banner 1000x130

Pameran “Vernal Artistic” Tampilkan Kebangkitan Kreatif 4 Perupa Alumni ISI Bali

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: null; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 128;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 38;
banner 2500x130 banner 1000x130

Denpasar – Nusantarajayanews.id | Pameran Vernal Artistic resmi digelar Jumat, 8 Mei 2026 di Griya Santrian, Sanur, Bali. Pameran ini menampilkan 23 karya dari empat seniman seni rupa alumni ISI Bali diantaranya, Putu Edi Asparanggi, I Gede Sugiada “Anduk”, Ida Bagus Suryantara “Cooh”, dan Dewa Gede Agung.

Mengusung tema Vernal Artistic atau “musim semi artistik”, pameran ini dimaknai sebagai penanda kebangkitan setelah masa jeda dan pengendapan gagasan.

banner 1000x130

Kurator I Made Susanta Dwitanaya menjelaskan, keempat perupa memilih berhenti sejenak dari panggung pameran untuk masuk ke “laboratorium kreatif”, mengevaluasi karya, dan meramu ide baru.

“Dari retakan itu mengalir cahaya, berkas sinar artistik yang segar. Garis mengalir dinamis, warna memuai dari tube yang lama tertutup, kanvas menjadi ladang persemaian ide,” ujar Susanta

Masing-masing Seniman menampilkan karakter dalam karyanya, Putu Edi Asparanggi menghadirkan nuansa surealistik dengan warna hangat dan makhluk mitologis Bali yang diolah secara personal. Dalam Ngintip Capung, sosok barong ditampilkan dengan ornamen dedaunan naturalistik, bukan stiliristik. Karya Bedawang mengeksplorasi kura-kura raksasa penyangga bumi versi mitologi Bali.

Seniman I Gede Sugiada “Anduk” menampilkan warna yang lebih bright dibanding periode sebelumnya. Komposisinya dinamis, memadukan figur tubuh plastis, tumbuhan ornamentik, dan bidang geometris dalam harmoni warna hangat.

Berbeda dengan Seniman Ida Bagus Suryantara “Cooh” lebih mengeksplorasi garis dan teknik sigar warna khas Bali. Ikonografi wayang dihadirkan dalam narasi personal, lepas dari epos tradisional. Selain kanvas, ia juga memamerkan karya berbahan bubur kertas dengan bentuk acak yang dilukis elemen alam dan tubuh manusia.

Sementara Dewa Gede Agung bergerak dari garis menuju ornamen. Ia memaknai karyanya sebagai siklus tumbuhan: biji sebagai gagasan, garis sebagai kecambah, lalu tumbuh menjadi sulur atau “util”. Visualnya hadir sebagai figur, ornamen,hingga komposisi abstrak monokrom.

Rektor Institut Seni Indonesia Bali, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn.,M.Sn. sekaligus membuka pameran menyambut gembira pameran ernal Artistic dan menyebut keempat perupa sebagai alumni ISI Bali yang progresif sejak kuliah.

“Saya mengamati kiprah mereka sejak masih menempuh studi era 2000-an hingga 2010-an. Mereka telah menunjukkan potensi kreatif dan banyak melakukan inisiatif di kampus,” ujarnya.

Prof. Wayan Adnyana menilai Vernal Artistic menjadi titik dinamika artistik generasi muda. Momen ini dimaknai sebagai fase perjalanan kreatif yang selalu berhasrat autentik. Pameran Vernal Artistic menjadi ruang temu gagasan yang terakumulasi dari proses jeda, eksplorasi, dan fermentasi waktu keempat perupa. Karya-karya mereka kini menyapa publik sebagai tunas musim semi yang tumbuh, membuka stomata, dan menyalurkan cahaya ke segala arah.(tik)

 

banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130