze,” katanya.

Akibatnya, seluruh nasihat yang terkirim tidak sampai masuk ke otak bagian depan (prefrontal cortex, bagian otak yang menyimpan fungsi eksekusi/pengambilan keputusan). Kalaupun anak mau melaksanakan nasihat, maka itu sifatnya terpaksa, sementara, dan berjangka pendek. Hanya diingat anak sekitar 24 jam, lalu esoknya dia akan melupakannya.

“Jadi, ilmu dan nasihat akan masuk dengan baik ke otak depan ketika anak berada dalam kondisi rileks,” ungkap Aisyah Dahlan, “Otak depan, atau dalam bahasa agama disebut aqal berperan penting dalam berpikir, memahami nilai, serta membentuk karakter anak.”

Pada bagian lain dia juga menyoroti beban pekerjaan rumah (PR) yang kerap menjadi pemicu ketegangan murid. Tidak hanya murid yang merasa tertekan, orang tua pun ikut stres saat mendampingi anak mengerjakan PR. Kondisi ini membuat proses belajar tidak optimal karena ilmu tidak tersimpan dengan baik di otak depan anak.

Sejalan dengan hal tersebut, sekolah SAIM mendapatkan apresiasi darinya sebagai sekolah yang menerapkan pembelajaran tanpa PR. Lingkungan belajar yang minim tekanan dinilai mampu menciptakan suasana yang lebih nyaman, sehingga anak lebih siap menerima ilmu secara utuh dan bermakna.

Aisah Dahlan, yang juga konsultan penangulangan penyalahgunaan narkoba ini, menegaskan bahwa pendekatan pendidikan seharusnya selaras dengan cara kerja otak manusia yang merupakan ciptaan Allah SWT. Ketika anak merasa aman dan tenang, proses belajar akan berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

“Melalui kegiatan parenting ini, SAIM menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada kesehatan emosional dan psikologis anak,” kata Direktur SAIM, Aziz Badiansyah, M.MPd., yang ditemui seusai acara. (Red)
.

banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130