SURABAYA |Nusantara Jaya News – Di tengah anggapan sebagian masyarakat bahwa kesuksesan harus diraih pada usia muda, sosok Dr. Koen Irianto Uripan, SH., SM., MM., justru membuktikan bahwa pendidikan dan pengembangan diri tidak mengenal kata terlambat. Perjalanan hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan membuka peluang baru di setiap fase kehidupan.
Dalam program Ruang Karir JTV yang tayang pada 19 Mei 2026, Dr. Koen Irianto Uripan berbagi pengalaman hidupnya yang penuh perjuangan dan semangat pantang menyerah. Saat ini, ia menjabat sebagai Koordinator Program Studi Magister Manajemen (S2 MM) STIE ABI Surabaya, sekaligus dikenal sebagai CEO Naken, konsultan senior bidang pemasaran, serta mitra pemerintah dalam berbagai program kesehatan lingkungan dan pendampingan Kampung Pancasila di Kota Surabaya.
Perjalanan akademik Dr. Koen menjadi bukti nyata bahwa usia bukanlah penghalang untuk menuntut ilmu. Ia berhasil meraih gelar Sarjana Hukum pada usia 42 tahun, melanjutkan pendidikan Magister Manajemen pada usia 44 tahun, hingga akhirnya menyelesaikan Program Doktor bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga pada tahun 2021 saat berusia 59 tahun.
“Tidak ada kata terlambat untuk belajar hal baru, mencari ilmu, dan membuka peluang-peluang baru dalam kehidupan,” ungkapnya.
Menurut Dr. Koen, perubahan zaman yang begitu cepat menuntut setiap individu untuk terus meningkatkan kualitas diri. Keterampilan dan kemampuan beradaptasi menjadi modal utama agar seseorang tetap relevan dalam dunia kerja maupun dunia usaha.
“Dunia ini sudah berubah. Kita perlu meningkatkan kualitas diri melalui keterampilan dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk era digital saat ini. Kalau kita tidak menyesuaikan diri, kita akan tertinggal,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa banyak pekerja yang setelah bertahun-tahun bekerja merasa jenuh dan ingin beralih ke dunia bisnis. Namun tidak sedikit yang mengalami kegagalan karena kurang memiliki keterampilan yang memadai. Oleh sebab itu, kemampuan belajar dan mengembangkan diri menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan.
“Kita tidak boleh hanya menguasai satu bidang saja. Sebaiknya memiliki banyak keterampilan agar mudah beradaptasi. Dalam organisasi pun demikian, seseorang harus mau belajar lintas bidang karena peluang karier tidak terbatas pada satu posisi saja,” katanya.
Perjalanan hidup Dr. Koen tidaklah mudah. Ia mengawali karier sebagai buruh pabrik di kawasan industri Rungkut, Surabaya. Selama enam tahun bekerja sebagai buruh, dirinya terus menyimpan mimpi untuk berkembang dan meraih kehidupan yang lebih baik.
Latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) serta kondisi ekonomi keluarga yang sederhana sempat membuatnya mengubur impian untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
“Saya berasal dari keluarga sederhana. Ayah saya seorang tentara dan kondisi ekonomi kami terbatas. Setelah lulus sekolah saya langsung bekerja sebagai buruh pabrik,” kenangnya.
Namun, di tengah keterbatasan tersebut, ia selalu memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu meraih kehidupan yang lebih baik. Motivasi itu muncul ketika melihat orang-orang sukses yang berhasil membangun karier dan kehidupan yang mapan.
“Kalau dalam kehidupan, kita harus melihat ke atas sebagai motivasi. Saya melihat banyak orang sukses, banyak pejabat, banyak pengusaha. Saya berpikir, kenapa saya tidak bisa seperti mereka?” tuturnya.
Keyakinan tersebut menjadi bahan bakar semangat yang terus mendorongnya untuk berkembang. Ia kemudian beralih profesi menjadi salesman dan perlahan menunjukkan prestasi hingga dipercaya menduduki berbagai posisi strategis dalam perusahaan.
Kariernya terus menanjak. Bahkan ia sempat mendapat kesempatan mengikuti pelatihan dan penugasan di Belanda selama beberapa bulan. Pengalaman tersebut semakin membuka wawasan dan menyadarkannya akan pentingnya pendidikan formal.
“Ketika saya menjadi pimpinan dan banyak staf saya adalah sarjana, saya mulai berpikir bahwa saya juga harus kuliah. Saya ingin memiliki kemampuan berpikir yang lebih terstruktur dan memahami manajemen secara lebih mendalam,” katanya.
Keinginan tersebut akhirnya diwujudkan saat usianya menginjak 38 tahun. Meski mendapat berbagai komentar miring dari lingkungan sekitar yang mempertanyakan keputusannya untuk kuliah di usia yang tidak lagi muda, ia tetap melangkah dengan penuh keyakinan.
“Ada yang bilang, sudah tua ngapain kuliah. Anak-anak juga sudah besar. Tapi saya yakin bahwa keterampilan dan pengetahuan harus terus diperbarui. Kalau ingin hidup berubah, kita harus menciptakan lembaran baru dalam hidup kita,” ujar Dr. Koen.
Bagi Dr. Koen, pendidikan bukan sekadar memperoleh gelar, melainkan sarana untuk membangun pola pikir, meningkatkan kompetensi, dan memperluas kesempatan. Kampus menjadi tempat yang membentuk cara berpikir sistematis dan kemampuan manajerial yang sangat dibutuhkan dalam dunia profesional.
Ia menegaskan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Setiap orang memiliki waktu dan jalannya masing-masing dalam meraih impian.
“Jangan pernah merasa terlambat. Selama masih memiliki semangat dan kemauan belajar, selalu ada peluang baru yang bisa diraih. Yang penting adalah keberanian untuk memulai,” tegasnya.
Kisah hidup Dr. Koen Irianto Uripan menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Dari seorang buruh pabrik hingga menjadi doktor, akademisi, konsultan, dan pemimpin program studi, perjalanan panjangnya mengajarkan bahwa pendidikan, kerja keras, dan semangat belajar sepanjang hayat adalah kunci untuk membuka pintu-pintu kesempatan yang lebih luas.(Red)















