DENPASAR |Nusantara Jaya News – Upaya mewujudkan visi “Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju” kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan festival budaya yang memadukan nilai spiritual, parade budaya akulturasi, serta pemberdayaan UMKM di kawasan Heritage Gajah Mada. Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi kebudayaan sekaligus langkah konkret dalam penguatan inklusivitas ekonomi dan digitalisasi transaksi di ruang publik.(24/2)
Festival yang mengusung tema “Merajut Keberagaman dalam Bingkai Kebhinekaan” ini berlangsung selama dua hari, 21–22 Februari 2026. Pelaksanaannya merupakan hasil kolaborasi antara Bank Indonesia Provinsi Bali dan Yayasan Arsitektur Bali, dengan dukungan Pemerintah Kota Denpasar. Kegiatan ini tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga ruang edukasi digitalisasi pembayaran serta pelindungan konsumen bagi masyarakat luas.
Rangkaian acara menghadirkan berbagai ritual spiritual, parade barongsai dan budaya akulturasi, hingga aktivitas UMKM yang menampilkan kekayaan kuliner dan produk kreatif lokal. Menariknya, festival ini juga memperkenalkan pemanfaatan QRIS sebagai kanal digital untuk pemberian angpao barongsai, sebagai simbol harmonisasi tradisi dengan inovasi sistem pembayaran modern.
Kegiatan ini turut dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Denpasar, Sekretaris Daerah Kota Denpasar, serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya. Kehadiran para pemangku kebijakan tersebut menunjukkan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap integrasi pelestarian budaya dengan transformasi digital yang inklusif.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen bersama dalam merawat keberagaman umat di Bali yang disatukan melalui inovasi sistem pembayaran.
Menurutnya, sinergi digitalisasi pembayaran dengan pelestarian budaya tidak hanya menghadirkan pengalaman transaksi yang mudah, cepat, dan aman, tetapi juga disertai edukasi pelindungan konsumen melalui kampanye Eling Raga.
“Melalui kampanye Eling Raga dengan pesan Kalau Ragu, Stop Dulu, kami mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital. QRIS tidak pernah meminta data pribadi sensitif seperti NIK, OTP, PIN, maupun data kartu. Jika ada permintaan seperti itu, hentikan transaksi,” tegas Erwin di hadapan para pengunjung festival.
Selain kepada masyarakat, edukasi digitalisasi juga diperluas kepada para pelaku UMKM yang berpartisipasi dalam festival. Melalui pendampingan langsung, pelaku usaha diajak memahami dan mempraktikkan penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran non-tunai yang praktis, efisien, dan transparan. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat adopsi QRIS di kalangan UMKM serta mendorong kebiasaan transaksi yang aman dan bertanggung jawab dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti nyata harmonisasi antara digitalisasi dan pelestarian budaya dalam perayaan hari besar keagamaan serta keberagaman umat di Bali. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem merchant kuliner menuju program QRIS Jelajah Indonesia 2026.
Ke depan, model kolaborasi berbasis budaya dan komunitas seperti ini diharapkan dapat terus diperluas untuk menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat. Dengan demikian, penguatan ekosistem digital yang inklusif dan berkelanjutan di Bali dapat terwujud seiring dengan pelestarian nilai-nilai budaya lokal yang menjadi identitas Kota Denpasar. (Red)
















