SURABAYA | Nusantara Jaya News —
Dunia hiburan malam Surabaya kembali diwarnai polemik. Seorang DJ tamu bernama She (Septea Nindi) mendadak membatalkan penampilannya secara sepihak menjelang hari pelaksanaan sebuah event yang sedianya digelar di salah satu venue kawasan Kedungdoro, Surabaya.
Pembatalan tersebut terjadi ketika seluruh persiapan acara telah berjalan. Pihak venue bahkan mengaku sudah “mengunci” jadwal penampilan DJ She, menyusun konsep acara, serta menyebarkan flyer promosi yang menampilkan nama dan wajah DJ tersebut sebagai magnet utama bagi pengunjung.
Menurut pengelola venue, keputusan pembatalan itu sangat mengejutkan, mengingat sebelumnya telah terjalin komunikasi intens dan kesepakatan awal sebelum materi promosi dipublikasikan ke publik.
“Kami tidak mungkin berani membuat flyer kalau belum ada lampu hijau. Sudah ada obrolan soal tanggal, konsep, sampai teknis. Di Surabaya, sistemnya jelas, DJ dibayar saat datang dan tampil. Itu sudah jadi kebiasaan,” ujar Wahyu, perwakilan manajemen venue, Jumat (6/2/2026).
Ia menjelaskan, dalam industri hiburan malam Surabaya, skema pembayaran pada hari pelaksanaan atau on the spot merupakan praktik lazim. Tidak semua penampilan diawali dengan transfer uang muka atau down payment (DP). Namun, kesepakatan lisan maupun komunikasi melalui pesan digital biasanya sudah dianggap sebagai bentuk komitmen sebelum promosi dilakukan.
“Masalahnya muncul ketika flyer sudah menyebar luas. Nama DJ sudah dipakai, reservasi meja mulai masuk. Tiba-tiba dinyatakan tidak bisa hadir tanpa alasan yang kami anggap memadai,” tegas Wahyu. (6/2)
Menurutnya, pembatalan sepihak ini bukan sekadar soal batal tampil, melainkan menimbulkan efek domino bagi penyelenggara acara. Mulai dari potensi kerugian biaya promosi, turunnya kepercayaan pelanggan, hingga risiko tercorengnya citra brand venue.
“Dalam industri yang mengandalkan hype dan konsistensi line-up, satu nama yang batal bisa berdampak besar terhadap animo pengunjung,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Wahyu menyebut kasus serupa bukan pertama kali terjadi di Surabaya. Persoalan komitmen dan kejelasan kontrak masih menjadi masalah klasik di industri hiburan malam. Banyak event berjalan hanya berdasarkan kesepakatan informal tanpa perjanjian tertulis yang mengikat secara hukum.
“Kalau sudah masuk tahap flyer, itu artinya secara etika sudah deal. Mau ada DP atau tidak, itu urusan teknis. Komitmen tetap komitmen,” ujar seorang promotor lokal yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi, DJ She membenarkan adanya pembatalan penampilan tersebut. “Benar,” ujarnya singkat melalui pesan singkat.
Ketika ditanya alasan pembatalan, DJ She menyebut adanya kepentingan keluarga yang bersifat mendesak. “Urgensi keluarga. Sangat urgent,” katanya.
Namun, pernyataan DJ She justru menuai perhatian publik setelah yang bersangkutan secara terbuka menantang agar pemberitaan terkait dirinya diviralkan. Bahkan, DJ She menyebut akan melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk menindaklanjuti pemberitaan tersebut.
“Tolong di-up dong mas beritanya, biar aku viral. Minta tolong media yang lain juga dibantu follow up berita ini. Nanti aku minta pak (ketua LSM) buat bantu follow up berita aku ini,” tandasnya.
Polemik ini pun memantik diskusi luas di kalangan pelaku industri hiburan malam Surabaya terkait pentingnya profesionalisme, etika kerja, serta perlunya kontrak tertulis agar kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.(Red)















