banner 1000x130

BBTF 2026 Hadirkan 407 Buyer Dunia, Angkat Gastronomi Sebagai Wajah Baru Pariwisata Bali

banner 2500x130 banner 1000x130

Bali — Nusantarajaya.id | Di tengah perubahan pola perjalanan internasional dan semakin ketatnya persaingan antar destinasi, Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 kembali hadir dengan pesan penting dari Bali: masa depan pariwisata pulau ini harus mampu menjaga identitas, memperkuat kepercayaan pasar, dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat serta ekosistem di balik destinasi.

BBTF 2026 akan berlangsung pada 28–30 Mei 2026 di BICC, The Westin Resort Nusa Dua, Bali. Memasuki penyelenggaraan ke-12, BBTF tahun ini mengusung tema “Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Cultures, and Sustainable Heritage.” Kegiatan ini menghadirkan 407 buyer dari 44 negara dan 286 seller dari 4 negara dan 13 provinsi, sekaligus menegaskan posisi Bali sebagai titik temu strategis bagi buyer internasional, pelaku usaha pariwisata, narasi budaya, dan kemitraan destinasi.

banner 1000x130

Momentum pariwisata Bali bergerak merespon dinamika global, di sisi konektivitas, akses menuju Bali terus diperkuat. Pada Maret 2026, Jetstar meluncurkan layanan langsung Sunshine Coast Bali dan Melbourne Avalon Bali, memperluas akses dari pasar Australia yang selama ini menjadi salah satu sumber utama kunjungan ke Bali.

Virgin Australia juga telah mengumumkan layanan langsung Canberra–Bali mulai 22 Juni 2026, sementara Indonesia AirAsia membuka rute Bali–Da Nang mulai 20 Maret 2026, memperkuat konektivitas Bali dengan Asia Tenggara. Dari pasar India, IndiGo telah memperluas koneksi menuju Bali melalui rute Mumbai Denpasar, melengkapi layanan Bengaluru Bali yang telah berjalan sebelumnya.

Ketua DPD ASITA Bali sekaligus Ketua Panitia BBTF 2026, I Putu Winastra, S.AB., M.A.P., menyampaikan bahwa konektivitas menuju Bali perlu dilihat sebagai peluang yang lebih luas bagi ekosistem pariwisata pulau ini.

“Setiap rute baru menuju Bali membawa lebih dari sekadar penumpang. Ia membuka akses pasar, mendorong permintaan hotel, belanja di restoran, pergerakan transportasi, peluang ekonomi kreatif, serta eksposur yang lebih luas bagi komunitas dan destinasi di seluruh Bali. Tugas kita adalah menjaga kualitas produk dan pengalaman berwisata, agar akses tersebut dapat berubah menjadi transaksi yang berkualitas dan nilai yang berkelanjutan.” kata Winastra.

Perkembangan konektivitas tersebut juga menunjukkan pentingnya membaca pasar secara lebih strategis. Australia tetap menjadi pasar utama Bali, sementara India, Eropa, Asia Tenggara, dan pasar-pasar Asia lainnya semakin penting untuk diperkuat melalui produk yang tepat, narasi yang relevan, serta kemitraan yang mampu menjawab kebutuhan wisatawan masa kini.

Bagi BBTF 2026, kondisi ini memperkuat peran platform business-to-business yang mempertemukan pasar, produk, dan kesiapan destinasi. Buyer internasional mencari kejelasan produk, konsistensi layanan, akses penerbangan, keamanan, narasi budaya, dan kemampuan destinasi untuk memberikan pengalaman yang dapat dipercaya.

Tema gastronomi tahun ini memberikan relevansi yang kuat bagi Bali. Kuliner merupakan salah satu cara paling alami bagi pulau ini untuk berbicara kepada dunia – melalui bahan pangan, petani, nelayan, pasar tradisional, upacara, dapur keluarga, para chef, serta keramahtamahan yang menjadi bagian dari cara Bali menyambut tamu. Melalui gastronomi, Bali dapat menunjukkan bahwa pariwisata berakar pada budaya, komunitas, dan kehidupan sehari-hari.

Pada saat yang sama, BBTF 2026 membawa pesan penting bahwa reputasi global Bali harus dijaga dengan kesadaran dan komitmen keberlanjutan yang lebih besar dari seluruh stakeholder pariwisata.

“Bali adalah budaya yang hidup, rumah, dan tanggung jawab. Menjaga Bali tetap sebagai Bali membutuhkan tata kelola destinasi yang lebih baik, lingkungan yang lebih bersih, perencanaan mobilitas yang lebih kuat, penghormatan terhadap budaya, serta komitmen bersama dari pemerintah, industri, komunitas, investor, media, dan wisatawan.”ujar Winastra.

Pembukaan resmi BBTF 2026 tengah dipersiapkan sebagai momentum penting untuk sekaligus berdiskusi langkah serius penanganan permasalahan di Bali. Dengan kehadiran perwakilan tinggi pemerintah, termasuk Wakil Presiden Republik Indonesia, Kementerian Pariwisata, Kementerian Luar Negeri, dan Gubernur Bali, bersama buyer internasional, tourism board, pelaku industri, dan mitra destinasi diharapkan langkah kongret bisa terlaksana.

Bagi kebanyakan wisatawan dan buyer internasional, Bali adalah hubungan emosional pertama mereka dengan Indonesia. Pulau ini membawa pesan yang kuat melalui keramahtamahan, rasa aman, kuliner, layanan, budaya yang hidup, dan kepercayaan yang terbentuk secara langsung.

“Pariwisata adalah diplomasi yang bergerak. Setiap kunjungan ke Bali, setiap hidangan, perjumpaan budaya, dan pertemuan antara buyer dan seller ikut membentuk cara dunia memahami pulau ini dan Indonesia. Dalam pertemuan bisnis BBTF, kesempatan untuk membangun kepercayaan itu terbentuk dalam pengalaman nyata,”tambah Winastra.

Selain agenda bisnis BBTF 2026 juga akan menghadirkan familiarization trip dan post-event tour, yang memungkinkan para buyer mengunjungi destinasi terpilih. Pengalaman langsung ini membantu buyer menilai kualitas produk, standar layanan, kesiapan lokal, serta kedalaman budaya yang tidak dapat dipahami melalui promosi semata.

Diselenggarakan oleh DPD ASITA Bali, BBTF 2026 menjadi platform strategis untuk menunjukkan kesiapan Bali dalam memasuki era pariwisata yang lebih berkualitas, melalui produk yang semakin kuat, narasi destinasi yang lebih kaya, kemitraan yang lebih relevan, serta tanggung jawab bersama untuk menjaga budaya dan komunitas yang membuat Bali begitu berbeda di mata dunia.(red).

banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130