Denpasar –Nusantarajayanews.id | Pembukaan Bali Wellness and Beauty (BWB) Expo 2026 ke-2, pada kamis (4/6/2026) di The Meru, di buka dengan sesi diskusi (Plenary Session). Sesi dialog strategis ini dipandu Prof. I Nyoman Darma Putra dan mempertemukan pemangku kebijakan serta pelaku industri, untuk membahas prioritas kebijakan pembangunan ekonomi berbasis wellness.
Diskusi menegaskan konsensus bahwa wellness bukan hanya tren, tetapi sektor strategis yang menyentuh pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
Hadir sebagai pembicara dalam sesi tersebut antara lain, Dida Gardera, S.T., M.Sc., Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Metty Kusmayantie, Asisten Deputi Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Menengah, Kementerian UMKM RI, serta, Hanifah, Asisten Deputi Pengembangan Usaha dan Akses Permodalan, Kementerian Pariwisata RI.
Diskusi juga diperkuat oleh perspektif dunia usaha dan industri melalui kehadiran, Doddy Akhmadsyah Matondang, CEO SMESCO Indonesia, Hery Noercahya, Regional CEO BRI Bali Nusra, serta dr. Gede Wiryana Patra Jaya, M.Kes., Ketua Bali Medical Tourism Association.
Dida Gardera, S.T.,/M.Sc., Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kemenko Perekonomian RI, membuka diskusi dengan menekankan urgensi wellness.
“Pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 5,61% sudah tertinggi sepanjang sejarah RI. Tapi 1% pertumbuhan hanya menciptakan 400 ribu kerja, sementara angkatan kerja baru 3,5-4 juta/tahun. Target 8% realistis. Kita butuh mesin pertumbuhan yang lebih nah yang belum digali optimal salah satunya wellness,” ujarnya.
Ia menambahkan wellness banyak menyentuh UMKM. Namun belum mampu dikembangkan secara optimal sehingga butuh keseriusan pemerintah untuk mendorongnya.
“Kalau kita kembangkan wellness, pariwisata ekonomi kreatif dapat, UMKM juga dapat. Pemerintah sudah keluarkan kebijakan seperti penurunan bunga KUR, dan hal lain yang perlu didorong lagi.”imbuhnya.
Metty Kusmayantie, Asisten Deputi Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Menengah KemenUMKM, memaparkan strategi holding UMKM, dimana usaha menengah bisa dijadikan jangkar untuk agregasi, inkubasi, perluasan pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan bagi 50 juta UMKM mikro.
“Tahun ini wellness and beauty kami ajukan sebagai salah satu kluster holding UMKM. Indonesia negara terbesar ke-20 untuk wellness & beauty dengan pertumbuhan masif. Rantai pasoknya sudah pasti melibatkan UMKM,” kata Metty.
Sementara Hanifah, Asisten Deputi Pengembangan Usaha dan Akses Permodalan Kemenpar, menyoroti wellness sebagai daya tarik utama wisatawan mancanegara, terutama di Bali.
“Kita harus pastikan industri wellness punya daya saing dan branding kuat nasional dan internasional. Fokusnya dengan meningkatkan kualitas produk, jasa, pelayanan, SDM, plus standarisasi sertifikasi travel internasional agar makin banyak wisatawan datang menikmati wellness Indonesia,” jelasnya.
Doddy Akhmadsyah Matondang, CEO SMESCO Indonesia, menyoroti masih kecilnya porsi wellness di UMKM binaan. Menurutnya, dari 104 ribu UMKM, hanya 1% di beauty & wellness. Padahal ini energi terbarukan untuk sustainability ekonomi Indonesia.
Untuk itu, SMESCO kini mengarahkan etalase khusus beauty & wellness di Jakarta dengan menyediakan layanan end-to-end.
“Legalitas, sertifikasi, pembiayaan, akses pasar harus beres. Harapannya produk wellness UMKM angkat identitas Indonesia di pasar global,” tegasnya.
Hery Noercahya, Regional CEO BRI Bali Nusra, menyebut, 23% dari 6,9 juta wisatawan 2025 menjadikan wellness destinasi utama. Berdasarkan data, Ia mengatakan bahwa, industri wellness 100% adalah UMKM.
“Di BRI Bali 80% portofolio kami UMKM.”ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa BRI menyiapkan KUR dengan bunga subsidi, AKUR untuk naik kelas, hingga pendampingan ‘mantri’.
“Pelaku wellness mulai dari belum bankable sampai profesional, BRI siap dampingi maju bareng,” ujarnya.
dr. Gede Wiryana Patra Jaya, M.Kes., Ketua Bali Medical Tourism Association, dalam diskusi ini mwnyaoaikan bahwa Ia akan mendorong medical wellness tourism berbasis saintis.
“Kami integrasikan medis konvensional, wellness, dan tradisional Bali dengan ukuran before-after. Payungnya MOU Menpar-Menkes. Ini kunci agar kompetitif global,” katanya.
Menutup sesi diskusi, Prof. I Nyoman Darma Putra, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, dimana diskusi ini harus mampu melahirkan langkah nyata. Wellness economy Indonesia memiliki semua modal untuk memimpin, bukan hanya mengikuti. (tik)













