banner 1000x130
Berita  

Yassir Ridho: Antara “Tukang Jahit” dan Jockey “Kuda Troya”

banner 2500x130

MEDAN|Nusantara Jaya News — Musda XI Golkar Sumut sudah selesai.
Andar Amin Harahap terpilih secara aklamasi.
Namun politik—seperti biasa—tak pernah benar-benar selesai di palu sidang.

Di luar forum resmi, suhu masih hangat. Bahkan cenderung panas.
Pendukung Hendri Yanto Sitorus dan pendukung Andar Amin Harahap masih menyimpan residu emosional. Sebagian belum sepenuhnya legowo. Isu pun bertebaran di ruang publik, dari yang berbisik sampai yang berteriak lantang.(9/2/26)

banner 1000x130

Ada isu Andar Amin tak direstui Ketua Umum.
Ada isu Musda ulang, mengulang luka Musda X tahun 2020.
Narasi-narasi itu bergerak liar, menumpang di media, grup WhatsApp, hingga obrolan warung kopi.

Padahal, politik memang selalu demikian.
Konotatif. Tentatif. Sulit ditebak.
Hari ini tempe, besok kedelai.
Belum berkilat, sudah berkalam.

Namun satu hal kerap dilupakan: politik tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia hidup dari dinamika yang sengaja diciptakan. Dari kepentingan yang saling bertemu—atau saling menabrak. Maka adagium lama kembali terasa relevan:
musuh paling nyata sering kali justru datang dari dalam satu rumah.

Di tengah pusaran itulah nama Yassir Ridho mencuat.
Bukan karena ia berteriak paling keras.
Justru karena ia terlalu tenang.

Sebagian menuduhnya bermain dua kaki.
Sebagian lagi menudingnya sebagai “jockey” bagi Kuda Troya bang Andar Amin Hrp.
Tuduhan yang, jika ditimbang dengan rekam jejaknya, terasa lebih emosional ketimbang rasional.

Yassir Ridho bukan figur politik instan.
Ia bukan kader yang lahir dari popularitas sesaat.
Ia kader Golkar militan yang memahami betul makna karya dan kekaryaan—bukan sekadar jargon, tapi praktik.

Tahun 2020, ia pernah dimakzulkan dari Ketua Golkar Sumut.
Isu miring datang silih berganti.
Namun tak satu pun ia balas dengan dendam politik.

Satu kalimat yang sering ia ulang dalam berbagai podcast seolah merangkum sikap hidupnya:
“Berpolitik seperlunya, berkawan selamanya.”
Sebuah prinsip yang—sadar atau tidak—selaras dengan gagasan zero enemy.

Pada Pilkada Medan 2024, Yassir Ridho maju sebagai calon Wakil Wali Kota mendampingi Hidayatullah. Ia menawarkan gagasan konkret: menaikkan honor kepala lingkungan dan pembangunan yang berpusat di tiap lingkungan. Program yang diapresiasi, dinilai masuk akal, bahkan brilian.

Ia kalah secara elektoral.
Namun tidak kalah secara nilai.

Karena bagi Yassir Ridho, politik bukan alat untuk mempertahankan kekuasaan.
Ia adalah jalan panjang menuju kesejahteraan.

Beberapa bulan lalu, saat namanya ramai disebut bakal maju sebagai Ketua DPD Golkar Sumut, jawabannya justru mengejutkan:

“Tidak. Saya sudah pernah menang.”

Pernyataan itu bukan merendah.
Ia adalah penegasan sikap.

Penunjukannya sebagai Ketua Harian DPD Golkar Sumut pun terasa pas. Lewat tangan dingin dan komunikasi politiknya, ormas-ormas sayap dan irisan partai yang sempat berjarak mulai kembali merapat. Lobi-lobi berjalan tanpa hiruk-pikuk. Musda digelar relatif kondusif.

Namun ironisnya, justru ketenangan itu memancing kecurigaan.

Sikap wait and see dibaca sebagai siasat.
Kehadirannya di deklarasi dukungan 30 DPD Kabupaten/Kota dianggap keberpihakan mutlak.

Padahal politik tak selalu bisa dibaca dari pigura kamera.

Secara personal, Yassir Ridho juga bersahabat erat dengan H. Buyung—ayah Hendri Yanto Sitorus—kader lama Golkar. Relasi itu tak pernah putus oleh kontestasi.

Dan titik baliknya datang kemarin malam.
Pertemuan Yassir Ridho dengan Sekjen Golkar Rolel Harahap dan Erni Ariyanti Sitorus—Ketua DPRD Sumut sekaligus adik Hendri Yanto Sitorus—menjadi penanda penting.

Rivalitas mencair.
Andar Amin dan Hendri Yanto telah berkomunikasi.
Islah mulai terbangun.
Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, pun telah menyampaikan ucapan selamat.

Sekali lagi, Yassir Ridho menunjukkan kelasnya.
Bukan dengan manuver.
Bukan dengan intrik.
Melainkan dengan gesture dan komunikasi.

Ia tidak memecah.
Ia merajut.

Karena itu, menyebut Yassir Ridho sebagai “Jockey Kuda Troya” jelas keliru.
Ia lebih tepat disebut “Tukang Jahit”—
yang menjahit ego,
menyatukan luka,
dan merawat Golkar sebagai rumah besar yang inklusif.

Dalam politik yang penuh kebisingan,
figur seperti itu bukan ancaman.
Ia justru kebutuhan.(Ihb)

banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130