SURABAYA |Nusantara Jaya News – Kota Surabaya sekarang ini terbentuk dari kehidupan kampung (desa) dalam proses yang sangat lama, berabad abad. Meski sesungguhnya Kota Surabaya (Stad Van Soerabaia) mulai terbentuk secara fisik di era VOC pada abad 17, yang diawali dengan berdirinya Pos Dagang untuk memantau aktivitas dagang VOC di kawasan kampung Baru Bangilan di Timur Kalimas.

Oldmapsonline.
Sekarang Kampung Baru Bangilan dikenal sebagai salah satu kampung historis di Surabaya Utara, yang berada di area Kota Tua, dan terkenal sebagai bagian dari kawasan perdagangan tua dekat Jalan Panggung Surabaya.


Tepat di ujung Utara Jalan Panggung, masuk ke arah Barat di jalan Gambir lalu gabung ke jalan Kalimas Utara, di sana di tepi sungai pernah ada pelabuhan sungai, yang dilengkapi dengan bangunan pemerintah Hindia Belanda berupa Syahbandar. Pada bangunan ini masih terdapat logo pemerintah mulai logo resmi Surabaya dan Batavia. Di seberang sungai dari bangunan Syahbandar inilah pernah berdiri Pos Dagang VOC (Asia Maior: Soerabaja 1900-1950).

Sebagai pelabuhan sungai (sebelum ada pelabuhan laut Tanjung Perak), inilah pelabuhan Surabaya. Sudah barang tentu lingkungan pelabuhan sungai itu ramai dengan aktivitas manusia. Selain ada pasar, juga ada pusat perdagangan dan perputaran ekonomi. Sisa sisa keramaian itu masih dapat dilihat hingga sekarang dengan keaslian bangunan dan kegiatan perdagangannya. Itu semua adalah Pasar Pabean dan ruko ruko panggung di jalan Panggung.

Tidak cuma pasar dan ruko, tapi juga ada pemukiman di gang gang di Pabean, termasuk adanya Kampung Baru Bangilan. Ini termasuk kampung tua Surabaya yang menyokong dinamika Surabaya sejak zaman VOC.

Kampungnya padat dan penuh dengan bangunan bangunan kuno, yang berbentuk rumah rumah. Bangunan bangunan itu menunjukkan adanya komunitas. Berdasarkan peta peta lama yang dibuat di era kolonial, kawasan ini sudah menggambarkan lingkungan padat. Ini tergambar adanya rumah rumah bergerombol. Perkampungan padat ini semakin padat ketika semakin ke arah selatan yang keberadaannya diantara dua sungai Kalimas dan Pegirian.

Dalam perkampungan padat ini, seiring dengan perkembangan zaman, kepadatan Surabaya semakin bertambah dan menyebar di luar lingkaran dua sungai. Pada akhirnya semakin luaslah perkampungan Surabaya. Dari kampung kampung yang bersifat tradisional ini, lambat laun jadilah Surabaya sebagai Gemeente (Kotapraja), lalu Kotamadya dan akhirnya menjadi Kota Surabaya seperti sekarang.
Surabaya (urban) sekarang adalah jelmaan dari perkampungan (rural). Perlu diakui bahwa Surabaya sudah berkembang dari pemukiman (perkampungan/pedesaan) lalu menjadi kota pelabuhan penting selama era kolonial Belanda, di mana interaksi sosial dan ekonomi di kampung-kampung menjadi fondasi perkembangan ekologi kota.

Dengan demikian, keberadaan dan perkembangan kampung-kampung inilah yang secara bertahap membentuk Surabaya menjadi kota besar yang kita kenal sekarang. Pemerintah Kota Surabaya bahkan mengelola beberapa kampung tersebut sebagai situs wisata sejarah dan cagar budaya untuk melestarikan warisan sejarahnya.
Isa Ansori, pengamat pendidikan, dalam tesisnya mengatakan bahwa berangkat dari asumsi Surabaya sebagai kumpulan kampung kampung, akhir menjelma menjadi kadipaten, lalu menjadi kota serta metropolitan. (nng).


****************************************












