banner 1000x130
Berita  

Wamenpar : Dari Bali Transformasi Pariwisata Indonesia Bali Melalui Laut dan Tata Kelola Berkelanjutan

banner 2500x130

Jimbaran |Nusantara Jaya News – Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia Ni Luh Puspa menegaskan bahwa Bali memiliki posisi strategis tidak hanya sebagai destinasi unggulan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, khususnya dalam mendorong transformasi pariwisata yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan bertanggung jawab terutama ketika menyangkut pengelolaan potensi kelautan.

Hal tersebut disampaikan Wamenpar dalam sambutan pembukaan Bali Ocean Days 2026 Conference & Showcase di Jimbaran, Bali, Jumat (30/1), di hadapan para pemangku kepentingan lintas sektor.

banner 1000x130

Bali Ocean Days 2026, yang memasuki penyelenggaraan ketiganya dan mengusung tema Navigating Solutions for a Regenerative Ocean Future, mempertemukan pembuat kebijakan, praktisi, ilmuwan, pelaku industri, dan inovator untuk membahas bagaimana laut dapat terus menjadi sumber mata pencaharian, aktivitas pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi, dengan tetap mengedepankan prinsip pelestarian bagi generasi mendatang.

Dalam konteks ekonomi biru, sektor pariwisata dipandang sebagai salah satu pilar utama yang bertumpu pada tiga elemen: ekosistem laut yang sehat dan tangguh; industri berbasis laut yang kompetitif; serta kawasan pesisir yang dikelola secara berkelanjutan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal.

Pengembangan wisata bahari (marine tourism), menurut Wamenpar, harus memastikan pertumbuhan ekonomi dan konservasi kelautan berjalan beriringan. Pengelolaan yang tepat tidak hanya menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi lokal, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekosistem dalam jangka panjang.

“Menjaga laut sebagai fondasi pariwisata berkelanjutan adalah tanggung jawab bersama – dipimpin oleh pemerintah, dijalankan lintas kementerian, dan diwujudkan secara kolaborasi oleh industri serta masyarakat di lapangan,” ujar Ni Luh Puspa.

Pemerintah, lanjut dia, menempatkan kolaborasi sebagai fondasi utama pengembangan pariwisata. Dalam penguatan wisata bahari, Kementerian Pariwisata berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, komunitas masyarakat pesisir, pelaku usaha, serta unsur pentahelix pariwisata.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan praktik pariwisata bertanggung jawab, konservasi ekosistem laut, pemberdayaan masyarakat, serta pemanfaatan teknologi sebagai penguat tata kelola destinasi bawah laut.

“Melalui Wonderful Indonesia Diving Directory, kami ingin memastikan wisata bahari Indonesia tumbuh dengan standar keselamatan, kualitas, dan keberlanjutan yang jelas – agar laut kita terlindungi dan destinasi kita semakin dipercaya dunia,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pariwisata pesisir dan laut merupakan kekuatan utama Indonesia, namun sekaligus menjadi ruang yang paling rentan apabila tidak dikelola dengan baik.

Menurut Wamenpar, tantangan utama pariwisata ke depan bukan lagi sekadar mengejar pertumbuhan jumlah wisatawan, melainkan membenahi cara mengelola destinasi. Pendekatan menekankan kualitas pengalaman, keberlanjutan lingkungan, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

“Yang perlu kita jaga adalah agar destinasi kita tetap hidup dalam jangka panjang. Karena itu, isu daya dukung, tata kelola, dan kualitas harus menjadi bagian utama dari cara kita membangun pariwisata,” katanya.

Dalam konteks tersebut, peran pemerintah pusat bukanlah menjanjikan solusi instan, melainkan menyiapkan kerangka kebijakan, standar, dan tata kelola agar transformasi pariwisata berjalan secara bertahap dan konsisten. Arah kerja yang terus didorong antara lain penguatan pengelolaan destinasi, penempatan daya dukung lingkungan sebagai dasar perencanaan, penguatan tanggung jawab industri, serta peneguhan peran masyarakat lokal.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia Bali Ocean Days 2026 Yoke Darmawan menegaskan bahwa ekspektasi terhadap pengembangan wisata bahari ke depan harus dibangun di atas kendali atau sistem kontrol yang konsisten, berbasis pada kapasitas lokasi, dan pembagian tanggung jawab yang jelas dengan pelaku wisata dan pemerintah daerah.
Menurutnya, Bali Ocean Days dirancang sebagai ruang belajar bersama untuk memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata laut berjalan seiring dengan disiplin tata kelola.

“Wisata bahari yang sehat adalah wisata yang dikelola dengan batas, dengan data, dan dengan komitmen bersama antara pemerintah, industri, dan komunitas. Tanpa itu, pariwisata justru akan merusak fondasinya sendiri”. katanya.

Yoke menambahkan bahwa eco-showcase dalam Bali Ocean Days dikurasi untuk menampilkan startup dan inovator yang telah menghadirkan solusi nyata – mulai dari pengelolaan kawasan, teknologi pemantauan, hingga model bisnis yang berpihak pada konservasi – sehingga forum ini tidak berhenti pada wacana, tetapi mendorong implementasi.(red)

banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130