SURABAYA |Nusantara Jaya News – Desa Giri, Gresik sudah lama dikenal sebagai kampung pendidikan. Yakni pendidikan agama Islam. Ini karena keberadaan Sunan Giri yang mengajarkan dan menyebarkan Agama Islam melalui pondok pesantrennya.
Sunan Giri mendirikan pesantren di perbukitan Giri (Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik) setelah berguru di pesantren Ampel Denta milik Sunan Ampel.
Karena pengaruhnya yang besar, Sunan Giri dikenal sebagai pendidik dan pemimpin yang berpengaruh, bahkan dijuluki sebagai “Raja Tanpa Mahkota”.
Dusun/Kampung Kajen, Desa Giri, sudah menjadi etalase peradaban kuliner dan jajanan yang sebagian sudah dikenal di era Sunan Giri. Misalnya Kupat Keteg. Jajanan tradisional ini disajikan dalam acara Pasar Panganan Giri Biyen setiap Minggu Kliwon setiap bulan.
Tahun 2026 ini ajang Pasar Panganan Giri Biyen ini sudah kali kedua. Awalnya diadakan pada 2025. Pada agenda agenda berikutnya, nilai nya harus dapat ditingkatkan. Karena acara ini menjadi ajang edukasi, maka yang perlu diperkenalkan lagi adalah Aksara Jawa karena keberadaannya semakin langka.

Ketika Sunan Giri hadir pada abad 15 M, memang aksara Pegon menjadi umum. Namun sebelumnya adalah aksara Jawa. Sudah dikenal secara umum adalah bahwa para wali dalam memperkenalkan ajaran baru tidak serta merta meninggalkan tradisi lama. Termasuk aksara Jawa. Tradisi lama itu masih digunakan. Yaitu aksara Jawa sebagai literasi tulis lokal. Sambil berjalan kemudian diperkenalkan aksara Pegon (tulisan Arab berbahasa Jawa).

Apapun Aksara Jawa dan Aksara Pegon adalah aksara tradisional yang lambat laun tergantikan oleh aksara Latin, aksara Asing. Bukti bukti penggunaan aksara Jawa dan Pegon masih banyak dijumpai di lingkungan masjid dan makam serta manuskrip manuskrip lama. Bahkan penggunaan aksara Jawa dan Pegon menjadi literasi masyarakat umum termasuk dalam administrasi pemerintahan.
Giri Biyen Etalase Peradaban
Karenanya, Muhammad Ma’arif (Arif) mengagendakan akan adanya penggunaan Aksara Jawa dan Pegon pada media papan nama stand dan bahkan label jajanan yang dipersembahkan dalam acara Pasar Panganan Giri Biyen.

Menurutnya jenis makanan dan jajanan masa lalu adalah media pendidikan, yang menunjukkan peradaban lokal Giri Tempo dulu. Yang tidak ketinggalan adalah aksara yang menjadi sarana transformasi ilmu pengetahuan terkait dengan ajaran agama Islam.
“Kedepan kami ingin di setiap lorong jalan Kampung diberi aksara Jawa dan pegon”, kata Arif, Ketua Panitia Pasar Panganan Giri Biyen.
Kampung atau Dusun Kajen ini adalah kawasan perbukitan Giri. Sekilas seperti desa atau kampung kampung di kawasan pegunungan. Di dalam kampung Kajen telah terbangun sarana kebudayaan yang berupa pendapa sebagai pusat kegiatan.

“Mohon arahan dan bimbingannya, pak. Saya butuh masukan dari jenengan terkait penggunaan Aksara Jawa”, kata Arif yang ingin menambah nilai kegiatan pasar Panganan Giri Biyen dengan literasi tulis tradisional. (nng).















