Badung – Nusantarajayanews. id | Pengelola DTW Pantai Pandawa menegaskan Pantai Pandawa dan Pantai Timbis bukan dua entitas terpisah, melainkan satu kawasan yang harus dikelola terintegrasi. Pendekatan profesional dan pemetaan pasar jadi kunci agar pertumbuhan kunjungan tidak membuat kawasan kewalahan.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan DTW Pantai Pandawa, I Wayan Duarta, saat diwawancarai Jumat (19/6/2026) di kawasan Pandawa, Desa Kutuh, Kuta Selatan.
“DTW Pandawa itu adalah satu kesatuan. Jadi kalau ada satu minusnya di sana, kita dorong positifnya sehingga tercover. Bukan Timbis saja termasuk Pandawa. Cuma karena Timbis ini lebih profesional ke swasta, cara pengolahannya lebih kencang, kita memetakan pasar-pasar yang ada,” ujar Wayan Duarta.
Strategi pemetaan pasar dimulai April 2026 dengan mengumpulkan sekitar 300 stakeholder pariwisata Bali, mulai agen perjalanan baru hingga asosiasi. Tujuannya membangun awareness bahwa Pandawa-Timbis masih punya pantai bagus dan bisa jadi destinasi aktivitas hingga pagi.
“Mereka datang, mereka tahu ternyata ada pantai yang masih bagus, bisa party sampai pagi. Banyak inspection dilakukan, feedback dan request programnya banyak. Jadi sekarang kita mapping ini, jangan sampai kewalahan karena tempat kita kecil,” jelasnya.
Hasilnya, khusus Pantai Timbis pertumbuhan kunjungan tahun ini mencapai 50%. Kenaikan didorong pembukaan akses tebing dan meningkatnya mobilitas wisatawan yang memilih Pandawa karena lebih nyaman dibanding harus bayar shuttle berulang seperti di destinasi lain.
Wayan Duarta memetakan tiga pasar wisman yang tidak terdampak signifikan gejolak global: China, India, dan Australia. Ditambah pasar Asia seperti Malaysia, Singapura, Vietnam yang trennya naik ke Bali.
“Kalau masalah pengaruh sekarang itu sebenarnya rute penerbangan. Tapi dengan rupiah kita turun, mereka dapat nilai di sini. Sekarang masa perang global, pasar besar yang tidak terpengaruh itu Cina, India, sama Australia. Ini tiga pasar besar yang kalau digarap benar, Bali tidak akan kesepi-sepian,” katanya.
Ia juga menyoroti tren digital nomad. Wisatawan kini bisa bekerja dari mana saja, sehingga faktor utama yang dicari adalah value dan review bagus.
Ke depan, pengembangan akan difokuskan ke Pantai Timbis dengan melengkapi infrastruktur. Toilet, shower, dan restoran jadi prioritas karena selama ini masih terbatas. Pengelola juga merancang sistem mobil masuk satu titik lalu dilanjutkan shuttle atau jalan kaki demi kenyamanan.
“Kendalanya kan di fasilitas, toilet, shower dan lain-lain itu menjadi masalah. Kita akan bangun infrastrukturnya lebih lengkap. Tamu sekarang lebih suka pengalaman, ikut terjun ke sana, lihat binatang laut. Nah ini juga satu potensi yang akan kita garap, sehingga mengemas potensi yang ada menjadi nilai yang bagus,” pungkasnya.
Wayan Duarta menegaskan DTW Pandawa-Timbis tidak hanya fokus pada produk fisik, tetapi juga memikirkan pasarnya ke mana. Kolaborasi dengan Pemkab Badung terus didorong untuk mempercepat pembangunan infrastruktur kawasan.(tik)
















