Surabaya |Nusantara Jaya News — Kasus dugaan perundungan atau bullying brutal yang menimpa seorang siswa kelas 1 SMA Ma’arif Jombang, Kabupaten Jember, menjadi sorotan publik setelah video kekerasan tersebut viral di media sosial.(3/4)
Peristiwa yang terjadi pada Sabtu malam, 28 Maret 2026 sekitar pukul 23.00 WIB itu memicu kemarahan masyarakat, khususnya warga Kencong dan sekitarnya, yang mendesak aparat penegak hukum segera mengusut tuntas kasus tersebut.
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa korban berinisial MFA (15), siswa SMA Ma’arif Jombang Jember, diduga dijemput oleh temannya pada malam hari dan kemudian dibawa ke suatu lokasi. Di tempat tersebut, korban diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah remaja.
Ironisnya, aksi kekerasan tersebut diduga melibatkan sekitar 10 orang remaja yang berasal dari sekolah berbeda di wilayah Jombang dan Kencong. Beberapa di antaranya bahkan disebut masih berada di bawah naungan yayasan pendidikan yang sama dengan korban, meskipun berbeda jenjang pendidikan.
Peristiwa bullying ini disebut berawal dari masalah sepele terkait pesan suara atau voice note (VN). Saat itu, ponsel korban dipinjam oleh temannya untuk mengirim pesan berisi kata-kata tidak pantas kepada pihak lain. Pesan tersebut kemudian memicu kesalahpahaman hingga berujung aksi pengeroyokan terhadap korban.
Situasi semakin memanas setelah video perundungan tersebut beredar luas di media sosial. Video tersebut diduga sengaja disebarkan oleh salah satu terduga pelaku, sehingga memicu kemarahan masyarakat dan menjadi perhatian publik.
Koordinator MAKI Jatim, Heru Satriyo, mengecam keras aksi bullying tersebut dan memastikan pihaknya akan mengawal kasus ini hingga ke ranah hukum.
Menurut Heru Satriyo, tindakan yang dilakukan para pelaku tidak bisa dianggap sebagai kenakalan remaja biasa, melainkan sudah masuk kategori tindakan kekerasan brutal yang harus dipertanggungjawabkan secara hukum.
Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam dan dalam waktu dekat akan mengunjungi rumah korban untuk memastikan kondisi korban serta memberikan pendampingan agar korban mendapatkan perlindungan.
Heru juga menyatakan bahwa barang bukti terkait kasus tersebut sudah ada, termasuk video kejadian. Selain itu, identitas para terduga pelaku juga sudah dikantongi. Bahkan disebutkan ada beberapa terduga pelaku yang saat ini masih kabur dan dalam pengejaran.
MAKI Jatim menegaskan bahwa proses hukum harus tetap berjalan dan tidak boleh ada kompromi terhadap tindakan kekerasan, apalagi yang dilakukan terhadap pelajar. Pihaknya juga meminta aparat kepolisian segera bertindak tegas agar kasus serupa tidak terulang kembali.
Kasus ini kini menjadi perhatian masyarakat luas, dan warga berharap aparat penegak hukum segera mengambil langkah tegas demi memberikan keadilan bagi korban serta efek jera bagi para pelaku. (Red)

















