banner 1000x130

Memahami Perbedaan Antara Dukacita Keluarga dan Kewajiban Bhakti di Rumah Ibadah

banner 2500x130 banner 1000x130

Dalam kehidupan umat Hindu, kelahiran dan kematian adalah bagian dari hukum alam (Rta) dan hukum karma yang berlaku bagi setiap makhluk. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindari kelahiran maupun kematian, karena keduanya merupakan perjalanan jiwa yang telah ditentukan oleh karma masing-masing.

Ketika terjadi kematian dalam keluarga, tentu keluarga yang ditinggalkan mengalami masa berduka. Rasa kehilangan, penghormatan kepada leluhur, dan pelaksanaan upacara kematian merupakan kewajiban keluarga yang harus dilaksanakan dengan baik. Namun, keadaan tersebut sesungguhnya berbeda dengan kewajiban umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para Dewa di rumah ibadah.

banner 1000x130 banner 1000x130

Rumah ibadah atau kuil adalah tempat suci yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kesuciannya tidak bergantung pada keadaan suka maupun duka yang dialami oleh individu atau keluarga tertentu. Oleh karena itu, kegiatan persembahyangan tahunan, tiruvila, Aadi Masam, nazar yang telah diikrarkan kepada Tuhan, maupun pelayanan sebagai pengurus rumah ibadah pada dasarnya tidak boleh dihentikan hanya karena adanya kematian dalam suatu keluarga.

Dalam ajaran Hindu, Tuhan tidak pernah berhenti memberikan anugerah kepada umat-Nya hanya karena ada manusia yang lahir atau meninggal. Matahari tetap terbit, hujan tetap turun, musim tetap berjalan, dan puja kepada Tuhan tetap berlangsung. Maka kewajiban bhakti kepada Tuhan juga seyogianya tetap berjalan sesuai waktunya.

Sering kali berkembang anggapan bahwa seseorang harus menunggu satu tahun setelah kematian anggota keluarga sebelum kembali aktif di kuil atau melaksanakan nazar. Anggapan ini lebih banyak berasal dari kebiasaan sosial dan adat yang berkembang di masyarakat tertentu, bukan merupakan ketentuan universal dalam ajaran Hindu. Adat patut dihormati selama tidak menghalangi pelaksanaan dharma dan kewajiban keagamaan.

Bhagavad Gita mengajarkan bahwa jiwa tidak pernah mati. Yang meninggal hanyalah badan jasmani, sedangkan Atman tetap melanjutkan perjalanannya. Oleh sebab itu, cara terbaik menghormati anggota keluarga yang telah meninggal bukanlah dengan menghentikan bhakti kepada Tuhan, melainkan dengan memperbanyak doa, yadnya, dana punia, dan pelayanan keagamaan sebagai persembahan bagi kesejahteraan rohnya.

Aadi Masam, tiruvila, maupun berbagai perayaan keagamaan merupakan momentum spiritual yang datang sesuai siklus waktu suci. Jika kesempatan tersebut dilewatkan karena alasan yang tidak memiliki dasar teologis yang kuat, maka umat justru kehilangan kesempatan untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Tuhan.

Karena itu, marilah kita membedakan dengan jelas antara urusan keluarga yang sedang berduka dengan kewajiban agama di rumah ibadah. Keduanya dapat berjalan berdampingan. Menghormati leluhur adalah dharma, tetapi memuja Tuhan juga merupakan dharma. Jangan sampai pelaksanaan satu dharma menyebabkan ditinggalkannya dharma yang lain.

Semoga umat semakin memahami bahwa kelahiran dan kematian adalah bagian dari perjalanan karma manusia, sedangkan bhakti kepada Tuhan adalah kewajiban abadi yang harus terus dilaksanakan tanpa terputus oleh perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan duniawi.

_Salam Hormat_
Dr. Matha Riswan,M.Psi

banner 1000x130
banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130