Denpasar – Nusantarajayanews.id | Film komersial tetap memiliki tempat di festival film. Hal itu disampaikan pemain “Senin Harga Naik”, Nadya Arina, dalam Press Conference Penutupan Balinale 2026, Sabtu (6/6/2026) di The Meru Sanur.
Nadya menanggapi anggapan bahwa Balinale identik dengan film non-komersial. Menurutnya, Balinale tahun ini membuka program khusus bertema family yang membuat film “Senin Harga Naik” bisa masuk dan mendapat jadwal screening.
“Sebetulnya tadi kalau saya tidak salah dengar Deborah bilang, memang ada satu program tentang family, di mana memang film. “Senin Harga Naik” cukup merepresentasikan itu. Dan akhirnya dibuatkan screening juga sama Balinale,” ujar Nadya.
Ia mengapresiasi tim Balinale yang mendukung proses pemutaran filmnya di Bali. Bagi Nadya, baik film festival maupun film komersial sama-sama merupakan karya yang lahir dari banyak ide dan akhirnya dikreasikan menjadi visual. Semua film pasti punya penontonnya masing-masing.
“Menurut aku di balik semua festival atau komersial, film adalah sebuah karya. Dengan adanya festival ini, buat aku semuanya di industri, di pembuatan film itu jadi lebih accessible lagi,” katanya.
Nadya menilai Balinale jadi jembatan bagi filmmaker muda, distributor, dan talenta baru untuk saling bertemu. Ia menyebut festival ini menjelaskan secara detail dan approachable bagaimana proses masuk festival, mulai dari siapa yang harus dihubungi.
“Untuk filmmaker-filmmaker di Indonesia, banyak sekali produser muda dan writer baru yang sangat potensial, yang mungkin belum menemukan kesempatan. Balinale jadi wadah yang bisa jadi jembatan,” tambah Nadya.
Rekan mainnya, Andri Mashadi, mengamini hal itu. Ditanya soal tips film komersial bisa lolos festival, Andri mengaku tidak ada rumus pasti karena tiap festival punya karakter berbeda. Ia pernah punya film yang masuk festival luar tapi tidak masuk Balinale, begitu juga sebaliknya.
“Jadi memang kuncinya adalah narasinya. Kalau narasinya memang sekuat itu dan sepenting itu untuk dibicarakan dan didengar, saya rasa akan mendapatkan tempat yang sesuai,” jelas Andri.
Andri menilai Balinale adalah event yang bagus dan mudah dijangkau. Festival ini memberi kesempatan talenta muda berkolaborasi dan membangun relasi dengan sineas dari banyak negara.
“Supaya talenta-talenta muda punya lebih banyak kesempatan untuk berkolaborasi, punya relasi sama filmmaker dari banyak negara lain,” ujarnya.
Film “Senin Harga Naik” sebelumnya sudah tayang secara streaming sebelum masuk program Balinale 2026. Kehadiran film komersial di festival ini dinilai memperkuat posisi Balinale sebagai ruang inklusif bagi berbagai jenis karya sinematik, baik independen maupun komersial.(tik)













