Gianyar – nusantarajayanews. id | Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) telah mengumumkan program lengkapnya, yang mencakup lebih dari 100 acara. Tahun ini, UWRF menghadirkan beragam cerita tentang manusia dan kehidupan, mengajak kita untuk memahami diri sendiri, mendengarkan sudut pandang orang lain, dan bersama-sama menciptakan perubahan.
Memasuki tahun ke-23, dan sebagai salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara, UWRF kembali hadir di Ubud, pusat budaya Bali, pada 21–25 Oktober. Lebih dari 150 penulis, pemikir, jurnalis, dan penyair terkemuka dari Indonesia dan sekitarnya akan berkumpul dalam lebih dari 100 sesi percakapan dan diskusi panel.
Tahun ini, UWRF menghadirkan beragam cerita tentang manusia dan kehidupan, membuka wawasan, membangun empati, dan mendorong kita untuk menciptakan perubahan, sesuai dengan tema Samarasā: Awareness. Empathy. Action.
“Di tengah dunia yang semakin terpecah, kesadaran membantu kita melihat segala sesuatu dengan lebih jernih di tengah begitu banyak suara. Empati membantu kita memahami satu sama lain dan menemukan jalan untuk saling terhubung,” ujar Janet DeNeefe, Founder dan Director UWRF.
“Namun, kesadaran dan empati perlu diwujudkan dalam tindakan. Tindakanlah yang membuat perubahan bisa terjadi. Semangat ini hadir dalam seluruh program tahun ini, mulai dari percakapan bersama penulis, diskusi panel, makan siang sastra, hingga pertunjukan spoken word yang berlangsung hingga larut malam.”lanjutnya.
Kesadaran bisa berawal dari pengalaman yang paling dekat dengan kita. Salah satunya hadir dalam sesi percakapan bersama Tari Lang, yang akan membagikan kisah dalam memoarnya, My Neighbour, The Dictator, yang menceritakan tentang kehidupannya sebagai gadis berusia 14 tahun pada 1965, ketika kudeta Jenderal Soeharto membuat kedua orang tuanya dipenjara tanpa peradilan.
Pengalaman itu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Tari dan turut membentuk dirinya hingga hari ini. Ia juga akan berbagi tentang bagaimana sejarah tersebut terus memengaruhi kehidupan dan cara pandangnya.
Keberanian untuk bersuara menjadi salah satu tema yang hadir dalam sejumlah sesi tahun ini, yang membahas kebenaran, sensor, dan kebebasan berekspresi. Dalam sesi yang berjudul Defying Silence Together, jurnalis investigasi Dandhy Laksono akan berbincang dengan novelis Randa Abdel-Fattah, yang batal tampil di Adelaide Writers’ Week dan kemudian mendapat dukungan dari sejumlah peserta yang memilih menarik diri dari festival tersebut.
Dua sesi lainnya, Forbidden Stories: Banned Media and Magazines bersama aktivis hak asasi manusia Todung Mulya Lubis, dan sesi The Violence of Culture bersama Michael Shaikh dan Yirga Gelaw Woldeyes, akan membahas lebih jauh tentang risiko dan tantangan yang dihadapi mereka yang memilih untuk bersuara.
Selain pembungkaman dan represi, perkembangan teknologi juga menjadi salah satu isu yang dibahas UWRF tahun ini. Ketika kecerdasan buatan mulai mengubah cara kita hidup dan bercerita, dua sesi akan membahas bagaimana teknologi memengaruhi kehidupan dan dunia yang kita tinggali. Sesi yang berjudul Burning Books, Accepting Artifice: Man or Machine menghadirkan Brian Lang dan Dee Lestari, sementara sesi Reimagining the World: Nation-state and Technology menghadirkan Richard King bersama novelis Inggris Rana Dasgupta.
Festival tahun ini tidak hanya membahas siapa yang bercerita, tetapi juga siapa yang mendapat kesempatan untuk menyuarakan kisahnya. UWRF menghadirkan beragam suara dari berbagai negara dan latar belakang, dengan semangat untuk membangun hubungan dan solidaritas di tengah perbedaan.
