Tabanan |Nusantara Jaya News – Bali kembali menjadi pusat perhatian global dengan
diselenggarakannya Bali AI Summit 2026 di Politeknik International Bali (PIB) College, yang berlangsung selama dua hari, 9-10 april 2026 secara Hybrid, di Kampus PIB College, Jalan Pantai Nyanyi Tabanan Bali.
Bali AI Summit 2026 adalah sebuah forum strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi industri, pemerintah, dan inovator teknologi untuk membahas peran kecerdasan buatan (AI) dalam mendukung ekonomi digital yang berkelanjutan dan pelestarian budaya.
Mengusung tema “AI for Sustainable Cultural & Digital Economy”, acara ini bertujuan untuk
mendorong kolaborasi lintas sektor dalam memanfaatkan AI sebagai katalis pertumbuhan
regional, sekaligus menjaga warisan budaya lokal.
Deputy Director of PIB College, Dr. Paulus Herry Arianto, M.A., CBC, menyampaikan, AI dinilai dapat membantu seseorang dalam mencari informasi, tentunya dengan cara memilah sesuai dengan kebutuhan seseorang, serta AI menurutnya hanya di jadikan tools saja.
“Jadi bagi saya pribadi, AI itu membantu kita.Jadi, sebetulnya AI itu membantu, AI itu hanya sebagai tools saja Ai justru menolong, ” ungkapnya, kamis (9/4/2026).
Ia menyampaikan, Tool digunakan untuk mempermudah seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan atau mencari informasi.
Menurutnya, sajian informasi disajikan AI tentu dapat dipilah, serta dapat disesuaikan dengan apa menjadi kebutuhan seseorang dalam mencari informasi tertentu.
Sementara itu, Director PIB College, Prof. Dr. Ir. Anastasia Sulistyawati, M.S., M.M., M.Mis., M.H., D.Th., Ph.D., D.Ag menyampaikan bahwa AI bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tapi lebih seperti alat yang bisa membantu kita jika digunakan dengan bijak.
Menurutnya, di dunia pendidikan dan industri, penting untuk memahami etika penggunaan AI, seperti memastikan bahwa kita bisa menjelaskan hasil kerja kita dan tidak melanggar hak cipta orang lain.
“Saya melihat AI itu penolong bagi kita tapi kita harus berpikir cocok nggak nyambung nggak. Ai itu bukan barang haram, justru dia menolong, ” ucap Prof Suli.
Selanjutnya, Chairman of Indonesia AI Society, Hendy Risdianto Wijaya, S.T., M.T., Ph.D. menyebutkan, secara prinsip literasi AI perlu tingkatkan, karena secara umum seseorang tidak bisa menghindari AI. Maka menurut hematnya, implementasi harus ada, bedanya adalah literasinya harus siap.
“Jadi orang-orang yang menggunakan punya literasi, karena AI bisa hasilkan sesuatu yang salah. Ya pertanyaannya bagaimana dia tahu itu salah atau nggak, nah literasi itu yang membantu kita”, tutup Hendy.
Kegiatan Bali AI Summit 2026 ini, menghadirkan berbagai sesi diskusi, keynote speech, serta sharing session dari para
pemimpin pemikiran di bidang AI dan transformasi digital, yang juga dihadiri oleh, Dr. Idha Kristianaa, S.Kom., MMSI (Founder & CEO, V-Teki), Prof. Dr. Ir. Meyliana, S.Kom., MM, IPU, CDMS, CBDMP, CMC (Professor of Information System BINUS University), Dr. Ir. Indrajani Sutedja, S.Kom., M.M. (Director of Talent, Indonesian AI Society), Made Herry Erika Sedana, M.Tr.Par., M. Sc. (Director of Partnership & Event PIB College), dan Andy Febrico Bintoro, S.Kom., BCL, MBA (CTO & Co-Founder Maxy Academy). (tik)

















