Harry Suliztiarto perupa 3 D (tiga dimensi) alumnus ITB akan memamerkan karya yang diberinya judul : Berpihak Pada Luka.
Selama sebulan (13 Mei – 13 Juni 2026) Harry arek Suroboyo yang sudah puluhan tahun tinggal di Bandung ini, menggelar karyanya di Galeri Soemardja ITB, Jl. Ganesha 10, Bandung.
Karya-karya Harry Suliztiarto bergerak di lanskap post-secular: akar warisan kosmologi Jawa dipertemukan dengan kegelisahan kontemporer, melahirkan bahasa bentuk yang bukan tradisi, bukan modern, tetapi kesaksian batin yang kembali mencari tempatnya.
Lebih lanjut Harry memaparkan melalui pesan WA yang dikirim ke saya beberapa hari lalu, karya 3D ini tidak memamerkan objek, melainkan menyodorkan situasi.
Materi disusun melalui permufakatan estetika secukupnya agar tanda-tanda sederhana tetap terbaca tanpa menetralkan luka kemanusiaan yang berusaha dinetralkan dan diwajarkan.
Tanda-tanda tersebut diperoleh melalui pertemuan antara benda sebagai fakta keberadaan dalam keheningan ontologis, dan barang sebagai produk sistem manusia.
Penonton tidak ditempatkan sebagai mitra dialog, melainkan sebagai saksi atas mekanisme penurunan martabat manusia yang dilegalkan dan dirutinkan.
Ketidaknyamanan atau kebingungan orientasi menandai bahwa karya masih berfungsi sebagai peringatan diam, bukan hiburan retinal.
Mencermati pesan Harry Suliztiarto, saya menangkap makna dalam isyarat, atau boleh jadi yang tadi disebut ontologis itu, bahwa “luka” bisa saja tentang sejarah yang berdarah jika itu menyangkut komunal, atau psikologi yang teriris manakala hal tersebut bersinggungan dengan personal.
Sebagaimana saya kenal selama ini, selain perupa 3 D, Harry juga dikenal sebagai Bapak Panjat Tebing Indonesia. Atau Pelopor Panjat Tebing Indonesia.
Selain tebing-tebing buatan manusia, tebing-tebing yang diciptakan Tuhan juga didaki dan “ditaklukkannya”, tidak kurang dari Gunung Eigers di Swiss.
Dikenal juga sebagai pendiri sekolah panjat tebing [Skygers] pada tahun 1977 di Bandung bersama Heri Hermanu, Dedi Hikmat, dan Agus R.
Ia memelopori vertical rescue dan ekspedisi Eiger Swiss pada 1986. Dan melakukan ekspedisi legendaris ke dinding utara Gunung Eiger di Swiss, sekaligus merintis jalur Indonesian Road.
Harry dikenal karena keahliannya dalam rock climbing dan vertical rescue.
Kisah hidupnya didokumentasikan dalam film layar lebar. Dan ia pun terus aktif berkarya seni rupa. (SW).













