16 Jan 2026
Assalamulaikum Wr.Wb, Shalom, Om Swastiastu,Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Rahayu Perkenalkan Nama Saya Ilham hazfi Batubara S.Psi, Berasal dari Mandailing Natal (SUMUT) Umur 36 Tahun, Saya Lulusan STAI AL HIKMAH MEDAN Saya Akan Berikan Cerita Singkat Dari Kampung Sulum, Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang.
“CERITA DARI KAMPUNG SULUM” Tangis di Tengah Lumpur dan Harapan yang Hampir Padam Hujan deras itu turun tanpa henti sejak sore. Warga Kampung Sulum, Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, mengira malam akan berlalu seperti biasa. Anak-anak sudah terlelap, para orang tua bersiap beristirahat, tak ada yang menyangka bahwa malam itu akan menjadi awal dari mimpi buruk terpanjang dalam hidup mereka.
Tiba-tiba suara gemuruh datang dari arah hulu sungai. Air bercampur lumpur, batang kayu, dan bebatuan menerjang seperti monster raksasa. Dalam hitungan menit, banjir bandang setinggi 5 hingga 15 meter menyapu seluruh kampung. Rumah-rumah yang berdiri puluhan tahun runtuh begitu saja. Dinding hancur, atap beterbangan, dan jeritan warga bercampur suara deras air yang menenggelamkan segalanya.
“Tidak ada waktu menyelamatkan barang, kami hanya bisa menyelamatkan nyawa,” tutur seorang ibu sambil memeluk anaknya erat-erat.
Malam itu, lebih dari 518 kepala keluarga kehilangan tempat berteduh. Mereka berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi, tanpa membawa apa pun selain pakaian yang melekat di badan. Kehilangan yang Tak Tergantikan Pagi setelah banjir surut, Kampung Sulum berubah menjadi lautan lumpur. Rumah-rumah hancur rata dengan tanah. Jalan tertutup puing, listrik padam, jaringan komunikasi terputus.
Anak-anak berdiri kebingungan mencari mainan mereka yang hilang. Para orang tua menangis melihat sisa-sisa kehidupan mereka yang hanyut begitu saja. Tidak ada lagi kasur untuk tidur, tidak ada dapur untuk memasak, tidak ada pakaian kering untuk dikenakan.
Di pos pengungsian darurat, warga bertahan seadanya. Mereka kekurangan makanan, air bersih, obat-obatan, dan perlengkapan dasar. Penyakit mulai bermunculan. Anak-anak terserang diare, lansia jatuh sakit, sementara akses ke layanan kesehatan sangat terbatas.
“Yang kami butuhkan sekarang hanya makan, minum, dan tempat untuk berteduh,” ujar seorang bapak dengan mata berkaca-kaca.
Mereka Butuh Uluran Tangan Kita Di tengah kesedihan itu, harapan masih tersisa. Harapan yang hanya bisa tumbuh jika ada kepedulian dari kita semua. Para korban tidak meminta kemewahan.
Mereka hanya berharap: Bisa makan layak hari ini Anak-anak mereka mendapat susu dan makanan Ada obat untuk yang sakit Ada selimut untuk menghangatkan tubuh Ada air bersih untuk bertahan hidup Setiap paket sembako yang kita kirimkan adalah senyum yang kembali. Setiap bantuan obat adalah kesempatan hidup yang lebih panjang. Setiap liter air bersih adalah napas lega bagi mereka.
Mari Bergerak Bersama Saat ini kami membuka kesempatan bagi Bapak/Ibu/Saudara untuk ikut mengambil bagian dalam meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Aceh Tamiang.
Berapapun donasi Anda, sangat berarti: Rp100.000 dapat membantu satu keluarga makan beberapa hari Rp200.000 dapat menyediakan kebutuhan kebersihan Rp500.000 dapat membantu kebutuhan medis anak-anak Donasi lebih besar akan membantu lebih banyak keluarga bertahan hidup Tidak ada bantuan yang terlalu kecil. Setiap kepedulian adalah cahaya di tengah kegelapan meeka.
Uluran Tangan Anda, Harapan Baru Bagi Mereka Mari bersama-sama kita bangkitkan kembali senyum warga Kampung Sulum. Mari kita tunjukkan bahwa mereka tidak sendiri. Karena di balik setiap duka, selalu ada harapan. Dan harapan itu bernama: kepedulian kita semua.
Di tengah lumpur dan air mata, uluran tangan kita dapat menyalakan kembali harapan bagi korban banjir Aceh Tamiang.
Kondisi Para Korban Banjir Bandang Aceh Tamiang Banjir bandang yang melanda Kampung Sulum, Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, telah meninggalkan luka mendalam bagi ratusan keluarga. Dalam sekejap, kehidupan yang mereka bangun bertahun-tahun lenyap diterjang arus deras bercampur lumpur. Saat ini, sebagian besar warga hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Sekitar 518 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Rumah mereka rusak parah, bahkan banyak yang rata dengan tanah. Tidak sedikit warga yang kini hanya berteduh di tenda darurat atau menumpang di rumah kerabat. Harta benda seperti pakaian, perabot rumah tangga, hingga dokumen penting ikut hanyut terbawa banjir.
