Denpasar – Nusantarajayanews. id | Pemerintah Provinsi Bali menegaskan komitmennya untuk memperkuat industri Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) berbasis budaya Bali, keberlanjutan lingkungan, dan pemberdayaan pelaku usaha lokal.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Bali, Wayan Koster, saat menerima audiensi jajaran pengurus Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) di Jayasabha, Denpasar, Rabu (27/5/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Bali didampingi oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Wayan Sumarajaya. Sementara itu, jajaran pengurus Bali Convention and Exhibition Bureau yang hadir antara lain Ng Choi Choi, Putri Windrawati, Agung Rai Suryawijaya, Nyoman Sunarta, Gede Ginaya, Ketut Jaman, Wayan Sugiantara, dan Made Parwata.
Audiensi tersebut dilaksanakan dalam rangka persiapan acara Pelantikan Pengurus BaliCEB Periode 2026–2031 yang akan berlangsung pada 5 Juni 2026 di Bali Beach Convention Center / The Meru Sanur.
Gubernur menegaskan bahwa Bali tidak boleh hanya menjadi lokasi penyelenggaraan event internasional, tetapi harus mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat Bali.
“Bali harus memiliki kekuatan ekonominya sendiri. Industri MICE harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal, pelaku usaha lokal, serta menjaga budaya dan alam Bali,” tegas Gubernur.
MICE Bali Harus Punya Ciri Khas Budaya Bali. Dalam arahannya, Gubernur meminta agar seluruh kegiatan MICE yang diselenggarakan di Bali memiliki identitas budaya Bali yang kuat. Mulai dari dekorasi venue, penyambutan tamu, penampilan seni budaya Bali, hingga penggunaan busana adat Bali pada acara resmi.
Menurutnya, peserta event internasional perlu merasakan pengalaman budaya Bali secara langsung melalui tarian Bali, gamelan, kuliner tradisional, hingga penggunaan kain songket atau endek Bali.
Pemerintah Provinsi Bali juga mendorong agar seluruh event internasional di Bali mengikuti standar dan SOP penyelenggaraan yang berbasis budaya dan kearifan lokal Bali. SOP tersebut direncanakan dapat dipayungi melalui Surat Edaran Gubernur Bali, Hotel dan PCO Lokal.
Kabar positif juga datang bagi pelaku industri hotel, PCO, EO, serta asosiasi pariwisata di Bali. Gubernur Bali menegaskan dukungannya agar kegiatan MICE di Bali lebih banyak melibatkan perusahaan lokal Bali.
Pemerintah Provinsi Bali bahkan mempertimbangkan kebijakan yang mendorong event nasional maupun internasional di Bali menggunakan PCO/EO Bali sebagai penyelenggara utama maupun mitra resmi.
Selain itu, perusahaan yang beroperasi di Bali juga diharapkan memiliki izin usaha dan domisili di Bali, membayar pajak di Bali, serta menggunakan layanan perbankan daerah seperti Bank BPD Bali.
Gubernur juga meminta BaliCEB turut membangun dan menciptakan PCO/EO Bali yang profesional, berkualitas, dan berdaya saing internasional.
Dalam audiensi tersebut, konsep green MICE menjadi salah satu fokus utama pembahasan. Gubernur menyebutkan bahwa kebijakan Pemerintah Provinsi Bali terkait energi hijau, pembatasan plastik sekali pakai, dan pertanian organik mulai mendapat perhatian dunia internasional.
Karena itu, standar penyelenggaraan event di Bali diarahkan untuk mengedepankan prinsip sustainability, penggunaan produk lokal, pengurangan sampah plastik, efisiensi energi, dan penerapan green event management.
“Bali harus menjadi contoh destinasi MICE berkelanjutan di dunia,” ujarnya.
Mulai tahun 2028, angkutan pariwisata di Bali juga direncanakan wajib menggunakan kendaraan listrik. Pemerintah Provinsi Bali akan memperbanyak pembangunan charging station untuk mendukung transformasi tersebut.
Di sektor kuliner, Pemerintah Provinsi Bali mendorong agar hotel dan penyelenggara event lebih banyak mengangkat gastronomi Bali sebagai bagian dari pengalaman peserta MICE.
Kuliner khas Bali seperti ayam betutu, klepon, plecing, serta buah-buahan lokal didorong menjadi sajian utama dalam event dan konferensi internasional. Penggunaan bahan pangan organik lokal juga menjadi perhatian dalam mendukung konsep green tourism dan green MICE.
Bahkan, Pemerintah Provinsi Bali berencana mendukung kegiatan bertema lomba kuliner Bali berbahan non-beras sebagai bagian dari diversifikasi pangan lokal dan penguatanidentitas kuliner Bali.
Selain membahas sektor MICE, Gubernur Bali juga menyoroti pentingnya menjaga reputasi Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Ia meminta data jumlah pelaku usaha dan tenaga kerja pariwisata di Bali disiapkan sebagai dasar penyusunan kebijakan strategis daerah.
Di bidang pendidikan, perguruan tinggi di Bali dinilai memiliki potensi besar menerima mahasiswa asing untuk belajar 3–6 bulan di Bali, khususnya di bidang pariwisata, budaya, dan hospitality.
“Goal-nya, masyarakat dunia belajar pariwisata di Bali,” kata Gubernur.
Menutup pertemuan tersebut, Gubernur Bali mengajak seluruh pelaku industri pariwisata dan MICE di Bali untuk tetap guyub, bersatu, dan melakukan promosi secara kolektif demi memperkuat posisi Bali sebagai destinasi MICE dunia berbasis budaya dan keberlanjutan. (red)













