Surabaya |Nusantara Jaya News – Seorang walimurid di Sidodadi, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya, putus asa lantaran buah hatinya tidak bisa diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri melalui pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Dampak keputus asaan walimurid tersebut, buah hatinya bernama Moch. Rehan Saputra yang ditunjuk-tunjuk lulusan dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sidodadi 1 Surabaya, terancam tidak bisa melanjutkan ke jenjang sekolah berikutnya atau putus sekolah.
Menurut Junaidi walimurid dari Moch. Rehan Saputra, segala upaya perjuangan untuk mendaftarkan sekolah buah hatinya melalui SPMB secara online sudah dilakukan. Namun, upayanya semua gagal.
“Segala upaya sudah saya lakukan di SPMB online. Mulai dari pendaftaran di jalur Afirmasi maupun jalur prestasi hingga terakhir pada jalur domisili, anak saya tidak diterima. Entah kenapa,” ucap Junaidi, kepada wartawan koran ini, Selasa (07/07/2026).
Lanjut Junaidi, pada jalur domisili, sempat terdata. Namun, dilihat terakhir tadi pagi nama Moch. Rehan Saputra, sudah pada status penerimaannya tidak diterima.
“Entah kenapa dengan sistem SPMB online ini, padahal sekolahan yang dituju jaraknya tidak jauh dari rumah. Hanya sekitaran kurang lebih setengah kilo meter,” tutur Junaidi.
Kemarin juga begitu, waktu daftar di jalur afirmasi juga tidak masuk. Kemungkinan besar kami digolongkan keluarga yang ekonominya berlebihan atau mampu oleh pemerintah kota Surabaya.
“Sampean (anda,red), lihat saja rumah saya. Ukurannya hanya memiliki lebar 1,5 meter dan panjang 2 meter. Kami disini tidur berempat. Begitu pula bantuan apapun mulai dulu tidak pernah dapat dari pemerintah,” tandasnya.
Bapak dua anak yang kesehariannya bekerja serabutan, meminta pemerintah Kota Surabaya mengabulkan harapannya agar putranya yang bernama Moch. Rehan Saputra, bisa melanjutkan sekolah yang gratis tanpa ada pembayaran apapun.
“Harapan saya kepada pemerintah, khusunya Dinas Pendidikan Kota Surabaya, agar Moch. Rehan Saputra bisa melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya yang tidak ada pembayaran apapun seperti sekolah SMP Negeri 41 maupun SMP Negeri 44 Surabaya yang dekat dari rumah,” harap Junaidi.
“Jujur, kalau melanjutkan ke jenjang berbayar seperti swasta saya tidak sanggup untuk membayarnya, lebih baik saya diamkan saja dirumah. Bukannya apa, saya hanya kerja serabutan kadang dapat uang dan kadang tidak. Kalau dapat uang itupun hanya cukup buat makan dan beli susu anak saya yang paling kecil,” sambungnya.
Jurnalis(Taufik)
















