BANGKALAN |Nusantara Jaya News – Keluhan warga terkait dampak operasional pabrik pengolahan beton di wilayah Kecamatan Labang kembali mencuat. Permasalahan ini menjadi sorotan setelah awak media melakukan koordinasi langsung dengan pihak manajemen pabrik yang berada di Desa Petapan, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, pada Kamis (29/04/2026) sekitar pukul 14.08 WIB.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah persoalan yang selama ini dikeluhkan warga disampaikan secara langsung kepada pihak perusahaan. Salah satu isu utama adalah kerusakan akses jalan desa yang kini dalam kondisi memprihatinkan. Jalan yang sebelumnya menjadi jalur utama aktivitas warga kini dipenuhi lubang besar dan kerusakan parah.
Diduga kuat, kerusakan ini disebabkan oleh tingginya intensitas kendaraan berat pengangkut material beton yang keluar masuk area pabrik. Beban tonase kendaraan yang melebihi kapasitas jalan desa membuat lapisan aspal tidak mampu bertahan, hingga akhirnya hancur dan membahayakan pengguna jalan.
“Akses jalan sampai rusak seperti ini,” ujar perwakilan media saat menunjukkan langsung kondisi jalan kepada staf pabrik di lokasi. Kerusakan tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak pada aktivitas ekonomi warga yang sehari-hari bergantung pada akses tersebut.
Selain infrastruktur jalan, persoalan lain yang tak kalah serius adalah dugaan pencemaran lingkungan akibat limbah cair dari pabrik. Warga mengeluhkan adanya rembesan limbah yang masuk ke area persawahan, menyebabkan penurunan kualitas tanah hingga tidak lagi produktif.
Salah satu warga berinisial BI mengungkapkan bahwa lahan pertaniannya kini tidak dapat digunakan secara optimal. Bahkan, rumput yang tumbuh di sekitar area terdampak tidak lagi layak dikonsumsi oleh ternak.
“Bukan sawah saya saja, tapi milik saudara dan warga lain juga terdampak. Rumputnya saja tidak mau dimakan sapi saya. Kami berharap pihak pabrik bisa lebih peduli terhadap warga yang terdampak,” ungkap BI.
Warga menduga pabrik belum memiliki sistem drainase atau pengelolaan limbah yang memadai. Akibatnya, air limbah dengan mudah mengalir ke lahan pertanian warga, terutama saat hujan maupun saat aktivitas produksi berlangsung.
Upaya konfirmasi juga dilakukan kepada kepala desa setempat, namun hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum memberikan respons.
Sementara itu, perwakilan pabrik berinisial RI yang menjabat sebagai staf bagian produksi, menerima langsung aspirasi yang disampaikan. Ia menyatakan bahwa pihak perusahaan akan segera melakukan pengecekan terhadap titik-titik yang dilaporkan, termasuk kondisi tembok pondasi serta kerusakan jalan.
RI juga menjelaskan bahwa perusahaan telah berupaya memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar dengan melibatkan tenaga kerja lokal, seperti petugas keamanan dan sopir. Namun demikian, terkait persoalan teknis seperti limbah dan infrastruktur, pihaknya akan melaporkan kepada pimpinan untuk ditindaklanjuti.
Warga Desa Petapan berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan untuk turun tangan memediasi persoalan ini. Mereka mendesak agar perusahaan segera melakukan perbaikan jalan serta membangun sistem pengolahan limbah yang sesuai standar agar tidak terus merugikan masyarakat, khususnya sektor pertanian.
“Kami hanya ingin ada keseimbangan. Perusahaan silakan berjalan, tapi hak warga atas jalan yang layak dan sawah yang produktif jangan dikorbankan,” tegas perwakilan media.
Hingga kini, warga masih menunggu langkah konkret dari pihak perusahaan maupun pemerintah daerah guna menyelesaikan persoalan yang telah berlangsung cukup lama tersebut. (Red)













