SURABAYA |Nusantara Jaya News — Surabaya adalah kota dengan banyak museum. Ada lebih dari 25 museum, yang tersebar di penjuru kota. Ini bukti bahwa Surabaya melalui museum museum itu sudah berusaha menjaga ragam ingatan kolektifnya.
Dengan menjaga ingatan kolektif, suatu masyarakat akan dapat belajar dari kesalahan dan keberhasilan generasi sebelumnya. Hal ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih baik di masa kini dan masa depan, mencegah pengulangan tragedi, serta mengidentifikasi solusi yang efektif untuk tantangan saat ini.
Selain itu Ingatan Kolektif, yang mencakup cerita lisan, tradisi, adat istiadat, dan ekspresi budaya yang membentuk warisan suatu masyarakat, turut memastikan kesinambungan budaya, mencegah hilangnya aspek-aspek unik dan berharga dari peradaban manusia.

Museum museum itu antara lain Museum Tugu Pahlawan, De Javasche Bank, Museum Pusat TNI AL, Museum Monkasel, Museum Rumah Lahir Bung Karno, museum Yos Sudarso Koarmatim, museum Kematian (Etnografi) Unair, museum Hidup Polrestabes, museum Resolusi Jihad NU, museum NU, museum Pendidikan Surabaya, museum Lokajaya Crana, museum Rumah WR Soepratman, museum Kesehatan Unair, museum Bank Mandiri, museum Olahraga, museum dr. Soetomo, museum Persebaya, museum Kanker, museum Technoform, dan ada juga beberapa museum yang telah tutup seperti Museum House of Sampoerna, museum Mpu Tantular yang sudah pindah ke Sidoarjo, dan museum Kesehatan dan kelamin di Indrapura.
Sebetulnya masih ada lagi potensi lainnya sebagai museum seperti museum hidup arsitektur, museum Kota Lama, museum seni budaya dan museum Ampel.
Ringkasnya bahwa menjaga ingatan kolektif bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi merupakan investasi penting untuk membangun masa depan yang lebih kuat, Arif dan bijak.

Surabaya memang dikenal sebagai kota dengan jumlah museum yang banyak dan beragam di Indonesia dan menjadikannya sebagai destinasi penting untuk wisata sejarah dan edukasi. Surabaya sendiri adalah ruang kelas pembelajaran. Potensi museumnya tidak hanya bersifat indoors, tetapi juga outdoors.
Masing masing museum di Surabaya ini memiliki tema atau tematik sehingga praktis dalam mempelajarinya. Yang menarik adalah dari museum museum itu tidak semuanya dikelola pemerintah, tapi ada yang merupakan inisiasi swasta seperti museum Bank Mandiri dan museum House of Sampoerna (sudah tutup).
Dengan banyaknya museum di Surabaya ini, sesungguhnya menunjukkan telah tumbuhnya rasa kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya (heritage). Ini adalah wajar karena Surabaya memang menyimpan beragam nilai, yang terwujud dalam bentuk benda dan tradisi.
Apalagi pemerintah kota secara rutin menyelenggarakan pameran bersama yang berkolaborasi dengan museum museum dari banyak daerah, dalam program Cross Musea.
Cross Musea Surabaya adalah acara pameran kolaborasi berbagai museum nasional yang diadakan di Surabaya. Pameran ini sering diadakan di Museum 10 November dan Museum Dr. Soetomo, yang memungkinkan pengunjung merasakan koleksi museum dari berbagai daerah (Jawa, Bali, Sumatera) dalam satu tempat melalui konsep unik seperti pameran imersif video mapping dan kegiatan edukatif lainnya.
Museum adalah representasi masa lalu namun sifatnya dinamis, tidak statis atau “mati”. Mereka harus terus “hidup” dan relevan dengan masa kini, bahkan mampu “menghidupi” (berkontribusi pada masyarakat dan ekonomi).
“Museum di Hatiku!”. Museum adalah cermin peradaban manusia yang menyimpan rekaman sejarah budaya bangsa. (nng)


****************************************












