MEDAN |Nusantara Jaya News – Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Sumatera Utara (Badko HMI Sumut), Yusril Mahendra Butar Butar, mengaku menerima teror dan intimidasi. Hal tersebut, diakui Yusril, terjadi usai menggelar forum diskusi terkait kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis KontraS Andri Yunus.
“Teror dilakukan oleh pihak tak dikenal melalui pesan singkat WhatsApp, yang berisi ancaman serta upaya intimidasi agar kegiatan diskusi tersebut dihapus dari media sosial,” kata Yusril dalam keterangan tertulis, Minggu 29 Maret 2026. Dibeberkan Yusril, pelaku meminta agar video kegiatan diskusi yang diunggah di platform Instagram dan TikTok segera dihapus.
Tidak hanya itu, pelaku juga mengklaim mengetahui keberadaan keluarga serta aktivitas pribadi Yusril, yang mengarah pada bentuk ancaman serius.
Menanggapi hal tersebut, Yusril menegaskan bahwa dirinya tidak akan gentar menghadapi segala bentuk tekanan. “Saya tidak pernah takut terhadap bentuk teror apa pun. Kami berdiri bersama Andri Yunus untuk mencari keadilan dan kebenaran,” tegasnya. Ia juga menyayangkan adanya upaya pembungkaman terhadap ruang diskusi publik yang seharusnya menjadi sarana intelektual dalam mengawal isu-isu keadilan. Menurutnya, tindakan intimidasi ini justru memperkuat dugaan adanya pihak-pihak yang ingin menutupi fakta dalam kasus penyiraman air keras yang tengah menjadi perhatian publik. “Ini bukan hanya soal individu, tapi soal keberanian memperjuangkan kebenaran. Kami akan tetap berada di garis depan,” tutupnya. Perbikin narasi agar tidak sama
Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Sumatera Utara (Badko HMI Sumut), Yusril Mahendra Butar Butar, mengungkapkan bahwa dirinya mengalami teror dan intimidasi.
Menurut Yusril, kejadian tersebut muncul setelah ia menyelenggarakan forum diskusi yang membahas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andri Yunus.
“Ancaman datang dari pihak yang tidak dikenal melalui pesan WhatsApp. Isinya berupa intimidasi serta permintaan agar kegiatan diskusi itu dihapus dari media sosial,” ujar Yusril dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 29 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa pelaku mendesak agar video diskusi yang telah diunggah di Instagram dan TikTok segera diturunkan.
Tak hanya itu, pelaku juga mengaku mengetahui lokasi keluarga serta aktivitas pribadi Yusril, yang dinilai sebagai bentuk ancaman serius.
Meski demikian, Yusril menegaskan bahwa dirinya tidak akan mundur menghadapi tekanan tersebut.
“Saya tidak takut dengan teror seperti ini. Kami tetap berdiri bersama Andri Yunus untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran,” tegasnya.
Ia juga menyayangkan adanya upaya pembatasan terhadap ruang diskusi publik, yang seharusnya menjadi wadah intelektual dalam mengawal isu-isu keadilan.
Menurutnya, tindakan intimidasi tersebut justru menguatkan dugaan adanya pihak tertentu yang berupaya menutupi fakta dalam kasus penyiraman air keras yang sedang menjadi sorotan publik.
“Ini bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan soal keberanian dalam memperjuangkan kebenaran. Kami akan terus berada di barisan terdepan,” pungkasnya.
(IHB)

















