banner 1000x130
Budaya  

Ludruk Besutan Meimura: Kearifan Lokal yang Terlupakan

banner 2500x130 banner 1000x130

Mojokerto |Nusantara Jaya News – Melalui tema “Batu-batu Bersuara”, kita diajak mendengarkan suara-suara yang kerap terabaikan: suara tradisi, suara desa, dan suara kearifan lokal yang selama ini mungkin tenggelam oleh riuh modernitas.

Sementara “Jajah Deso Milangkori” mengingatkan kita untuk tidak melupakan akar, sebab dari sanalah identitas tumbuh, seperti pohon yang tak mungkin tegak tanpa akar yang menancap dalam tanah.

banner 1000x130

Dekan FKIP Universitas Islam Majapahit (UNIM), Dr. Wawan Hermawan MPd, menyampaikan hal itu dalam sambutannya mengawali pementasan Ludruk Garingan alias Besutan oleh Meimura di kampus UNIM Mojokerto, Kamis pagi (7/5).

Dalam lawatan ke-5 dari 10 kota yang akan dijelajahi ini Meimura memang membawakan tema tentang batu sebagaimana persoalan lokal yang mengemuka di Mojokerto.

Dalam pementasan yang berlangsung di gedung Nuswantara kampus UNIM ini, dua pemain lokal juga ikut serta dalam ludruk tanpa iringan gamelan ini, yaitu: Taufiq Hidayat (mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia UNIM) yang berperan sebagai Man Jamino, dan Kukun Triyoga dari Komunitas Persada sebagai Sumo Gambar.

Man Jamino yang berperan menjadi penambang pasir dan batu, diingatkan agar tidak mengeksploitasi lingkungan. Bahwasanya batu-batu di sungai itu kalau terus menerus digali tanpa mempertimbangkan keselamatan akan menimbulkan bencana. Namun peringatan ini malah menimbulkan pedebatan sengit sehingga akhirnya tokoh Besut datang menengahi.

Ternyata hal ini masih tidak menyelesaikan masalah, maka seperti biasanya, ludruk Besutan ini lantas melibatkan penonton ikut serta naik panggung. Kali ini yang mendapat sampur adalah Wawan Hermawan, Dekan FKIP UNIM Mojokerto, yang mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan dan meninggalkan perbuatan yang bertentangan dengan hukum.

Sebagai komitmen untuk menjaga lingkungan, maka para penonton yang duduk lesehan di karpet, oleh Meimura lantas diajak berdiri, dan bersama-sama memungkasi pentas dengan menyanyikan lagu “Bagimu Negeri.” Sebuah ending yang tak biasa dalam pementasan seni pertunjukan.

Sebelum pentas, acara diawali dengan sajian monolog dari UKM Teater Damar UNIM yang dibawakan oleh Nazmatus Zahira, mahasiswi Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga semester 4, membawakan karya berjudul “Balada Sumar” dari Temtrem Lestari.

Ikut hadir dalam acara ini adalah Kaprodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNIM, Dr. Engkin Suwandana MPd, serta sejumlah dosen dan kalangan seniman.

Program “Jajah Deso Milangkori” yang dijalankan Meimura ini merupakan pelaksanaan Dana Indonesiana kategori Pemberdayaan Ruang Publik yang diterima oleh Meijono, nama aslinya. Pesan yang disampaikan oleh Meimura adalah, bahwasanya ludruk merupakan kesenian tradisi yang musti diselamatkan, ditumbuhkan, dikembangkan, apapun hambatannya.

Ludruk bisa pentas tanpa grup besar, tanpa gedung dan panggung, tanpa iringan gamelan, bahkan bisa diselenggarakan di mana saja secara interaktif bersama masyarakat.
Dalam segala keterbatasan itulah maka kreativitas tetap bisa dilakukan untuk menyajikan pertunjukan yang menarik. Meimura mencontohkan, ketika dia ngidung di panggung, biasanya tanpa iringan, namun kali ini diiringi oleh gesekan biola oleh Herry Biola. Sebuah tawaran kreatif yang menarik.

Ki Bagong Sinukarto, salah seorang narasumber dalam diskusi yang diselenggarakan usai pementasan, ludruk bukan sekadar hiburan dan tontonan belaka. Dalam ludruk terkandung fakta-fakta sejarah yang disamarkan. Tokoh Sarip dan Sakerah misalnya, itu bukan tokoh fiktif, melainkan pahlawan rakyat yang melakukan perlawanan terhadap penjajahan. Pada masanya, menurut ketua Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jawa Timur ini, ludruk memang menjadi sarana perlawanan melalui budaya.

Sementara Akhmad Fatoni, S.S., M. Hum, sebagai narasumber juga, menyebutkan bahwa Besutan Cak Mei ini seperti memberi kita ruang baru. Ruang yang oleh masyarakat kita diambil serampangan sebagai nama cilok, nama warung makan, nama perkumpulan, dan asesoris kekinian yang membersamai anakanak muda, supir truk, atau bahkan dijajakan di tempat-tempat wisata.

Dalam diskusi yang dipandu moderator Henri Nurcahyo, dosen sastra UNIM ini, nama-nama tersebut akan dikutuk jika membuat perjuangan itu mandeg: kabotan jeneng. Kadang juga dijadikan ejekan-ejekan, namun kita kerap kali melewatkan imajinasi dan melemparkan pertanyaan: kenapa memakai nama Majapahit untuk Cilok? Kenapa menggunakan nama Majapahit untuk komunitas? Atau bahkan menanyakan kenapa nama kampus ini Universitas Islam Majapahit? (Sw)

banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130