SIDOARJO – Ramadhan identik dengan kepedulian dan penguatan empati sosial. Namun, makna solidaritas menjadi lebih terasa ketika bantuan tidak hanya berpusat di kota, melainkan menjangkau wilayah-wilayah terpencil.
Dalam rangkaian Tarhib Ramadhan, Yayasan Baitul Maal PLN UIP JBTB menyalurkan bantuan sembako kepada warga Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Kamis (12/2/2026). Untuk mencapai dusun tersebut, tim harus menempuh perjalanan menggunakan perahu selama kurang lebih satu jam.
Akses yang terbatas menuju wilayah pesisir itu menjadi gambaran bahwa tidak semua masyarakat memiliki kemudahan yang sama dalam memperoleh bantuan sosial. Tantangan jarak dan transportasi air menjadi bagian dari perjuangan distribusi.
Sebanyak 62 mustahik menerima paket sembako dalam kegiatan tersebut. Warga tampak antusias menyambut kedatangan rombongan. Bagi mereka, bantuan tersebut bukan sekadar nilai materi, tetapi juga bentuk perhatian bahwa masyarakat di wilayah terpencil tetap diingat.
Perwakilan masyarakat Dusun Kepetingan, Shodiqin, menyampaikan apresiasi atas kepedulian yang diberikan. Menurutnya, bantuan yang menjangkau wilayah terpencil seperti Kepetingan menjadi bukti bahwa solidaritas sosial benar-benar diwujudkan, bukan sekadar wacana. “Perhatian seperti ini sangat berarti bagi kami yang memiliki keterbatasan akses,” ujarnya.
Sementara itu, Manajer YBM PLN UIP JBTB, Achmad Fatkhurrozi, menegaskan bahwa penyaluran bantuan ke daerah terpencil merupakan bagian dari komitmen agar dana zakat dan sosial keagamaan benar-benar sampai kepada yang berhak.
“Semangat Ramadhan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata. Termasuk kesediaan menjangkau wilayah yang aksesnya terbatas,” tegasnya.
Ia menambahkan, distribusi zakat dan dana sosial keagamaan ke daerah pinggiran bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wujud nyata keadilan sosial. Zakat tidak hanya berbicara tentang kewajiban berbagi, tetapi memastikan bantuan menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
Perjalanan satu jam menggunakan perahu menjadi simbol bahwa solidaritas membutuhkan kesungguhan. Momentum Ramadhan, lanjutnya, mengajarkan bahwa keberagamaan tidak berhenti pada ibadah personal, tetapi juga tercermin dalam kepedulian sosial yang mampu menembus batas jarak dan keterbatasan. (@dex)
















