banner 1000x130

Survei Bank Indonesia: Harga Properti Residensial Primer di Bali Tetap Solid pada Triwulan IV 2025

banner 2500x130

Bali |Nusantara Jaya News — Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dirilis oleh Bank Indonesia Provinsi Bali menunjukkan bahwa harga properti residensial di pasar primer pada Triwulan IV 2025 tetap berada dalam kondisi solid. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang tercatat tumbuh sebesar 1,06 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Meski sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan pada Triwulan III 2025 yang mencapai 1,08 persen (yoy), kinerja tersebut menandakan stabilitas sektor properti residensial di Bali masih terjaga.

banner 1000x130

Tetap solidnya pertumbuhan IHPR pada periode laporan ditopang oleh kenaikan harga pada seluruh segmen properti residensial.

Properti berukuran kecil dengan luas bangunan hingga 36 meter persegi mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 1,57 persen (yoy). Sementara itu, properti berukuran menengah dengan luas bangunan antara 36 hingga 70 meter persegi mengalami kenaikan sebesar 1,12 persen (yoy).

Adapun properti berukuran besar dengan luas bangunan di atas 70 meter persegi juga menunjukkan peningkatan harga sebesar 0,82 persen (yoy).

Kenaikan IHPR pada Triwulan IV 2025 terutama didorong oleh meningkatnya harga bangunan sebagai dampak dari kenaikan faktor produksi.

Sejalan dengan triwulan sebelumnya, mayoritas responden dalam survei menyatakan bahwa kenaikan harga bahan bangunan serta upah tenaga kerja menjadi kontributor utama dalam mendorong peningkatan harga unit rumah di pasar primer. Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan biaya di sisi pengembang yang kemudian diteruskan ke harga jual properti.

Di tengah tren kenaikan harga tersebut, pelaku usaha atau developer properti di Bali menilai terdapat sejumlah faktor yang masih menjadi penghambat penjualan properti residensial primer.

Faktor-faktor tersebut antara lain tingkat suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), keterbatasan ketersediaan lahan, beban pajak, serta besaran uang muka rumah yang dinilai cukup membatasi daya beli sebagian konsumen.

Dari sisi pembiayaan pembangunan, hasil survei menunjukkan bahwa sumber pendanaan utama pengembangan properti residensial di Bali masih didominasi oleh dana internal pengembang dengan pangsa mencapai 55,9 persen.

Selain itu, pendanaan juga berasal dari pinjaman bank, dana dari konsumen, serta pinjaman dari lembaga keuangan nonbank. Struktur pembiayaan ini menunjukkan bahwa pengembang masih mengandalkan modal sendiri dalam menjaga keberlanjutan proyek-proyek properti.

Sementara dari sisi konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tetap menjadi pilihan utama dalam pembelian rumah. Porsi pembiayaan melalui KPR tercatat mencapai 62,4 persen dari total pembiayaan properti residensial.

Kondisi ini menegaskan peran penting sektor perbankan dalam mendukung akses masyarakat terhadap kepemilikan rumah, sekaligus menjadi indikator bahwa kebijakan suku bunga dan kemudahan kredit akan sangat memengaruhi dinamika pasar properti residensial di Bali ke depan.

Secara keseluruhan, kinerja IHPR yang tetap tumbuh positif pada Triwulan IV 2025 mencerminkan ketahanan sektor properti residensial primer di Bali. Ke depan, stabilitas harga bahan bangunan, kebijakan suku bunga KPR, serta dukungan pembiayaan yang berkelanjutan diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan sektor ini di Provinsi Bali. (Red)

banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130