banner 1000x130 **************************************** banner 1000x130
Budaya  

Menentang Pemerintah VOC, Dihukum Mati

banner 2500x130 banner 2500x130 banner 1000x130

SURABAYA |Nusantara Jaya News – Tugu Mengerikan sebagai pesan kepada masyarakat umum jika berkegiatan melawan pemerintah (VOC kala itu). Tugu ini menggambarkan bagaimana seseorang, yang bernama Pieter Erberveld di Batavia (sekarang Jakarta), dihukum mati oleh VOC dengan cara yang mengerikan. Yakni kedua tangan dan kaki dibentangkan dan diikatkan pada masing masing kuda, lalu setiap kuda dipacu. Maka apa yang terjadi, kedua tangan dan kaki terlepas dari tubuhnya. Hukuman mati ini disaksikan publik.

Hukuman mati mengerikan oleh VOC. Foto: ist

Lantas di atas lahan bekas rumahnya, dibangun monumen yang berbunyi:

banner 300x250
Prasasti Pieter Erberveld. Foto: ist

“Sebagai pengingat ternista akan Pieter Erberveld, si penghianat negeri, yang telah dihukum. Tiada seorang pun, yang boleh mendirikan bangunan kayu, membuat bangunan batu, atau menanam tumbuhan di tempat ini selama-lamanya. Batavia, 14 April 1722.

Prasasti dibuat di atas lahan bekas rumahnya. Foto: ist

Menurut Surat Kabar di jaman Jepang, Unabara, edisi 28 April 1942, bahwa pihak Jepang memandang tugu Erberveld tidak layak dikenang, dan berencana untuk menurunkan tengkorak pada tugu dalam sebuah upacara.

Selanjutnya keseluruhan tugu dirobohkan, namun begitu, prasastinya dipertahankan dan disimpan di pekarangan stadhuis Batavia, yang kini menjadi Museum Fatahillah. Tugu dan prasasti replika kemudian dibangun kembali di tapak asli, kemungkinan di awal atau pertengahan 1970-an. Sekitar tahun 1986 tugu tersebut dipindahkan ke Museum Prasasti Tanah Abang. (Wiki)

Yang menarik adalah prasasti itu ditulis dalam aksara Latin berbahasa Belanda dan Aksara Jawa berbahasa Jawa, yang kalau ditransliterasi berbunyi:

꧄ꦥꦺꦔꦼꦠ꧀ ꧊ꦱꦏꦶꦥꦺꦭꦶꦗꦼꦗꦼꦤ꧀ꦤꦼꦱ꧀‌ꦩꦫꦶꦁꦱꦶꦗꦄꦶꦭ꧀‌ꦲꦶꦤꦼꦒꦫ꧈ ꦏꦁꦲꦸꦮꦶꦱ꧀‌‍ꦲꦺꦴꦏꦸꦩ꧀꧈ ꦥꦶꦠꦺꦂꦄꦺꦂꦧꦺꦂꦥ꦳ꦺꦭ꧀꧈ꦥꦕꦸꦃ‌ꦮꦤ꧀‌ꦲꦤ꧀ꦤꦏꦁꦔꦝꦼꦒ꧀ꦒꦏꦼꦤ꧀‌ꦄꦸꦩ꧀ꦩꦃꦒꦼꦝ꧀ꦝꦺꦴꦁ꧈ ꦲꦠꦮꦏꦪꦸꦥꦥꦤ꧀꧈ ꦲꦠꦤ꧀ꦤꦥꦶꦲꦤ꧀ꦤꦤꦤ꧀ꦢꦸꦂ꧈ ꦲꦶꦁꦱꦗꦿꦺꦴꦤ꧀ꦤꦶꦲꦼꦒꦺꦴꦤ꧀ꦤꦶꦏꦶ꧈ ꦲꦶꦩꦼꦁꦏꦺꦴꦠꦼꦏꦲꦶꦱꦲꦤꦤ꧀ꦤꦶꦢꦶꦤ꧀ꦤ꧋ ꦠꦶ ꧋ ꦠꦶ ꧋