Melalui The Bandung Conference of Writers, para penulis dari Asia dan Afrika akan berkumpul untuk menghidupkan kembali semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Sementara itu, Literature: A Mirror to the World mempertemukan pemenang Man Booker Prize 2006, Kiran Desai, dan penulis Palestina Adania Shibli dalam percakapan yang mempertanyakan berbagai kekuatan yang menentukan posisi dan peran kita dalam masyarakat.
Suara perempuan dan persoalan tentang tubuh menjadi salah satu bagian penting dalam program tahun ini, mengangkat isu-isu yang masih sering luput dari perhatian. Dalam Women Who Write Women, akademisi, aktivis, dan penulis keturunan Afrika Selatan-Australia Sisonke Msimang akan berbincang bersama penulis Bali Oka Rusmini dan sejumlah pembicara lainnya tentang pengalaman dan suara perempuan dalam berbagai konteks.
Sementara itu, The Domestic is Political, bersama Amanda Echanis, membahas bagaimana hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan ruang domestik juga berkaitan dengan persoalan yang lebih luas di masyarakat. Dalam Translating Women is Translating Change, Tiffany Tsao, yang masuk dalam daftar panjang International Booker Prize 2022, akan membahas bagaimana cerita perempuan dapat terus hidup dan menjangkau pembaca melalui proses penerjemahan.
Di antara berbagai tema yang dibahas, Festival tahun ini juga memberi ruang pada pengalaman yang dengan kehidupan kita: kehilangan dan bertambahnya usia. Dalam The Story of a Heart, dokter perawatan paliatif sekaligus penulis buku laris Rachel Clarke berbagi kisah tentang kehidupan, kematian, dan sisi kemanusiaan dalam dunia perawatan paliatif.
Sementara itu, penulis Pakistan Fatima Bhutto berbicara tentang kekerasan dan perjuangan untuk bertahan hidup melalui The Hour of the Wolf. Melalui Ageing: A Social Movement, David Carlin dan Peta Murray, penulis bersama How to Dress for Old Age, mengajak kita melihat proses menua dengan cara yang berbeda. Sesi ini membicarakan bagaimana kita dapat menjalani usia lanjut dengan tetap memiliki suara, pilihan, dan kehidupan yang kita inginkan, dengan pendekatan yang tajam sekaligus jenaka.
Jurnalis investigasi dan pembuat film Dandhy Laksono akan membahas bukunya, Reset Indonesia, yang mengangkat isu reformasi sosial-politik dan keadilan lingkungan.
Sementara itu, penulis sekaligus musisi Reda Gaudiamo mengajak kita melihat dunia sastra anak melalui Big Worlds for Little Readers. Ia akan berbagi tentang bagaimana menulis untuk pembaca muda, sekaligus menghadirkan cerita yang mampu membicarakan tema-tema besar dengan bahasa yang sederhana, hangat, dan penuh imajinasi.
Ali Sethi akan hadir untuk pertama kalinya di UWRF. Penulis, komponis, dan performer Pakistan-Amerika yang dikenal luas melalui lagu hit Pasoori ini akan berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya, serta hubungan antara musik, budaya, kerinduan, dan identitas dalam sebuah sesi percakapan di Ubud. “Kami sangat bangga dapat menghadirkan Ali Sethi di Festival tahun ini. Karyanya mencerminkan semangat yang ingin kami hadirkan di UWRF: mengangkat cerita dan pengalaman manusia, memberi ruang bagi kerinduan dan identitas, serta mengingatkan kita pada kemampuan manusia untuk berubah, beradaptasi, berharap, mencintai, mendengarkan, dan didengarkan,” ujar Namal Siddiqui, Head of Programming.
Tiket Festival kini telah tersedia, dengan pilihan 4-Day Festival Pass dan 1-Day Festival Pass. 1-Day Festival Pass memberikan akses ke seluruh program utama pada hari yang dipilih, sementara 4-Day Festival Pass memberikan keleluasaan untuk datang dan mengikuti program selama empat hari Festival, 22-25 Oktober.
Informasi mengenai tiket, harga khusus, dan pertanyaan yang sering diajukan (FAQ) tersedia di ubudwritersfestival.com/tickets.
Special Event, Masterclass, dan Cultural Workshop merupakan program khusus yang memiliki tiket terpisah dan dirilis secara bertahap.(tik).














