SURABAYA |Nusantara Jaya News – Sabtu siang (28/2/2026), di sepanjang Jalan Dr. Ir. Soekarno (MERR) Surabaya nampak seorang pria terduduk lesu dengan tatapan kosong. Pria itu adalah Riz Nasution (29), perantau asal Medan yang sedang kehilangan arah secara harfiah maupun mental.
Infomasi disampaikan Riz, dirinya adalah potret pilu pekerja migran domestik yang menjadi korban eksploitasi. Jauh-jauh meninggalkan Medan demi mengadu nasib di sebuah perkebunan sawit di Kalimantan, ia justru berakhir tragis. Mandor yang menjanjikannya kesejahteraan menghilang tanpa jejak. Tak hanya gaji yang tak dibayar, seluruh surat identitas Riz pun dibawa lari, meninggalkannya tanpa jati diri di tanah orang.
Perjalanannya mencapai Surabaya adalah keajaiban kecil di tengah kemalangan. Berkat belas kasihan anak buah kapal (ABK) yang iba melihat kondisinya, Riz berhasil menyeberang hingga ke Surabaya. Namun, setibanya di Kota Pahlawan, ia buntu. Tanpa uang sepeser pun dan tanpa identitas, ia hanya bisa berjalan kaki menyusuri jalan MERR dalam kondisi linglung.
Menemukan kondisi tersebut, jurnalis media ini segera merangkulnya dan mengantarkannya ke Polsek Gubeng untuk mendapatkan perlindungan.
*Sentuhan Humanis di Polsek Gubeng*
Kedatangan Riz disambut hangat oleh Aiptu Ben Kaya dan Aipda Eko. Alih-alih langsung dihujani pertanyaan administratif yang kaku, kedua personel Polrestabes Surabaya ini justru mengajaknya berbincang santai. Obrolan ringan tentang kampung halaman dan kondisi fisiknya perlahan mencairkan trauma yang menyelimuti Riz.
“Kami ingin dia merasa aman dulu. Kalau mentalnya sudah tenang, baru kita bicara solusi,” ujar Aiptu Ben Kaya selaku Perwira Samapta Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Gubeng.
Benar saja, setelah suasana mencair, Riz mulai mengingat nomor kontak keluarganya di Medan. Saat dihubungi melalui telepon, pihak keluarga awalnya ragu dan sempat khawatir berurusan dengan pihak berwajib. Namun, dengan ketelatenan dan penjelasan yang humanis dari Aiptu Ben Kaya, rasa curiga itu berubah menjadi isak tangis haru dan ucapan terima kasih yang mendalam.
Petugas Polsek Gubeng saat menghubungi keluarga korban melalui sambungan telepon di Medan Sumatra Utara (HarsonoPG)
*Jembatan Menuju Pulang*
Polisi tidak membiarkannya pergi begitu saja dengan tangan hampa. Aiptu Ben Kaya segera membuatkan surat pengantar resmi yang ditujukan kepada instansi terkait seperti Dinas Sosial Kota Surabaya dan Dinas Perhubungan untuk memfasilitasi kepulangannya ke Sumatera.
Bahkan, sisi kemanusiaan Aiptu Ben melampaui tugas kedinasannya. Secara pribadi, ia memberikan bekal uang saku untuk makan dan ongkos transportasi menuju Terminal Purabaya (Bungurasih). Dari terminal itulah, Riz akan memulai langkah pertamanya kembali ke pelukan keluarga di Medan melalui jalur darat.
Di ambang pintu Polsek Gubeng, langkah Riz tak lagi gontai. Ada harapan baru yang terpancar dari wajahnya. Surabaya, melalui tangan-tangan dingin aparatnya, telah membuktikan bahwa kemanusiaan masih sangat subur di kota ini.
*Pesan Penting bagi Masyarakat*
Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kepedulian warga. Kapolsek Gubeng Kapolsek Kompol. Eko Sudarmanto, S.Sos. menyampaikan imbauan jika masyarakat menemukan warga yang terlantar, mengalami tindak kriminal, atau membutuhkan bantuan darurat di wilayah Surabaya, segera hubungi saluran resmi berikut:
1. Layanan Darurat Polisi: Hubungi Call Center 110 (Bebas pulsa, 24 Jam) untuk respons cepat dari kepolisian terdekat.
2. Command Center Surabaya: Hubungi Call Center 112 untuk bantuan medis, sosial, maupun kedaruratan umum yang terintegrasi dengan Pemerintah Kota Surabaya.
3. Aplikasi Polisiku: Gunakan aplikasi resmi Polri untuk melaporkan kejadian atau mencari bantuan dimanapun Anda berada.
“Jangan ragu melapor. Kami hadir untuk menjadi pelindung dan pelayan masyarakat dalam situasi sulit sekalipun,” tegas Kaplosek Gubeng.(Tfk)
















