Surabaya |Nusantara Jaya News – Janhwa Diana membantah keras tudingan yang menyebut dirinya menahan ijazah milik seorang mantan karyawan di perusahaan yang ia jalankan. Klarifikasi ini disampaikan setelah Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, mengunggah video sidaknya ke sebuah perusahaan di kawasan Margomulyo, Surabaya, yang disebut-sebut menahan ijazah karyawan yang telah resign. (12/4/25)
“Tidak pernah, saya nggak kenal orang itu. Saya tidak kenal sama sekali dengan orang yang katanya melapor ke Pak Armuji,” tegas Janhwa saat ditemui wartawan di salah satu rumah makan di Surabaya, Jumat (11/4).
Menurut Janhwa, jika memang benar ada pelanggaran ketenagakerjaan, seperti penahanan ijazah, seharusnya dilaporkan ke instansi resmi seperti Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker). Ia juga menyebut bahwa sudah melakukan klarifikasi kepada pihak Disnaker yang menghubungi suaminya terkait kabar tersebut.
“Kalau saya melakukan kesalahan, negara ini punya jalur hukum. Silakan bawa ke Disnaker atau pengadilan industri. Tapi ini kan tidak ada buktinya. Saya sudah bilang ke Disnaker, itu tidak benar,” jelasnya.
Video sidak Armuji yang diunggah ke akun Instagram @cakj1 menyebut nama perusahaan yang didatangi adalah CV Sentoso Seal. Namun ketika dikonfirmasi, Janhwa enggan menyebut secara gamblang apakah dirinya pemilik dari perusahaan tersebut. Ia hanya menyebut gudang yang didatangi Armuji berstatus pinjam pakai, dan bukan alamat resmi dari perusahaannya.
“Saya nggak mau menyeret pihak lain. Gudang itu hanya pinjam pakai. Alamat perusahaan saya bukan di situ. Kawan-kawan bisa nilai sendiri siapa yang melapor,” ujarnya.
Diana juga menyayangkan sikap Wakil Wali Kota Surabaya yang dinilainya terlalu gegabah melakukan sidak tanpa melakukan verifikasi yang mendalam. Ia merasa tindakan tersebut justru memperkeruh suasana dan berpotensi mencemarkan nama baik pihak yang tidak terlibat.
“Kalau mau menyelesaikan masalah, ya dicek dulu kebenarannya. Ini kan perusahaan keluarga, saya tidak mau nama perusahaan saya dibuka ke publik karena alasan privasi. Tapi bukan berarti saya melakukan pelanggaran. Mbok ya dicek dulu, benar nggak lokasi dan datanya,” ucapnya.
Saat ditanya mengenai bidang usaha yang dijalankan, Diana menjelaskan bahwa perusahaannya bergerak di bidang perdagangan (trading) suku cadang kendaraan bermotor, baik mobil maupun motor.
“Saya ini trading spare part mobil dan motor. Tapi sekali lagi, saya tegaskan saya tidak pernah menahan ijazah karyawan,” katanya.
Ia menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas kegaduhan yang terjadi. Permintaan maaf ini disampaikan langsung oleh Janhwa saat ditemui di sebuah restoran di Surabaya, Jumat (11/4).
“Saya minta maaf buat gaduh satu Surabaya,” ucap Diana sambil menahan emosi.
Kasus ini bermula ketika Armuji mengunggah video inspeksi mendadak (sidak) di salah satu perusahaan di kawasan Margomulyo, Surabaya. Dalam video tersebut, Armuji menyebut adanya laporan dari warga yang merasa ijazahnya ditahan oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Diana, yang merasa terseret dalam tudingan tersebut, membantah keras dan menyebut tidak pernah menahan ijazah siapa pun. Ia pun melaporkan Armuji ke pihak berwajib atas dugaan pencemaran nama baik. Namun, dalam pernyataan terbarunya, Diana menjelaskan bahwa laporan tersebut diajukan dalam kondisi emosi dan ketidakpahaman atas kejadian sebenarnya.
Ia menuturkan bahwa awal mula kegaduhan terjadi saat dirinya mendapat telepon dari nomor tidak dikenal saat dalam perjalanan pulang dari Jakarta. Dalam percakapan itu, penelepon yang mengaku sebagai Armuji bersikap kasar dan memaksa untuk bertemu.
“Kalau misalnya dapat telepon nomor tidak dikenal, ngomongnya kasar. Saya dikatai ‘matamu asu’. Reaksi pertama saya pasti kaget, ini siapa? Lalu dia bilang, ‘Saya ini wawali’. Saya bilang, ‘kenapa pak?’,” ujar Diana.
Diana mengaku sempat menyangka bahwa penelepon tersebut adalah penipu karena sikap dan cara bicaranya yang tidak sesuai dengan prosedur instansi resmi.
“Instansi resmi pasti kasih surat undangan atau klarifikasi ke kantor. Kalau tiba-tiba menelepon, membentak-bentak, ya reaksi saya wajar,” jelasnya.
Bahkan, Diana mengaku langsung memutuskan sambungan telepon dan menyarankan jika ada permasalahan sebaiknya diselesaikan di kantor polisi. Ia pun mengaku tidak pernah berniat menghina atau menyerang siapa pun.
Tak hanya dirinya, sang suami pun menerima telepon serupa dari seseorang yang mengaku sebagai pejabat. Namun, ia juga mengabaikan dan menutup telepon tersebut.
“Suami saya cerita, dia juga ditelepon dengan nada tinggi dan langsung ditutup karena dianggap penipuan. Saya ini nggak nyenggol siapa-siapa, nggak ngerti apa-apa, tiba-tiba dapat perlakuan seperti itu,” ujar Diana.
Diana baru menyadari bahwa penelepon tersebut benar adalah Armuji setelah anaknya memberi tahu sepulang sekolah keesokan harinya.
“Anak saya bilang, ‘Bu, itu bener Pak Armuji’. Kaget saya. Tapi ya sudah, saya pikir kalau memang mau ketemu, pasti kirim surat resmi,” katanya.
Ia pun menyayangkan sikap Armuji yang langsung menelepon tanpa prosedur resmi dan menilai tindakan tersebut kurang bijak, apalagi dilakukan terhadap warga biasa yang tidak memiliki kuasa seperti pejabat.
“Kalau memang dari instansi pemerintah, harusnya kan ada surat. Ini nggak ada surat, nggak ada apa-apa, tahu-tahu ditelepon dan dibentak. Saya merasa jadi korban dalam hal ini,” tutup Diana.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, terkait klarifikasi dari Janhwa Diana. (Red)


****************************************












