banner 1000x130
Budaya  

Pengerupukan Ogoh-Ogoh di Desa Adat Kintamani Semarak, Simbol Penyucian Alam Jelang Hari Raya Nyepi 2026

banner 2500x130 banner 1000x130

BANGLI |Nusantara Jaya News – Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026, masyarakat Desa Adat Kintamani, Desa Kintamani, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, menggelar upacara pengerupukan dengan tradisi ogoh-ogoh pada Rabu (18/3/2026) sore sekitar pukul 17.30 WITA.

Kegiatan yang berlangsung khidmat sekaligus meriah ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari Sekaa Teruna Teruni (STT) Desa Kintamani, Pecalang Desa Adat Kintamani, partisipasi warga Kampung Sudiati, hingga masyarakat umum yang turut menyaksikan prosesi budaya tersebut.

banner 1000x130

Pengerupukan merupakan salah satu rangkaian penting dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Tradisi ini identik dengan arak-arakan ogoh-ogoh yang melambangkan Bhuta Kala atau kekuatan negatif yang diyakini ada di alam semesta.

Dalam pelaksanaannya di Desa Adat Kintamani, ogoh-ogoh yang diarak berbentuk buta kala, yang mencerminkan unsur-unsur keburukan dan energi negatif.

Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh tertinggi Desa Adat Kintamani, Jro Bayan Pasek, dijelaskan bahwa upacara pengerupukan merupakan tradisi tahunan yang selalu dilaksanakan menjelang Hari Raya Nyepi. Prosesi ini memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Hindu di Bali.

“Pengerupukan ini dilaksanakan setiap tahun sekali menjelang Nyepi. Ogoh-ogoh yang berbentuk Bhuta Kala diarak dari desa menuju perbatasan Desa Kintamani-Batur sebagai simbol menetralisir isi alam dan seluruh makhluk hidup,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tujuan utama dari prosesi tersebut adalah untuk mengharmoniskan kembali keseimbangan alam semesta (Bhuwana Agung) dan manusia (Bhuwana Alit), sehingga tercipta kehidupan yang selaras dan damai.

Arak-arakan ogoh-ogoh berlangsung dengan penuh semangat, diiringi suara gamelan baleganjur yang menambah suasana sakral sekaligus meriah. Warga terlihat antusias mengikuti jalannya prosesi, yang juga menjadi daya tarik budaya bagi masyarakat sekitar.

Setelah prosesi pengerupukan, masyarakat akan memasuki Hari Raya Nyepi pada 19 Maret 2026 dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian, yakni Amati Geni (tidak menyalakan api atau cahaya), Amati Lelungan (tidak bepergian), Amati Karya (tidak bekerja), dan Amati Lelanguan (tidak menikmati hiburan).

Pelaksanaan Nyepi ini menjadi momentum refleksi diri, introspeksi, serta penyucian lahir dan batin bagi umat Hindu. Seluruh aktivitas di Bali pun akan berhenti total selama 24 jam sebagai bentuk penghormatan terhadap hari suci tersebut.

Dengan terlaksananya upacara pengerupukan ini, diharapkan seluruh unsur negatif dapat dinetralisir, sehingga umat Hindu dapat menjalani Hari Raya Nyepi dengan penuh ketenangan, kedamaian, dan kesucian. (Sukadana)

banner 2500x130 banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130