SURABAYA |Nusantara Jaya News – Jangan bayangkan Sungai Pegirian dulu dengan sekarang. Kondisi lingkungan sudah banyak yang berubah. Pelebaran jalan darat membuat badan sungai menjadi sempit. Sedimentasi membuat sungai menjadi dangkal. Pembuangan sampah ke sungai membuat sungai menjadi kotor. Belum lagi kalau sungai dipasang box culvert, sungai nya menjadi hilang. Bahkan bila g dari peta buta, seperti sungai di jalan Banyuurip.
Kali Pegirian ini berhulu di Genteng kali dan Undaan di ujung Selatan. Sekarang Kali Pegirian tidak selebar pada masa silam, yang bisa menjadi jalur lalu lintas air. Jangankan kembali ke abad abad 19, 18 dan 17, di tahun 1970 an saja, sungai ini sudah mulai jarang dilewati perahu. Tapi masih ada perahu perahu yang melintas.
Di tahun 1970-an, penulis masih menyaksikan ada perahu perahu sampan, yang menyusuri sungai. Mundur lagi di tahun 1920-an masih banyak perahu di sungai ini.

Berdasarkan foto foto di era kolonial, ruas sungai di jalan Nyamplungan terdokumentasikan sebagai pelabuhan sungai. Bahkan banyak perahu perahu dagang, yang mangkal di tepian sungai. Pinggiran sungainya pun terdapat trap trapan untuk naik turun penumpang perahu.

Ruas sungai di Nyamplungan ini menjadi gerbang bagi kampung Ampel Denta, dimana terdapat Masjid Ampel yang kawasannya telah menjadi pusat kegiatan masyarakat mulai dari pusat pembelajaran ajaran Islam, perdagangan dan ekonomi. Akhirnya menjadikan kawasan ini sebagai pusat multikulturalisme. Pelabuhan sungai ini juga menjadi gerbang pusat perdagangan Songoyudan dan Pasar Pabean
Bahkan pusat perdagangan ini ditunjukkan oleh adanya relief komoditas rempah rempah di gapura Ampel. Menurut Profesor Suparto Wijoyo, dosen Sekolah Pascasarjana Unair, bahwa relief cengkeh pada Gapura Ampel ini sebagai wujud legitimasi komoditas Nusantara di masa Sunan Ampel atau sesudahnya.

Hingga sekarang komoditas rempah rempah ini masih diperdagangkan di kawasan ini, termasuk di Pasar Pabean dan Panggung. Selain itu banyak pula komoditas lain seperti produk produk kain dalam bentuk kain polos maupun sarung dan baju. Apalagi barang barang kebutuhan pokok seperti hasil kebun.
Dulu sebelum ada moda transportasi mobil, sarana angkutnya dari daerah penghasil ke Surabaya menggunakan perahu mulai dari Sungai Brantas, Kali Surabaya, sungai Kalimas dan masuk ke Kali Pegirian.

Sekarang Kali Pegirian termasuk sungai Kalimas sudah bukan lagi sebagai sarana lalu lintas air, tetapi sekedar saluran pembuangan air. Badan sungai telah menyempit, kalinya dangkal dan airnya keruh.

Pada tahun 1970 an, penulis masih tinggal di Pengampon Gg XII sehingga sering bermain di sungai yang mengalir lancar di depan gang kampung. Di sungai itu, penulis sering mencari ikan kecil kecil, ikan gathul, dan memancing.
Di Daerah Aliran Sungai (DAS) ini pada periode tertentu sempat sibuk ditempati bangunan bangunan untuk berjualan sehingga penulis tidak leluasa lagi mencari ikan seperti sebelumnya. Bangunan bangunan itu berdiri berjajar di tepi sungai di sepanjang jalan Pengampon, Bunguran hingga kawasan DAS di depan Pasar Atom. Ada bangunan untuk warung makan hingga toko toko, utamanya di sekitar Pasar Atum.
Penulis sempat membeli baju seragam sekolah bersama ibu di stand yang berdiri di tepi sungai Pegirian.

Karena aktivitas manusia itulah sungai semakin menyempit, dan jalan jalan seperti jalan Pengampon, jalan Bunguran dan jalan Nyamplungan diperlebar. Lambat laun lalu lintas sungai pun menjadi mati. Moda transportasi beralih ke moda darat. Sekarang zaman semakin berubah, termasuk perubahan Kali Pegirian yang sudah tidak bisa lagi digunakan sebagai transportasi sungai.
Kali Pegirian, nasibmu kini. (nng)


****************************************












