BINJAI |Nusantara Jaya News – Ketua EK LMND BINJAI, EW Gurky, melontarkan kritik tajam terhadap langkah Pemkot Binjai dalam penataan pedagang kaki lima (PKL).
Menurutnya, narasi yang dibangun pemerintah terkesan menutup mata terhadap realitas di lapangan yang masih sarat ketimpangan.
“Jangan bungkus ketidakadilan dengan kata ‘dialog’. Faktanya, penertiban di lapangan masih cenderung menyasar rakyat kecil, sementara pelanggaran lain yang lebih besar justru kerap dibiarkan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa yang turun menemui pedagang bukanlah pimpinan tertinggi daerah.
“Seharusnya Wali Kota Binjai, Amir Hamzah, yang turun langsung menemui pedagang. Jangan hanya diwakilkan. Ini menyangkut hajat hidup rakyat kecil,” ujarnya.
EW Gurky menilai kehadiran Hasanul Jihadi tidak cukup jika tidak diikuti keputusan konkret dan keberpihakan yang jelas.
“Turun ke lapangan itu bukan sekadar formalitas. Kalau hanya diwakilkan tanpa solusi nyata, ini menunjukkan kurangnya keseriusan,” lanjutnya.
Ia kemudian menyoroti adanya dugaan pembiaran terhadap sejumlah tempat usaha yang dinilai melanggar aturan.
“Tempat seperti Tuak Tabo, Mahkota Ponsel yang menggunakan trotoar, hingga Neo Cafe yang diduga berdiri di daerah aliran sungai (DAS), apakah sudah ditertibkan dengan tegas? Atau justru dibiarkan?” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini memperlihatkan ketimpangan dalam penegakan aturan.
“Kalau PKL cepat ditindak, tapi pelanggaran lain dibiarkan, ini tebang pilih. Hukum tidak boleh tajam ke bawah, tumpul ke atas,” tegasnya.
Ia menegaskan, pemerintah harus mendahulukan solusi sebelum penertiban.
“Relokasi dan solusi harus ada sebelum penertiban, bukan setelah rakyat kecil menangis karena digusur,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, ia menegaskan pembangunan harus berpihak pada rakyat kecil.
“Rakyat tidak butuh pencitraan. Rakyat butuh keadilan yang nyata,” tutupnya.
(IHB)












