Surabaya |Nusantara Jaya News – Momentum Ramadhan 1447 Hijriah menjadi ruang refleksi mendalam bagi dunia pendidikan Jawa Timur. Di sela kunjungannya meninjau SMKN 4 Surabaya, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai mendapati sebuah pemandangan sederhana namun sarat makna: sepasang sepatu murid yang telah koyak dan tak lagi layak pakai, tersusun rapi di rak depan kelas.
Pemandangan itu bukan sekadar potret keterbatasan ekonomi, melainkan cerminan keteguhan dan semangat seorang anak dalam menuntut ilmu. Meski dengan kondisi serba terbatas, sang murid tetap datang ke sekolah, tetap duduk di bangku kelas, dan tetap belajar dengan penuh harapan.
Di bulan suci Ramadhan, momen kecil tersebut menjadi pengingat kuat bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya berbicara tentang kelengkapan fasilitas, tetapi juga tentang kepekaan, empati, dan kepedulian terhadap sesama.
Aries Agung Paewai mengungkapkan bahwa kejadian tersebut menyentuh nurani dan menjadi refleksi bersama bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
Menurutnya, setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan bermartabat, tanpa harus terhambat oleh kondisi ekonomi maupun keterbatasan pribadi.
“Di balik sepatu yang koyak itu, ada semangat besar yang tidak boleh kita abaikan. Tugas kita adalah memastikan semangat itu tidak padam hanya karena keadaan,” ujar Aries di sela kunjungannya.(2/3)
Ia menekankan bahwa kehadiran pemerintah dan tenaga pendidik harus benar-benar dirasakan oleh peserta didik, terutama mereka yang membutuhkan perhatian lebih.
Melalui refleksi sederhana tersebut, Aries berharap tumbuh kesadaran kolektif bahwa setiap keterbatasan harus dijawab dengan dukungan nyata. Kepedulian terhadap peserta didik, penguatan peran guru, serta lingkungan belajar yang humanis menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pendidikan yang berkeadilan dan berdampak.
Ramadhan, lanjutnya, bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi juga momentum memperkuat empati sosial. Dunia pendidikan diharapkan mampu menjadikan nilai-nilai Ramadhan sebagai spirit untuk memastikan tidak ada anak yang kehilangan semangat belajarnya hanya karena keterbatasan yang ia alami.
Dari hal kecil seperti sepasang sepatu koyak, lahir pesan besar tentang pentingnya solidaritas dan keberpihakan pada masa depan generasi muda. Pendidikan yang bermartabat adalah pendidikan yang hadir dengan hati, menjangkau yang lemah, dan memberi harapan bagi setiap anak bangsa untuk terus melangkah maju. (Red)
















