Badung |Nusantara Jaya News – Penanganan pasien tumor otak, terutama yang menjalani operasi, berbeda jauh dibanding operasi umum seperti usus buntu. Pasien hampir selalu dirawat di ICU pasca operasi karena tindakan berlangsung lama dan berisiko tinggi.
Hal itu disampaikan dr. Steven Awyono, Sp.BS, FTO, Spesialis KIH Kdn, saat menjelaskan kompleksitas operasi tumor otak, di acara Focus Group Discussion Kasih Ibu Hospital Kedonganan Bersama Sahabat Media, dengan tema “Meningkatkan Literasi Publik Tentang Tumor Otak”, senin (20/4/2026) di Aula Lantai 2 Kasih Ibu Hospital Kedonganan.
Menurut dr. Steven, operasi tumor otak membutuhkan waktu panjang, di atas 6 jam. Semakin panjang operasinya, semakin lama pasien di ICU. ICU diperlukan karena otak tidak bisa langsung “dipaksa” bekerja maksimal setelah dibedah.
“Kita harus memastikan setelah operasi, otak itu perlahan-lahan disadarkan, dibuat bangun, berfungsi, perlahan-lahan. Kalau operasi susah di bagian otak yang penting, kita tidak bisa langsung memaksa otak bekerja maksimal,” jelasnya.
Keunggulan penanganan tumor otak saat ini, kata dr. Steven, adalah adanya dokter anestesi khusus bedah saraf atau neuroanestesi di Kasih Ibu Hospital Kedonganan.
“Kita memiliki dokter bius khusus untuk penyakit bedah saraf. Perannya sangat penting sebelum, saat, dan pasca operasi untuk membuat kondisi otak optimal,” ungkapnya.
Ia menegaskan, setiap operasi otak memiliki risiko karena ada manipulasi pada jaringan otak sehat untuk memisahkan tumor atau perdarahan. Salah satu komplikasi yang diwaspadai adalah perdarahan pasca operasi.
“Untuk deteksi dini komplikasi, setelah operasi kita lakukan imaging lagi, CT Scan atau MRI. Tujuannya mengetahui ada tidak perdarahan. Mata awam susah bedakan mana tumor, mana yang bukan. Tapi ada teknologi yang membuat warna tumor berbeda. Ada warna pink dan kuning. Teknologi ini dikembangkan agar kita bisa lebih presisi membedakan jaringan tumor,” jelasnya.
Soal angka kasus, dr. Steven menyebut belum ada penelitian khusus di Bali. Namun di salah satu rumah sakit rujukan, kasus baru tumor otak bisa mencapai 10 pasien per minggu.
“Angka yang tinggi ini yang harus kita tangani. Upayanya sekarang mencetak spesialis bedah saraf lebih banyak, lebih cepat, dan pemberdayaan ke daerah lain agar penanganan lebih optimal, tidak hanya di Bali,” tutup dr. Steven.(Tik)