Banyak keluarga hanya memiliki pakaian yang melekat di badan. Anak-anak tidak lagi memiliki tempat tidur, mainan, bahkan buku sekolah mereka hilang tak tersisa. Di pos-pos pengungsian, para korban menghadapi kesulitan besar.
Persediaan makanan terbatas, air bersih sulit didapat, dan fasilitas sanitasi sangat minim. Kondisi ini memicu munculnya berbagai gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak dan lansia. Penyakit seperti diare, demam, dan infeksi kulit mulai banyak dikeluhkan.
Tanpa akses listrik dan internet, warga juga kesulitan berkomunikasi untuk meminta bantuan atau menghubungi keluarga. Para ibu terlihat kelelahan menjaga anak-anak mereka. Para ayah kebingungan memikirkan masa depan keluarga. Trauma masih menyelimuti, terutama bagi anak-anak yang menyaksikan langsung rumah mereka hancur diterjang air.
Kebutuhan mendesak yang sangat mereka perlukan saat ini antara lain: Makanan siap konsumsi Air bersih Obat-obatan Perlengkapan bayi Pakaian layak pakai Peralatan kebersihan Tempat berteduh yang lebih aman Di tengah segala keterbatasan itu, para korban hanya berharap bisa kembali menjalani hidup normal. Namun tanpa bantuan dari berbagai pihak, perjuangan mereka akan terasa sangat berat.
Mereka bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga rasa aman dan kepastian hidup. Uluran tangan dari kita semua adalah satu-satunya harapan agar mereka dapat bangkit kembali dari keterpurukan.
Usaha yang Telah Kami Lakukan untuk Mengumpulkan Dana Sejak kabar banjir bandang di Kampung Sulum, Aceh Tamiang, sampai kepada kami, hati kami tergerak untuk segera bertindak. Melihat begitu banyak keluarga kehilangan rumah, makanan, dan kebutuhan dasar, kami sadar bahwa mereka tidak bisa dibiarkan berjuang sendirian.
Langkah pertama yang kami lakukan adalah menggalang kepedulian di lingkungan terdekat. Kami mulai menyampaikan informasi kepada keluarga, sahabat, dan rekan kerja mengenai kondisi para korban.
Melalui pesan singkat dan media sosial, kami membagikan cerita, foto, serta laporan situasi agar semakin banyak orang memahami betapa mendesaknya bantuan bagi warga Aceh Tamiang. Kami juga membentuk tim kecil relawan yang bertugas mengoordinasikan pengumpulan donasi. Kotak-kotak donasi ditempatkan di masjid, sekolah, dan beberapa tempat umum.
Selain itu, kami membuka rekening khusus agar masyarakat dapat menyalurkan bantuan dengan lebih mudah dan transparan. Tidak hanya mengandalkan donasi uang, kami mengajak masyarakat untuk menyumbangkan barang-barang kebutuhan pokok seperti beras, mie instan, pakaian layak pakai, selimut, dan obat-obatan.
Setiap hari, sedikit demi sedikit bantuan mulai terkumpul. Meskipun belum besar, semangat gotong royong terus tumbuh. Kami juga menghubungi berbagai pihak seperti komunitas sosial, organisasi pemuda, dan pelaku usaha lokal untuk bekerja sama.
Beberapa di antaranya ikut membantu menyebarkan informasi penggalangan dana, bahkan ada yang memberikan sumbangan langsung berupa sembako dan perlengkapan kebersihan. Dalam proses ini, kami belajar bahwa kepedulian masyarakat sebenarnya sangat besar. Banyak orang tergerak setelah membaca kisah para korban.
Anak-anak sekolah menyisihkan uang jajan mereka, ibu-ibu rumah tangga menyumbangkan bahan makanan, dan para pekerja menyisihkan sebagian rezekinya. Walaupun berbagai upaya telah dilakukan, kebutuhan di lapangan masih sangat banyak.
Dana dan bantuan yang terkumpul belum sebanding dengan jumlah korban yang mencapai ratusan keluarga. Oleh karena itu, kami terus berusaha memperluas jangkauan penggalangan dana agar semakin banyak pihak yang ikut membantu.
Kami percaya, dengan kerja sama dan kepedulian bersama, sedikit demi sedikit beban para korban dapat diringankan. Setiap rupiah dan setiap bantuan yang terkumpul adalah wujud nyata bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah ini.
Berapa Biaya yang Dibutuhkan? Untuk membantu meringankan beban para korban banjir bandang di Kampung Sulum, Aceh Tamiang, kami menargetkan penggalangan dana sebesar: Rp30.000.000 (Tiga Puluh Juta Rupiah) Jumlah ini disesuaikan dengan kebutuhan mendesak di lapangan dan jumlah warga terdampak yang mencapai sekitar 518 Kepala Keluarga. Dana tersebut akan digunakan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan dasar para korban selama masa darurat.
