JAKARTA |Nusantara Jaya News — Kompeten Akademi Muda Indonesia menggelar pelatihan dan sertifikasi Service Excellent sebagai bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) akademik di era kompetisi global. Kegiatan ini berlangsung pada 28 April hingga 1 Mei 2026 di Hotel Maia Jakarta, dengan melibatkan peserta dari berbagai fakultas di lingkungan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut).
Peserta berasal dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek), serta Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Sejumlah pimpinan fakultas turut hadir, di antaranya Dekan FKM Dr. Nursapia Harahap, M.A, bersama para akademisi seperti Prof. Dr. Hasrat Efendi Samosir, M.A, Dr. Asnil Aidah Ritonga, M.A, Dr. Irwansyah, M.H, Dr. Nurhanifah, M.A, Dr. M. Ridwan, M.Ag, dan Dr. Elfi Yanti Ritonga, M.A.
Direktur Kompeten Akademi Muda Indonesia, Dr. (C). Ivan Suaidi, S.Sos., M.M, menegaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan, tetapi juga pada pembentukan budaya pelayanan yang kuat di lingkungan akademik.
“Service excellent bukan sekadar keterampilan melayani, tetapi merupakan sikap dan budaya kerja yang harus dimiliki setiap individu. Melalui pelatihan ini, kami ingin mendorong lahirnya SDM yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berkarakter dalam memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.
Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Dr. Nursapia Harahap, M.A, menambahkan bahwa pelayanan prima menjadi elemen krusial dalam membangun kepercayaan publik, khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Pelayanan prima adalah fondasi kepercayaan. Kami berharap peserta mampu mengimplementasikan standar pelayanan yang profesional, humanis, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat,” ungkapnya.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber utama, Afrida Fitriyani Sipahutar, M.A, praktisi di bidang pelayanan dan pengembangan SDM. Ia menekankan bahwa pelayanan prima harus dibangun secara sistematis dan didukung oleh kompetensi komunikasi yang adaptif terhadap tuntutan global.
“Service excellent adalah kombinasi antara kompetensi, komunikasi, dan empati. Ketika ketiganya berjalan seimbang, kualitas layanan akan meningkat dan berdampak langsung pada kepuasan serta loyalitas pengguna layanan,” jelasnya.
Menariknya, dalam pelatihan ini peserta tidak hanya menerima materi konseptual, tetapi juga dilatih secara praktis melalui simulasi pelayanan menggunakan bahasa Inggris. Langkah ini dinilai penting sebagai upaya mendorong kesiapan institusi pendidikan menuju standar internasional.
“Kemampuan berbahasa Inggris dalam pelayanan menjadi nilai tambah yang strategis, terutama bagi kampus yang ingin memperluas daya saing di tingkat global,” tambahnya. (AH)













