Badung – Nusantarajayanews.id | Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menyampaikan bahwa pariwisata terbukti tetap menjadi mesin utama perekonomian Bali. Hal itu disampaikan dalam konferensi pers penutupan Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Bali International Convention Center, Nusa Dua, sabtu (30/5/2026)..
“Terbukti, sudah proven bahwa pariwisata tetap sebagai mesin utama ekonomi Bali. Dan angka-angkanya sangat proven bahkan dalam kondisi saat ini. Intinya, sektor pariwisata ini akan menjadi penggerak utama bagi sektor-sektor lainnya,” tegas Achris Sarwani.
Menurut Achris, sektor pariwisata tidak berdiri sendiri. Pertumbuhannya akan menggerakkan sektor pertanian, UMKM, kelautan, ekonomi kreatif, dan digital.
“Sektor-sektor yang nanti akan digerakkan oleh pariwisata, mulai dari sektor pertanian, UMKM, sektor kelautan, kemudian ekonomi kreatif dan digital, ini akan ke bawah. Dan itu menjadi sebuah strategi yang menurut kami sangat baik dan rasionable untuk kita laksanakan di Bali dengan kepemimpinan Gubernur,” jelasnya.
Achris menekankan pentingnya menjaga dan memperkuat pariwisata agar semakin berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan menjalankan strategi jangka pendek untuk bisa terus sustainable. Untuk jangka pendek, BI Bali menilai optimalisasi pasar short-haul dan medium-haul menjadi kunci, terutama merespons situasi geopolitik Timur Tengah.
“Misalnya kita bisa lakukan pilihan mengoptimalkan pasar yang lebih dekat, yang customize. Mungkin ASITA nanti bisa menggarap dengan karakteristik Wisman tersebut. Itu bagian dari strategi jangka pendek kita,” katanya.
Untuk jangka panjang, BI Bali mendorong pemerataan pariwisata di luar Sarbagita yaitu Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan, namun Bali masih memiliki beberapa kabupaten lagi memiliki potensi di sektor pariwisata.
“Potensi pariwisata yang paling terlihat ada di Sarbagita yaitu Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, tetapi Bali bukan hanya 4 kabupaten dan kota itu saja yang memiliki potensi itu, , ada sisanya yang masih punya potensi. Kenapa tidak di Pantai Lovina punya pariwisata. Sesuatu yang sangat memungkinkan untuk kita memperbesar, memperkuat sektor pariwisata di Bali,” tegas Achris.
Fokus jangka panjang juga diarahkan ke peningkatan spending dan length of stay wisatawan. Sebab kreativitas tersebut bisa dimemanfaatkan di tengah kondisi Timur Tengah.
“Rasanya ASITA Bali dan pelaku pariwisata pasti masih punya overtime mereka untuk liburan,” tambahnya.
BI Bali menilai BBTF 2026 edisi ke-12 ini bukan sekadar ajang transaksi, tapi juga barometer prospek ekonomi Bali 1-2 tahun ke depan. Data BBTF 2026 mencatat 44 negara, 407 buyer, 208 seller, dengan potensi transaksi Rp6,9 triliun dari target awal Rp7,6 triliun.
“Bagi Bank Indonesia, kami konsen kepada masa depan, konsen kepada perkiraan ekonomi Bali ini akan seperti apa. Angka-angka yang dihasilkan kami gunakan sebagai reading indicator untuk pariwisata Bali setahun atau dua tahun ke depan. Bukan hanya sekadar sekarang jualannya laku berapa. Kontrak 6 bulan lagi, 1 tahun lagi, itu penting karena itu lebih mengatakan prospeknya seperti apa,” jelas Achris.
Sebagai upaya mempermudah transaksi wisatawan, BI Bali menyampaikan update QRIS Cross Border. Kini wisatawan dari 6 negara sudah bisa bertransaksi langsung menggunakan aplikasi Qris melalui bank negaranya dan dana langsung diterima merchant dalam rupiah.
“Untuk 6 negara, kami sudah bisa membantu melalui QRIS Cross Border. Menggunakan aplikasi yang dimiliki oleh 6 negara. Jadi wisatawan dari Singapura, Thailand, Malaysia, Jepang, Korea, dan Tiongkok, mereka sudah bisa menggunakan aplikasinya melalui banknya sendiri dari negaranya masing-masing. Itu bisa membayarkan langsung diterima dalam rupiah,”ungkap Achris.
Menurutnya , ini bagian dari tugas bank sentral untuk memperlancar sistem pembayaran dan memastikan semua transaksi ekonomi pariwisata tercatat.(Tik)









