Badung – Nusantarajayanews.id | Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 ke-12 resmi ditutup pada Sabtu (30/5/2026) di Bali International Convention Center, Nusa Dua. Ketua DPD ASITA Bali sekaligus Ketua Panitia BBTF 2026, I Putu Winastra, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan ajang pertemuan bisnis pariwisata terbesar di Indonesia Timur ini.
“Atas nama Komite Organisasi BBTF 2026, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi untuk kejayaan acara tahun ini. Setelah BBTF 2026 berakhir, kami mencatat potensi nilai transaksi sebesar Rp6,9 triliun,” ujar I Putu Winastra dalam sambutan penutupan.
Namun, ia menegaskan nilai Rp6,9 triliun bukanlah satu-satunya tolak ukur keberhasilan BBTF sebagai marketplace travel trade. Nilai sejati BBTF terletak pada perjanjian bisnis, ekspansi pasar, kemitraan strategis, pengembangan produk, dan peningkatan kunjungan wisatawan ke Indonesia di bulan dan tahun mendatang.
Di tengah persaingan destinasi global yang semakin ketat, Bali masih menjadi gerbang utama masuknya wisatawan ke Indonesia. Sementara itu, minat terhadap destinasi di luar Bali terus berkembang. Hal ini menunjukkan kekuatan portofolio pariwisata Indonesia dan relevansi destinasi nasional di pasar internasional.
Buyer saat ini lebih selektif dalam mengambil keputusan. Mereka mencari destinasi yang menunjukkan kesiapan, profesionalisme, konsistensi, dan posisi pasar yang jelas. Produk kompetitif tidak lagi hanya ditentukan oleh harga, tetapi oleh kemampuan menghadirkan pengalaman autentik dan berbeda.
Keberhasilan ke depan akan semakin bergantung pada kemampuan destinasi dalam mengembangkan produk, menjaga standar layanan, meningkatkan aksesibilitas dan infrastruktur, mengelola destinasi secara profesional, serta menguasai market intelligence. Pembeli perlu yakin bahwa pengalaman yang mereka jual dapat konsisten memenuhi standar internasional.
I Putu Winastra menekankan, masa depan pariwisata Bali bukan hanya soal meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi memperkuat penciptaan nilai, meningkatkan kualitas wisatawan, dan melindungi destinasi dalam jangka panjang. Untuk Indonesia, tantangan ke depan adalah menyeimbangkan pertumbuhan dengan keberlanjutan, kesuksesan komersial dengan pelestarian budaya dan lingkungan, serta ekspansi pasar dengan penguatan destinasi.
“Bali memiliki arah strategis yang jelas di bawah kepemimpinan Bapak Gubernur. Fokusnya adalah memperpanjang lama tinggal, memperdalam koneksi dengan destinasi, dan memperluas distribusi pendapatan wisatawan. Ini berkontribusi tidak hanya pada kinerja ekonomi, tetapi juga pada loyalitas destinasi, penghargaan budaya, dan keputusan wisata yang lebih berkelanjutan,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, I Putu Winastra mengumumkan penyelenggaraan BBTF ke-13 yang akan berlangsung pada 9–11 Juni 2027. Mengusung semangat evolusi dari tema gastronomi BBTF 2026, BBTF 2027 yang akan mengangkat tagline “Bali and Beyond Regenerative Travel Elevated”
“Perjalanan regeneratif lebih dari sekadar meminimalkan dampak negatif. Tujuannya adalah memperkuat hasil positif bagi destinasi melalui pemberdayaan komunitas lokal, perlindungan identitas budaya, pelestarian aset alam, dan penciptaan peluang ekonomi inklusif,” tegas Winastra.
BBTF 2027 akan mendorong para pemimpin industri, destinasi, dan pariwisata untuk melampaui ukuran kuantitas pertumbuhan. Fokusnya bergeser pada kualitas pertumbuhan: yaitu bagaimana pariwisata dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat sekaligus menciptakan nilai berkelanjutan bagi komunitas, budaya, dan lingkungan.
“Kami percaya Bali dan Indonesia memiliki posisi unik untuk memimpin konversi ini. Kami menantikan seluruh mitra global, buyer, seller, dan pelaku industri untuk bergabung di BBTF 2027, bersama menciptakan industri pariwisata yang lebih sejahtera, kompetitif, dan berwawasan masa depan,” tutup I Putu Winastra.(tik)













