banner 1000x130
Berita  

GMNI Pematangsiantar kecam dugaan intimidasi oknum intelijen di sekretariat organisasi

banner 2500x130 banner 1000x130

PEMATANGSIANTAR |Nusantara Jaya News – Tindakan yang diduga dilakukan oleh oknum yang mengaku sebagai aparat intelijen di Sekretariat GMNI Pematangsiantar menuai kecaman dari kalangan mahasiswa. Kehadiran oknum tersebut untuk melakukan “wawancara” terkait isu “Pesta Babi” dinilai sebagai bentuk intimidasi dan teror psikologis terhadap organisasi kemahasiswaan. (8/5)

 

banner 1000x130

Ketua DPC GMNI Pematangsiantar, Nicolas Gurning, menyampaikan kritik keras terhadap metode pengawasan yang dianggap represif dan tidak profesional. Menurutnya, sekretariat organisasi merupakan ruang diskusi intelektual dan perjuangan mahasiswa, bukan tempat untuk melakukan intimidasi terselubung terhadap kader.

 

“Sekretariat GMNI adalah rumah bagi kaum marhaenis untuk berpikir dan berjuang, bukan ruang interogasi. Jika ada oknum aparat datang tanpa surat tugas resmi dan melakukan pendataan yang tendensius, maka ini merupakan ancaman terhadap kebebasan berorganisasi,” tegas Nicolas.

 

Ia juga menilai narasi “Pesta Babi” yang dijadikan alasan wawancara berpotensi menjadi bentuk stigmatisasi terhadap kegiatan kebudayaan yang dilakukan kalangan pemuda. Menurutnya, situasi tersebut diduga bukan persoalan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari upaya membatasi ruang gerak kritis mahasiswa di Kota Pematangsiantar.

 

“Kami menduga ada upaya menciptakan rasa takut di kalangan kader agar tidak lagi kritis terhadap isu-isu sosial. Intelijen seharusnya bekerja untuk keamanan negara, bukan mendatangi sekretariat mahasiswa untuk melakukan pendataan yang tidak relevan,” ujarnya.

 

GMNI Pematangsiantar juga menilai apabila tindakan serupa terus dibiarkan, maka iklim demokrasi dan kebebasan berpendapat di Kota Pematangsiantar berada dalam ancaman serius. Karena itu, pihak kepolisian dan pimpinan aparat keamanan diminta memberikan perhatian serta memastikan seluruh anggotanya bekerja sesuai koridor hukum dan menghormati hak asasi manusia.

 

“Aparat harus diberi peringatan agar tidak menggunakan pengaruh kekuasaan untuk masuk ke ranah privat organisasi. Pemuda dan mahasiswa harus tetap menjadi kontrol sosial yang bebas dari bayang-bayang intimidasi,” lanjutnya.

 

Sebagai organisasi yang berpegang pada ajaran Bung Karno, GMNI Pematangsiantar mengajak seluruh elemen aktivis dan mahasiswa untuk tetap solid serta tidak gentar menghadapi berbagai bentuk upaya pembungkaman.

 

“Mahasiswa harus tetap berani. Jangan sampai marwah gerakan runtuh hanya karena intimidasi kecil yang mencoba mengerdilkan nyali perjuangan,” tutup Nicolas Gurning. (Spt)

banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130