banner 1000x130

Perjalanan Erika Sedana, Dari Studio TVRI Hingga ke Forum Dunia, Tak Pernah Berhenti Belajar Untuk Bali

banner 2500x130 banner 1000x130

Bali -Nusantarajayanews.id | | Made Herry Erika Sedana, M.Tr.Par., M.Sc., namanya panjang, tapi ceritanya lebih panjang lagi. Dari membacakan berita pariwisata TVRI Bali di tahun 2000-an, memandu pertemuan Menteri G20, hingga meneliti Green Event Practices di industri event tourism. Erika membuktikan satu hal yaitu rasa ingin tahu yang tulus bisa membawa seseorang dari layar kaca ke forum dunia, lalu kembali lagi ke Bali untuk membangun generasi selanjutnya.

Karier Erika dimulai di bidang MICE (Meeting, Incentive, Conference & Exhibition) di PCO Pacific World dan di saat yang sama ia juga memulai karir di TVRI Bali sebagai news anchor program Balivision. Selama 12 tahun ia menjadi pemandu wisatawan lewat layar kaca. Bukan sekadar baca prompter. Ia turun ke sawah, pasar tradisional, pura, dan panggung tari untuk menceritakan Bali yang otentik seperti kuliner, seni pertunjukan, hingga dokumenter budaya.

banner 1000x130

Lewat wawancara langsung dengan pelaku pariwisata, Erika membantu pemerintah daerah mengoptimalkan pengalaman wisatawan. Baginya, komunikasi pariwisata bukan soal jualan, tapi soal menjembatani cerita Bali agar dipahami dunia dengan cara yang menghormati.

Minat menjadi moderator ternyata sudah muncul sejak Erika SMP, usia 15 tahun. Kebiasaan kecil di panggung sekolah itu ditempa menjadi keahlian yang membawanya memandu acara bertaraf internasional seperti pertemuan Menteri G20, Rapat Kepresidenan RI, United Nations, ADB, APEC, IMF, hingga US-DEA.

Yang membuatnya berbeda, Erika bukan sekadar pembawa acara. Dengan latar jurnalis, ia memahami konteks, berani bertanya tajam saat jadi moderator, dan mampu membuat forum formal terasa cair.

“Menjadi MC itu soal mendengar dengan empati,“Kalau kita denger audiens dengan hati, acara akan hidup sendiri, ” katanya.

Erika kini aktif menjadi Director of Partnership & Events di Politeknik Internasional Bali (PIB College). Ia juga rutin diundang Udayana University untuk mengajar Entrepreneurship dan Doing Business in Bali ke mahasiswa internasional.

Saat ini Erika fokus pada studi S3 Vokasi di PNB di bawah bimbingan 3 profesor. Risetnya soal Metriks Green Events di Bali dan Singapura, di industri akomodasi dan artificial intelligents dalam dunia evets. Tujuannya sederhana yaitu memastikan label “eco-friendly” benar-benar berdampak, bukan sekadar stiker hijau, karena Bali sudah terlalu sering jadi korban janji manis.

Sebelum kembali ke dunia pendidikan, Erika menghabiskan 10 tahun di DHL Express & DHL Global Forwarding. Ia naik dari Account Executive sampai Country Retail Manager & Asia-Pacific Facilitator, mengantongi 9 penghargaan tingkat Indonesia & Asia-Pasifik. Pengalaman itu mengasah logika bisnis, prioritas, dan “ownership”.

Kini ia menjalankan perusahaan kargo di Bali. Ia membantu hotel, MICE, DMC, dan PCO mengurus dokumen impor-ekspor untuk kebutuhan event ke lebih dari 200 negara. Pengetahuan itu ia bagikan sebagai konsultan, agar Bali siap jadi tuan rumah event global tanpa tersandung birokrasi. Hal ini juga yang membuat ia mengambil pendidikan Master di Angers, Perancis dan micro-credential di Melbourne, Australia.

Sejak 2009 Erika aktif di Rotary Club of Bali Seminyak. Ia menjabat Presiden 2 periode, 2018-2019 dan 2021-2022, memimpin klub dengan 90% anggota ekspatriat dari 16 negara. Di masa pandemi 2021, ia menjadi Ketua Panitia Rotary District Conference Hybrid pertama di Indonesia dengan kurang lebih 450 peserta. Baginya, Rotary adalah cara nyata memberi “support ke komunitas di Bali”, bukan sekadar seremonial.

Dari TVRI, DHL, panggung G20, ruang kelas, hingga gudang kargo, semua yang Erika lakukan bermuara ke satu tempat yakni Bali. Ia ingin pariwisata Bali tumbuh, tapi tidak kehilangan jati diri. Ia ingin anak muda Bali punya skill, jaringan, dan karakter kuat untuk bersaing global tanpa lupa rumah.

Erika yang sempat menjadi lulusan terbaik, cum laude dan valedictorian di Politeknik Negeri Bali menegaskan, “Belajar nggak ada pensiunnya. Dari umur 15 tahun jadi MC sampai sekarang S3, saya masih mahasiswa. Yuk, tetap semangat menambah ilmu.”tutupnya.(tik)

banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130