Breaking News
Tinjau Ketahanan Pangan Rudenim Semarang, Kalapas Batang Perkuat Sinergi Antar-Satker Polres Probolinggo Ungkap Penyalahgunaan BBM Bersubsidi, 7 Tersangka Diamankan OJK Perpanjang Waktu Penyampaian Laporan Keuangan Asuransi dan Kewajiban Pelaporan SLINK Peringati HBP Ke-62, Lapas Batang Gelar Bakti Sosial di PAUD Srikandi dan Masjid Baiturrahman Desa Rowobelang *30 WBP Lapas IIB Pati Tuntaskan 30 Juz dalam Khataman Al-Qur’an, Pembinaan Spiritual Rutin Tiap 40 Hari* Pati- Kegiatan khataman Al-Qur’an kembali dilaksanakan di Masjid At-Taubah Lapas Kelas IIB Pati dengan diikuti oleh 30 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat, di mana masing-masing peserta membaca 1 juz sehingga secara bersama-sama berhasil menyelesaikan 30 juz Al-Qur’an. Program ini merupakan bagian dari pembinaan kepribadian bagi WBP dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan selama menjalani masa pidana (24/04). Kegiatan khataman Al-Qur’an ini dilaksanakan secara rutin setiap 40 hari sekali bekerja sama dengan Kementerian Agama setempat. Dengan adanya pendampingan dari pihak Kemenag, pelaksanaan kegiatan berjalan tertib dan terarah, serta memberikan pemahaman yang lebih baik kepada WBP dalam membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Selain sebagai sarana ibadah, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk memperkuat mental dan spiritual para WBP agar menjadi pribadi yang lebih baik. Kepala Lapas Kelas IIB Pati, Suprihadi, dalam keterangannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen dalam memberikan pembinaan rohani yang berkelanjutan bagi WBP. Beliau berharap melalui kegiatan khataman Al-Qur’an yang rutin dilaksanakan ini, para WBP dapat memperbaiki diri dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. “Kami terus mendorong kegiatan positif seperti ini agar WBP tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mendapatkan bekal spiritual yang kuat untuk kembali ke masyarakat,” ujarnya.
banner 1000x130
Budaya  

Menggali Nilai Nilai dari Peradaban Sunan Giri Untuk Ajang Budaya Giri Biyen

banner 2500x130 banner 1000x130

SURABAYA |Nusantara Jaya News – Desa Giri, Gresik sudah lama dikenal sebagai kampung pendidikan. Yakni pendidikan agama Islam. Ini karena keberadaan Sunan Giri yang mengajarkan dan menyebarkan Agama Islam melalui pondok pesantrennya.

Sunan Giri mendirikan pesantren di perbukitan Giri (Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik) setelah berguru di pesantren Ampel Denta milik Sunan Ampel.

banner 1000x130

Karena pengaruhnya yang besar, Sunan Giri dikenal sebagai pendidik dan pemimpin yang berpengaruh, bahkan dijuluki sebagai “Raja Tanpa Mahkota”.

Dusun/Kampung Kajen, Desa Giri, sudah menjadi etalase peradaban kuliner dan jajanan yang sebagian sudah dikenal di era Sunan Giri. Misalnya Kupat Keteg. Jajanan tradisional ini disajikan dalam acara Pasar Panganan Giri Biyen setiap Minggu Kliwon setiap bulan.

Tahun 2026 ini ajang Pasar Panganan Giri Biyen ini sudah kali kedua. Awalnya diadakan pada 2025. Pada agenda agenda berikutnya, nilai nya harus dapat ditingkatkan. Karena acara ini menjadi ajang edukasi, maka yang perlu diperkenalkan lagi adalah Aksara Jawa karena keberadaannya semakin langka.

Penulisan di salah satu stand peserta. Foto: nng

Ketika Sunan Giri hadir pada abad 15 M, memang aksara Pegon menjadi umum. Namun sebelumnya adalah aksara Jawa. Sudah dikenal secara umum adalah bahwa para wali dalam memperkenalkan ajaran baru tidak serta merta meninggalkan tradisi lama. Termasuk aksara Jawa. Tradisi lama itu masih digunakan. Yaitu aksara Jawa sebagai literasi tulis lokal. Sambil berjalan kemudian diperkenalkan aksara Pegon (tulisan Arab berbahasa Jawa).

Kartu pajak Dusun Roma, Gresik di tahun 1930-an dengan ditulis dengan aksara Jawa dan Pegon..Foto:ist

Apapun Aksara Jawa dan Aksara Pegon adalah aksara tradisional yang lambat laun tergantikan oleh aksara Latin, aksara Asing. Bukti bukti penggunaan aksara Jawa dan Pegon masih banyak dijumpai di lingkungan masjid dan makam serta manuskrip manuskrip lama. Bahkan penggunaan aksara Jawa dan Pegon menjadi literasi masyarakat umum termasuk dalam administrasi pemerintahan.

 

Giri Biyen Etalase Peradaban

Karenanya, Muhammad Ma’arif (Arif) mengagendakan akan adanya penggunaan Aksara Jawa dan Pegon pada media papan nama stand dan bahkan label jajanan yang dipersembahkan dalam acara Pasar Panganan Giri Biyen.

Arif, Ketua panitia Pasar Panganan Giri Biyen (kanan) menemui tamunya dari ICOM CECA, Jakarta. Foto: nng

Menurutnya jenis makanan dan jajanan masa lalu adalah media pendidikan, yang menunjukkan peradaban lokal Giri Tempo dulu. Yang tidak ketinggalan adalah aksara yang menjadi sarana transformasi ilmu pengetahuan terkait dengan ajaran agama Islam.

“Kedepan kami ingin di setiap lorong jalan Kampung diberi aksara Jawa dan pegon”, kata Arif, Ketua Panitia Pasar Panganan Giri Biyen.

Kampung atau Dusun Kajen ini adalah kawasan perbukitan Giri. Sekilas seperti desa atau kampung kampung di kawasan pegunungan. Di dalam kampung Kajen telah terbangun sarana kebudayaan yang berupa pendapa sebagai pusat kegiatan.

Pendapa pusat kebudayaan Kampung Bersejarah Kajen. Foto: nng

“Mohon arahan dan bimbingannya, pak. Saya butuh masukan dari jenengan terkait penggunaan Aksara Jawa”, kata Arif yang ingin menambah nilai kegiatan pasar Panganan Giri Biyen dengan literasi tulis tradisional. (nng).

banner 2500x130 banner 2500x130 banner 2500x130
banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130