JEMBER |Nusantara Jaya News – Inovasi kreatif mahasiswa Politeknik Negeri Jember kembali menarik perhatian publik. Kali ini, sekelompok mahasiswa berhasil mengolah limbah kulit singkong menjadi produk mie kering dan mie siap saji yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat kesehatan.
Produk tersebut diperkenalkan dalam sebuah kegiatan pameran UMKM dan inovasi mahasiswa di Jember pada Jumat (16/5/2026). Inovasi ini hadir sebagai bentuk penerapan konsep circular industry, yakni pengolahan limbah menjadi produk baru yang bernilai guna dan ramah lingkungan.
Perwakilan mahasiswa mba’ Anggi menjelaskan bahwa ide pemanfaatan kulit singkong muncul karena melimpahnya limbah singkong di Kabupaten Jember yang selama ini hanya dibuang begitu saja. Padahal, menurut mereka, kulit singkong masih memiliki kandungan nutrisi dan serat yang baik apabila diolah dengan benar.
“Kami dari Politeknik Negeri Jember membuat produk olahan dari kulit singkong. Kenapa memilih kulit singkong? Karena ini bagian dari inovasi circular industry. Biasanya kulit singkong hanya dibuang, padahal bisa dimanfaatkan menjadi produk olahan yang bernilai,” ujar Anggi mahasiswa pengembang produk.
Dalam proses produksinya, mahasiswa menggunakan bagian dalam kulit singkong yang diolah melalui beberapa tahapan khusus agar aman dikonsumsi. Tahapan awal dimulai dengan pencucian menggunakan garam dan cuka untuk menetralisasi kandungan asam sianida yang terdapat pada kulit singkong.
Setelah itu, kulit singkong direndam dan air rendamannya diganti sebanyak tiga hingga empat kali dalam sehari. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan kandungan berbahaya benar-benar berkurang sebelum memasuki tahap perebusan.
“Setelah direndam, kulit singkong direbus selama kurang lebih satu jam, kemudian diblender hingga menjadi adonan untuk pembuatan mie,” jelasnya.
Hasil olahan tersebut kemudian diproduksi menjadi dua jenis produk, yakni mie kering instan dan mie siap saji. Produk tersebut saat ini masih dipasarkan secara terbatas di lingkungan kampus, teman sebaya, komunitas pecinta makanan sehat, serta melalui media sosial dan berbagai event pameran.
Untuk harga jual, mie instan berbahan kulit singkong dipasarkan dengan harga Rp9.000 per kemasan, sementara varian siap saji dijual seharga Rp12.000.
Mahasiswa berharap inovasi tersebut ke depan dapat berkembang lebih luas dan diterima masyarakat sebagai alternatif makanan sehat berbahan limbah yang memiliki nilai manfaat tinggi.
“Kami berharap masyarakat semakin memahami bahwa kulit singkong sebenarnya masih bisa diolah menjadi makanan yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi,” ungkapnya.
Dukungan terhadap inovasi tersebut datang dari Koordinator MAKI Jatim, Heru Satryo. Ia mengapresiasi kreativitas mahasiswa Politeknik Negeri Jember yang mampu menghadirkan solusi pengolahan limbah menjadi produk pangan inovatif.
Menurut Heru, langkah berikutnya yang harus diperkuat adalah pengembangan pasar dan pengurusan legalitas usaha agar produk dapat berkembang secara profesional dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Inovasi dari adik-adik Politeknik Negeri Jember ini sangat bagus, terutama dalam pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai. Tinggal bagaimana penguatan di sektor pasar dan pengurusan perizinan,” ujar Heru Satryo.
Ia menambahkan, seluruh aspek legalitas dan administrasi perusahaan harus dilengkapi agar produk tersebut nantinya dapat masuk ke pasar yang lebih besar dan dipercaya masyarakat luas.
“Pengurusan perizinan harus dimantapkan dan dilengkapi secara perusahaan sehingga secara perlahan pasar akan terbuka. Kita siap mendukung sepenuhnya inovasi dari adik-adik Politeknik Negeri Jember,” tegasnya.
Inovasi mie berbahan kulit singkong ini menjadi bukti bahwa kreativitas generasi muda mampu menghadirkan solusi baru dalam pengelolaan limbah sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif berbasis pangan lokal di Kabupaten Jember. (Red)













