Denpasar – Nusantarajayanews.id | Bali International Film Festival ke-19 resmi menayangkan International Premiere film dokumenter berjudul “The Madness Of moonlight” yang merupakan karya Leigh-Ann Beverley dari Amerika Serikat.
Film ini masuk kategori In Competition dan menjadi salah satu tayangan unggulan Balinale 2026, yang ditayangkan, di Icon Bali Mall, Cinema XXI, The Meru Sanur, dan Bali Beach Hotel.
Frank Pollaro, menceritakan sinopsis dari film ” The Madness Of Moonlight”, bagaimana film ini membawa penonton ke sebuah bengkel yang tenang, jauh dari dunia produksi massal. Dimana sekelompok master craftspeople bertekad menciptakan sesuatu yang luar biasa yakni sebuah piano. Tapi piano ini berbeda.
“Film ini menggambarkan proses panjang yang mengubahnya menjadi sebuah patung, sebuah kisah, dan sebuah warisan. Kamera Leigh-Ann Beverley menangkap detail intim kerja tangan dari pemilihan material langka sampai sentuhan akhir di bawah cahaya yang menginspirasi judul “Moonlight”, “kata Frank, selasa (2/6/2026).
Judul “The Madness of Moonlight” sendiri merujuk pada “kegilaan indah” para pengrajin. Obsesi, kesabaran ekstrem, dan kerja larut malam demi presisi yang tak bisa ditiru mesin. Di era serba cepat, film ini menjadi pengingat bahwa kemewahan sejati adalah waktu dan keahlian.
Film ini juga menyorot sosok seorang Frank Pollaro, pendiri Pollaro Furniture yang disebut sebagai master artisan dan bespoke designer-maker, dimana namanya sudah terkenal di kalangan kolektor elite dunia seperti David Geffen, Steven Spielberg, Larry Ellison, hingga Brad Pitt.
Pollaro juga memegang rekor membuat Steinway art case piano terbanyak dalam sejarah, dan kini berkolaborasi dengan Bösendorfer, pembuat piano tertua di dunia.
“Lewat Balinale ini, saya ingin menunjukkan bahwa film dokumenter karya Pollaro bukan sekadar furniture atau alat musik, tetapi cerita nyata yang pantas dialami,”tambahnya.
Penayangan film tentang pengrajin Amerika ini berdialog dengan kategori baru Balinale 2026 yaitu Best Indonesian Short, Tapestry of Indonesia. Kategori ini merayakan kekayaan kerajinan lokal, dari ukir kayu Bali sampai tenun Nusantara.(tik).













