banner 1000x130
Berita  

Senator Ning Lia Istifhama Soroti Lonjakan Kasus HIV di Indonesia, Tekankan Peran Keluarga sebagai Benteng Utama Pencegahan

banner 2500x130 banner 1000x130

SURABAYA |Nusantara Jaya News – Epidemi HIV di Indonesia masih menjadi tantangan serius yang memerlukan perhatian bersama dari seluruh elemen masyarakat. Meski tidak menimbulkan kepanikan seperti pandemi Covid-19, penyebaran HIV yang terus berlangsung secara senyap dinilai memiliki dampak besar terhadap kesehatan masyarakat, produktivitas tenaga kerja, serta ketahanan sosial keluarga Indonesia.(12/6)

Berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan, pada tahun 2025 diperkirakan terdapat sekitar 564.000 Orang dengan HIV (ODHIV) di Indonesia. Namun hingga Maret 2025, baru sekitar 356.638 orang atau sekitar 63 persen yang mengetahui status kesehatannya. Dari jumlah tersebut, sekitar 67 persen menjalani terapi antiretroviral (ARV), sementara hanya sekitar 55 persen yang berhasil mencapai kondisi supresi virus.

banner 1000x130 banner 1000x130

Kondisi ini menunjukkan bahwa masih terdapat sebagian besar penderita HIV yang belum terjangkau secara optimal oleh layanan deteksi maupun pengobatan. Situasi tersebut menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama.

Perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu menilai bahwa persoalan HIV/AIDS tidak dapat dipandang semata-mata sebagai isu kesehatan. Menurutnya, tingginya angka kasus HIV juga berkaitan erat dengan persoalan sosial, pendidikan karakter, dan peran keluarga dalam membangun ketahanan generasi muda.

“Persoalan HIV/AIDS tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membangun karakter anak agar memiliki benteng yang kuat menghadapi berbagai pengaruh negatif di lingkungan sosial,” ujarnya.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 76 persen kasus HIV di Indonesia terkonsentrasi di 11 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Bali, Papua, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, Banten, dan Kepulauan Riau. Tingginya angka kasus di wilayah-wilayah tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari urbanisasi, mobilitas penduduk, hingga tingginya aktivitas ekonomi yang meningkatkan interaksi sosial.

Yang lebih mengkhawatirkan, mayoritas penderita HIV berada pada kelompok usia produktif. Sebanyak 74 persen ODHIV yang teridentifikasi berada pada rentang usia 25 hingga 49 tahun. Kelompok usia ini merupakan tulang punggung perekonomian keluarga sekaligus aset penting dalam pembangunan nasional.

Menurut Ning Lia, fakta tersebut harus menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk memperkuat upaya pencegahan sejak dini, terutama melalui pendidikan keluarga dan penguatan karakter anak.

Ia mendorong pemerintah daerah untuk terus meningkatkan langkah-langkah preventif dan kuratif secara berkelanjutan, mulai dari edukasi kesehatan masyarakat, skrining kesehatan, deteksi dini, pendampingan psikologis, hingga memastikan akses pengobatan bagi penderita HIV/AIDS berjalan optimal.

Selain itu, Ning Lia juga menegaskan pentingnya penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang dengan sengaja menularkan penyakit kepada orang lain. Menurutnya, perlindungan terhadap masyarakat harus menjadi bagian dari strategi komprehensif dalam menekan laju penyebaran HIV/AIDS.

“Tingginya angka kasus HIV di Jawa Timur harus menjadi alarm bagi kita semua. Anak-anak harus dijaga agar tumbuh sehat, baik secara fisik maupun mental. Mereka harus memiliki ketahanan diri yang kuat agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang berisiko,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ning Lia menekankan bahwa peran orang tua sangat menentukan dalam membentuk pola pikir dan kepribadian anak. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh bersikap acuh terhadap lingkungan sosial maupun pergaulan anak-anak mereka.

Menurutnya, hubungan antara orang tua dan anak tidak cukup hanya sebatas pengawasan, tetapi harus dibangun melalui komunikasi yang terbuka, rasa saling percaya, dan kedekatan emosional yang kuat.

“Kita harus benar-benar menjadi sahabat anak. Kita harus memahami siapa teman mereka, siapa yang mereka ajak bicara, dan bagaimana lingkungan pergaulannya. Jangan sampai anak-anak justru lebih percaya kepada orang lain, apalagi kepada orang yang membawa pengaruh buruk,” ujar Ning Lia.

Pernyataan tersebut dinilai memberikan perspektif baru dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Jika selama ini pendekatan yang dominan berfokus pada aspek medis dan layanan kesehatan, maka pendekatan berbasis keluarga dan lingkungan sosial menjadi pelengkap yang sangat penting dalam membangun ketahanan generasi muda.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan keluarga, diharapkan angka penyebaran HIV dapat ditekan secara signifikan. Edukasi yang berkelanjutan,

komunikasi yang sehat dalam keluarga, serta lingkungan sosial yang positif diyakini menjadi kunci dalam melindungi generasi muda dari berbagai perilaku berisiko yang dapat meningkatkan penularan HIV/AIDS.(Red)

banner 1000x130
banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130