Bagaimana Rencana Penggunaannya? Dana yang terkumpul akan kami kelola secara transparan dan digunakan untuk tiga kebutuhan utama sebagai berikut:
1. Bantuan Bahan Pokok (Sembako) – Rp24.250.000 Sebagian besar dana akan difokuskan untuk kebutuhan pangan, antara lain: Beras Minyak goreng Gula Mie instan Telur Makanan kaleng siap saji Bantuan sembako ini akan dikemas dalam bentuk paket dan dibagikan langsung kepada keluarga korban agar mereka dapat bertahan di masa sulit ini.
2. Kebutuhan Medis dan Kebersihan – Rp4.300.000 Kondisi di pengungsian sangat rentan menimbulkan penyakit, terutama bagi anak-anak dan lansia. Oleh karena itu dana juga akan digunakan untuk: Obat-obatan dasar (terutama obat diare dan demam) Perlengkapan P3K Sabun, deterjen, dan alat kebersihan Masker kesehatan Pampers dan kebutuhan bayi Langkah ini penting untuk mencegah meluasnya penyakit akibat buruknya sanitasi pascabencana.
3. Kebutuhan Pengungsian – Rp1.450.000 Untuk mendukung kenyamanan sementara para korban, dana juga dialokasikan untuk: Selimut bagi pengungsi Air minum bersih Perlengkapan darurat lainnya Bantuan ini diharapkan dapat sedikit mengurangi penderitaan warga yang saat ini masih tinggal di tenda-tenda darurat.
Komitmen Transparansi Seluruh penggunaan dana akan: Dicatat secara rinci Disertai bukti pembelian Dilaporkan kepada para donatur Disalurkan langsung kepada korban secara tepat sasaran Kami berkomitmen bahwa setiap rupiah dari donasi akan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Harapan Kami Dengan dukungan dana sebesar Rp30.000.000 ini, kami berharap dapat: Membantu ratusan keluarga bertahan hidup Meringankan beban para pengungsi Memberikan harapan baru bagi korban untuk bangkit kembali Namun jika dana yang terkumpul melebihi target, seluruh kelebihan dana akan tetap digunakan untuk kebutuhan korban bencana seperti perbaikan hunian sementara atau tambahan bantuan logistik.
Mengapa Galang Dana Ini Sangat Dibutuhkan? Banjir bandang yang melanda Kampung Sulum, Aceh Tamiang, bukan hanya sekadar bencana alam biasa. Peristiwa ini telah menghancurkan kehidupan ratusan keluarga dalam waktu yang sangat singkat.
Dalam hitungan jam, rumah, harta benda, dan sumber penghidupan mereka lenyap tak tersisa. Saat ini lebih dari 518 kepala keluarga berada dalam kondisi darurat. Banyak dari mereka kehilangan tempat tinggal, tidak memiliki pakaian layak, serta kesulitan mendapatkan makanan dan air bersih.
Tanpa bantuan dari luar, mereka tidak akan mampu bertahan. Galang dana ini sangat dibutuhkan karena:
1. Kebutuhan dasar korban belum terpenuhi Para pengungsi masih kekurangan makanan, obat-obatan, perlengkapan kebersihan, dan kebutuhan sehari-hari. Bantuan yang ada belum mencukupi untuk menjangkau seluruh korban.
2. Kondisi kesehatan semakin mengkhawatirkan Minimnya sanitasi dan air bersih menyebabkan banyak warga, terutama anak-anak dan lansia, mulai terserang penyakit seperti diare dan infeksi kulit. Mereka membutuhkan obat-obatan dan perlengkapan kesehatan secepatnya.
3. Para korban kehilangan segalanya Sebagian besar warga tidak lagi memiliki rumah untuk pulang. Mereka hidup di tenda darurat tanpa kepastian. Untuk bangkit kembali, mereka memerlukan dukungan nyata dari kita semua.
4. Akses terhadap kebutuhan sangat terbatas Listrik dan jaringan komunikasi sempat terputus, jalur distribusi terganggu, sehingga korban kesulitan mendapatkan bantuan secara mandiri. Karena itu, dukungan dana menjadi jalan tercepat untuk menghadirkan bantuan ke lokasi.
5. Pemerintah dan relawan membutuhkan dukungan masyarakat luas Besarnya dampak bencana membuat bantuan yang ada belum mampu menjangkau seluruh kebutuhan. Partisipasi masyarakat melalui donasi menjadi sangat penting untuk menutup kekurangan tersebut.
Galang dana ini bukan sekadar mengumpulkan uang, tetapi tentang menyelamatkan kehidupan, memulihkan harapan, dan membantu saudara-saudara kita agar dapat bangkit kembali dari keterpurukan.
Setiap rupiah yang terkumpul akan berubah menjadi: Makanan untuk keluarga yang kelaparan Obat bagi anak-anak yang sakit Air bersih untuk bertahan hidup Selimut bagi mereka yang kedinginan Harapan baru untuk memulai kembali Tanpa kepedulian kita, penderitaan mereka akan semakin panjang. Karena itulah galang dana ini benar-benar sangat dibutuhkan sekarang, bukan nanti.
Catatan: Seluruh foto yang digunakan dalam galang dana ini adalah dokumentasi pribadi yang diambil langsung di lokasi bencana















