TANGERANG |Nusantara Jaya News – Aksi premanisme yang diduga dipicu penolakan membayar uang jatah preman berakhir ricuh dan berdarah di Jalan Raden Fatah, Kelurahan Sudimara Barat, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Banten, pada Rabu (1/7/2026) malam. Insiden tersebut mengakibatkan tiga pedagang buah mengalami luka bacok serius, sementara dua orang dari kelompok penyerang juga terluka dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Peristiwa bermula saat seorang pria berinisial ZI alias Udin mendatangi lapak pedagang semangka dan melon untuk meminta uang sebesar Rp10.000 per hari. Permintaan tersebut diduga merupakan pungutan liar yang selama ini meresahkan para pedagang.
Namun, para pedagang menolak memberikan uang yang diminta. Penolakan itu diduga memicu kemarahan pelaku yang kemudian meninggalkan lokasi.
Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang Kota AKBP Parikhesit menjelaskan bahwa tidak lama setelah pergi, pelaku kembali ke lokasi dengan membawa senjata tajam dan mengajak beberapa rekannya untuk melakukan penyerangan.
“Permintaan tersebut ditolak oleh para pedagang. Setelah itu yang bersangkutan pergi, namun tidak lama kemudian kembali sambil membawa senjata tajam dan mengajak beberapa rekannya,” ujar AKBP Parikhesit, Jumat (3/7/2026).
Awalnya, kelompok pelaku datang sekitar enam orang untuk menantang para pedagang. Namun karena merasa kalah jumlah, mereka kembali lagi dengan membawa sekitar 10 orang tambahan yang juga dipersenjatai senjata tajam.
Situasi pun berubah menjadi bentrokan terbuka. Kedua kelompok terlibat aksi saling serang yang mengakibatkan sejumlah orang mengalami luka bacok. Tiga pedagang buah menjadi korban utama dalam insiden tersebut dengan luka serius akibat sabetan senjata tajam.
Di sisi lain, dua anggota kelompok penyerang juga mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.
Menerima laporan masyarakat, tim gabungan Satreskrim Polres Metro Tangerang Kota bersama Unit Reskrim Polsek Ciledug segera melakukan penyelidikan intensif. Hasilnya, polisi berhasil mengamankan dua orang yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.
Kedua tersangka yang ditangkap yakni MSS alias Bule yang diduga terlibat langsung dalam pembacokan terhadap korban, serta Panji alias Qbenk yang diduga membantu melarikan salah seorang pelaku yang terluka ke rumah sakit usai bentrokan.
Dalam proses penggeledahan, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu bilah golok yang ditemukan di lokasi kejadian, sarung golok yang disita dari rumah salah satu pelaku, serta sepasang sandal yang terdapat bercak darah.
Barang bukti tersebut kini tengah diperiksa sebagai bagian dari proses penyidikan untuk mengungkap peran masing-masing pelaku dalam aksi penyerangan tersebut.
Sementara itu, aparat kepolisian masih memburu tiga terduga pelaku lainnya yang diduga berperan aktif dalam penyerangan, yakni ZI alias Udin, Fajar, dan Angki.
Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Raden Muhammad Jauhari menegaskan pihaknya tidak akan memberikan toleransi terhadap segala bentuk aksi premanisme yang meresahkan masyarakat, khususnya praktik pemerasan terhadap pedagang maupun warga.
Menurutnya, kepolisian akan terus melakukan tindakan tegas terhadap para pelaku premanisme sesuai ketentuan hukum yang berlaku demi menciptakan rasa aman di tengah masyarakat.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak takut melaporkan apabila menjadi korban atau mengetahui adanya praktik pemerasan, pungutan liar, maupun tindakan premanisme lainnya melalui layanan darurat 110 atau kantor kepolisian terdekat.
“Kami akan menindak tegas setiap bentuk aksi premanisme yang meresahkan masyarakat sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegas Kombes Pol Raden Muhammad Jauhari.
Kasus tersebut kini masih terus dikembangkan. Polisi mengejar para pelaku yang masih buron sekaligus mendalami kemungkinan adanya jaringan preman yang selama ini melakukan pungutan liar terhadap para pedagang di kawasan tersebut. (Red)
















