Surabaya |Nusantara Jaya News — Suasana penuh kehangatan dan semangat persaudaraan lintas agama terasa dalam kegiatan Cangkruk’an di Bulan Maria yang digelar di Jl. Mojopahit No. 17, Surabaya, Sabtu malam (23/5/2026). Mengangkat tema “Bunda Maria: Membangun Titik Temu Katolik–Islam”, kegiatan ini menjadi ruang dialog santai namun sarat makna tentang pentingnya toleransi dan perdamaian di tengah keberagaman masyarakat.
Acara yang dihadiri berbagai kalangan lintas iman tersebut menghadirkan narasumber Gus Aan Anshory dan Simon Untara, dengan dipandu moderator Maria Sekar Lestari. Dengan konsep cangkruk’an yang akrab dan inklusif, peserta tampak antusias mengikuti jalannya diskusi hingga malam hari.
Dalam pemaparannya, Gus Aan Anshory menyampaikan bahwa sosok Bunda Maria menjadi simbol penting yang dihormati dalam dua tradisi besar, yakni Katolik dan Islam. Menurutnya, nilai kasih sayang, ketulusan, dan kemanusiaan yang melekat pada figur Maria dapat menjadi jembatan memperkuat hubungan antarumat beragama.
“Perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh. Justru dari keberagaman itulah lahir kesempatan untuk membangun persaudaraan yang lebih kuat,” ujarnya di hadapan peserta dialog.
Sementara itu, Simon Untara menegaskan bahwa forum lintas agama seperti ini perlu terus dihidupkan dengan pendekatan yang dekat dengan masyarakat. Ia menilai dialog tidak harus selalu berlangsung formal, namun bisa dibangun melalui suasana santai yang menghadirkan rasa saling mengenal.
“Cangkruk’an ini menjadi ruang kebersamaan agar masyarakat bisa saling memahami tanpa sekat. Dari titik temu itulah toleransi tumbuh secara nyata dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Tidak hanya menghadirkan diskusi interaktif, kegiatan juga dimeriahkan dengan sesi Pelukis On The Spot yang menampilkan karya kreatif dari Kak Herry, Mas Buggix, Cak Har, Ochez Sumantri, dan Sugeng Lanang. Kehadiran para seniman tersebut menambah nuansa budaya dan kebersamaan dalam acara lintas iman itu.
Peserta yang hadir tampak menikmati suasana dialog yang cair, penuh penghormatan, dan jauh dari nuansa perdebatan. Banyak di antara mereka berharap kegiatan serupa dapat terus digelar sebagai upaya memperkuat harmoni sosial di Kota Surabaya.
Melalui kegiatan ini, semangat toleransi dan persaudaraan antarumat beragama kembali ditegaskan bahwa perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk hidup berdampingan secara damai, melainkan kekuatan untuk membangun Indonesia yang rukun dan berkeadaban.(Ab)













