banner 1000x130
Berita  

KAMMI Sumut Soroti Ketimpangan Anggaran: Gaji Guru Honorer Masih Terabaikan di Tengah MBG Rp335 Triliun

banner 2500x130

Medan | Nusantara Jaya News — Kebijakan anggaran pemerintah kembali menuai sorotan publik. Di tengah kondisi kesejahteraan guru honorer yang masih memprihatinkan, pemerintah justru mengalokasikan anggaran fantastis sebesar Rp335 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ketimpangan ini dinilai menunjukkan belum adanya keberpihakan yang serius terhadap sektor pendidikan, khususnya tenaga pendidik.

Sekretaris Departemen Kebijakan Publik (DKP) KAMMI Sumatera Utara, Aulia Rahmadan S. S menegaskan bahwa guru honorer adalah tulang punggung pendidikan nasional yang selama ini diperlakukan tidak adil oleh negara. Ini beliau sampaikan pada awak media pada Kamis 22 Januari 2026.

banner 1000x130

“Ironis ketika negara dengan mudah menggelontorkan anggaran Rp335 triliun untuk program MBG, sementara ribuan guru honorer masih hidup dengan gaji yang jauh dari kata layak. Ini bukan sekadar persoalan angka, tapi soal keberpihakan dan prioritas kebijakan,” ujar Aulia Rahmadan S. S.

Menurutnya, guru honorer di banyak daerah masih menerima upah di bawah standar kebutuhan hidup layak, bahkan ada yang dibayar per jam mengajar dengan nominal yang tidak manusiawi. Kondisi ini kontras dengan peran strategis guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat konstitusi.

Aulia menambahkan, KAMMI Sumut tidak menolak program MBG secara substansi, namun mempertanyakan keadilan distribusi anggaran dan urgensi kebijakan yang mengabaikan akar persoalan pendidikan.

“Program makan bergizi memang penting, tetapi akan menjadi kebijakan setengah hati jika para guru yang mendidik generasi bangsa justru dibiarkan hidup dalam ketidakpastian ekonomi,” tegasnya.

KAMMI Sumut mendesak pemerintah untuk:

Memprioritaskan peningkatan kesejahteraan guru honorer melalui penggajian yang layak dan berkeadilan.

Melakukan evaluasi ulang anggaran MBG agar tidak mengorbankan sektor strategis lain, khususnya pendidikan.

Menyusun kebijakan pendidikan yang berorientasi jangka panjang, bukan sekadar program populis.

“Jika negara serius ingin menciptakan generasi unggul, maka yang pertama harus dimuliakan adalah gurunya. Tanpa guru yang sejahtera, pendidikan hanya akan menjadi jargon,” tutup Aulia Rahmadan. *(RP)

banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130