ꦧꦠꦮꦶꦪꦃ꧈ ꦠꦒꦭ꧀ꦥꦶꦥꦠ꧀ꦧꦼꦭ꧀ꦭꦱ꧀꧈ ꦮꦸꦭꦤ꧀‍ꦄꦥꦿꦶꦭ꧀꧈ ꦲꦶꦠꦲꦸꦤ꧀‌‍ꦱꦺꦮꦸꦥꦶꦠꦸꦁꦔꦠꦸꦱ꧀ꦫꦺꦴꦭꦶꦏꦸꦂ꧋

Pénget: saki(ng) péli(ng) jejennes maring si jail i(ng) negara, ka(ng) uwis kokum, pitér érbérfél, pacuhwan ana kang ngadheggaken umah gedhong, atawa kayu papan, atanapi ananandur, ing sajroni(ng) e(ng)gon iki, i(ng) mengko teka i(ng) sahana ni(ng) dina. titi. Batavia, ta(ng)gal pi(ng) pat belas, wulan april, i(ng) tahun séwu pitungatus ro likur”.

Sebagaimana tertulis pada prasasti adalah aksara Jawa yang belum disempurnakan.

Aksara Jawa untuk pengumuman publik, dibuat oleh VOC. Foto: ist

“Iku aksara Carakan yang belum disempurnakan, sebab satu bagian kaki aksaranya belum seperti sekarang”, jelas Ali Topan pegiat aksara dari Gresik.

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Ita Surojoyo dari Puti Aksara Rajapatni.

“Jawa kuna = Kawi”, jelas Ita singkat.

Latar belakang di balik pendirian tugu itu menarik. Yaitu tersebutlah dua pemuda, Pieter Erberveld yang berkulit putih berdarah Jerman, dan Raden Kertadria, orang pribumi yang berasal dari Jawa, keturunan Sunan Kalijaga.

Kedua orang ini sudah lama dikenal dan disegani penduduk karena sikap-sikapnya yang penuh sopan santun. Keduanya suka membela rakyat.

Pieter Erberveld adalah pemuda yang gigih dan rajin membantu usaha-usaha orang tuanya dalam bidang penyamakan kulit dan pabrik sepatu. Keluarga yang sederhana ini, tinggal di dekat sebuah gereja, Gereja Sion, di Jalan Jakarta. Ayahnya berdarah Jerman, tapi ibunya berasal dari Thailand, yang bernama Elizabeth Cornelist.

Tak diketahui pasti kapan Pieter dilahirkan. Banyak yang menduga bertepatan dengan tanggal dia dibaptis sebagai seorang Nasrani.

Buku sumber . Foto: ist

“Hal ini terjadi jauh hari sebelum dia memeluk Islam. Lantaran pergaulannya yang luas dan intens dengan penduduk setempat. Kemungkinan dia memutuskan untuk menjadi seorang Muslim,” tulis Zaenuddin HM dalam bukunya, “Kisah-Kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe”.

Pieter Erberveld cukup berjasa terhadap penduduk Batavia, yakni memberikan bantuan untuk pembelian senjata, mengkoordinasi serta memberi semangat kepada orang-orang pribumi dalam menentang dan melawan penindasan Belanda dan VOC-nya.

Pada suatu hari gerakan Pieter Erberveld hampir mencapai tujuan. Senjata-senjata mereka mulai terkumpul di suatu tempat di luar benteng Belanda. Namun tiba-tiba seorang mata-mata Belanda melihatnya dan melaporkan gerakan rahasia ini kepada VOC. Selanjutnya ditangkaplah Pieter Erberveld dan dihukum mati dengan cara yang mengerikan.

Prasasti Pieter Erberveld yang asli saat ini tersimpan di Museum Fatahillah, sementara replika tugu dan prasasti berada di Museum Prasasti di Tanah Abang, Jakarta Pusat. (nng)

banner 1000x130
banner 1000x130 banner 2500x130