Bangkalan, — Sebuah pemberitaan terkait dugaan penekanan dan pemerasan terhadap sejumlah kepala sekolah di Kabupaten Bangkalan berbuntut panjang. Persoalan tersebut mencuat setelah pemberitaan mengenai dugaan adanya oknum yang mengaku sebagai wartawan dan diduga meminta sejumlah uang kepada kepala sekolah agar tidak diberitakan.
Nilainya pun disebut tidak main-main. Berdasarkan temuan dan informasi yang dihimpun, terdapat dugaan permintaan uang hingga Rp5 juta kepada kepala sekolah.
Namun, ada hal yang kemudian menjadi pertanyaan. Dalam pemberitaan sebelumnya, tidak dicantumkan nama maupun nama media tertentu sebagai pihak yang dituduhkan.
Anehnya, sehari setelah berita tersebut beredar luas di sejumlah grup WhatsApp, seseorang yang mengatasnamakan salah satu wartawan justru menghubungi melalui sambungan telepon WhatsApp. Bukan untuk menyampaikan klarifikasi terkait isi berita, malah mengajak untuk bertemu dengan dalih ngopi santai.
Awak media menjelaskan, saat dirinya mendesak dengan menanyakan perihal substansi atau pokok permasalahan yang ingin dibahas, yang bersangkutan enggan memberikan jawaban secara jelas dan hanya berujar agar dibahas nanti saat bertemu.
“Waktu itu oknum salah satu wartawan bangkalan menghubungi saya via telepon WhatsApp, tapi bukan untuk klarifikasi. Dia malah ngajak ngopi. Begitu saya tanya balik, ini sebenarnya masalah apa? Dia tidak mau menjawab dan bilang nanti saja ngobrolnya pas ketemuan sambil ngopi,” ungkapnya kepada Pemimpin Redaksi.
Situasi inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan ganjil, mengapa seseorang yang namanya tidak disebut dalam pemberitaan tiba-tiba mengajak bertemu tanpa alasan substansial yang jelas?
“Saya tidak pernah menyebut nama salah satu wartawan bangkalan dalam berita tersebut. Nama orang yang saya tulis juga tidak ada. Karena itu saya justru bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba salah wartawan bangkalan menghubungi saya dan mengajak ngopi tanpa mau menjelaskan duduk persoalannya,” ujarnya inisial H.
Ia menegaskan, pemberitaan yang dibuatnya berangkat dari informasi dan temuan mengenai dugaan adanya praktik penekanan terhadap sejumlah kepala sekolah, bukan ditujukan kepada pribadi tertentu.
“Kalau memang merasa tidak terkait dengan pemberitaan tersebut, seharusnya tidak perlu merasa menjadi pihak yang dituju. Apalagi sejak awal tidak ada nama yang saya sebut,” ungkapnya.
Menurutnya, ajakan bertemu yang tidak jelas arah tujuannya tersebut justru menimbulkan tanda tanya baru yang perlu dipertanyakan.
“Saya tidak pernah menuduh salah satu wartawan bangkalan sebagai oknum yang dimaksud. Tetapi ketika seseorang yang namanya tidak disebut tiba-tiba menghubungi, mengajak ketemuan tanpa kejelasan materi masalahnya, tentu publik berhak bertanya ada hubungan apa dengan pemberitaan itu?” tegasnya.
Persoalan kemudian berkembang. Menurut kami, seseorang yang mengatasnamakan salah satu wartawan bangkalan selanjutnya justru memunculkan pemberitaan di media online LapakBerita.id yang secara terang-terangan menyebut nama dirinya serta nama media bnewsnasional.id.
Pemberitaan tersebut dinilai oleh redaksi memiliki narasi yang cenderung tendensius dan berpotensi merugikan nama baik pribadi maupun medianya.
“Ini yang menjadi persoalan. Dalam berita saya, saya tidak pernah menyebut nama salah satu wartawan bangkalan. Tetapi kemudian nama saya justru disebut secara gamblang dalam pemberitaan yang muncul setelahnya. Nama media saya juga dicantumkan,” tandasnya.
Ia mempertanyakan dasar pencantuman namanya apabila tudingan yang dialamatkan kepadanya tidak didukung fakta yang benar.
“Kalau ada keberatan terhadap karya jurnalistik saya, silakan tempuh mekanisme yang benar. Sampaikan hak jawab, hak koreksi, atau lakukan pengaduan melalui mekanisme pers. Jangan kemudian membuat pemberitaan tandingan yang menurut saya justru menyerang pribadi,” tegas inisial H.
Ia menambahkan, dirinya tidak keberatan apabila ada pihak yang ingin memberikan klarifikasi secara profesional. Bahkan, menurutnya, ruang klarifikasi merupakan bagian penting dalam kerja jurnalistik. Namun, ia meminta agar setiap tuduhan yang diarahkan kepada dirinya dapat dipertanggungjawabkan.
“Saya terbuka terhadap klarifikasi. Tetapi kalau nama saya disebut dan kemudian ada tuduhan yang tidak benar, tentu saya punya hak untuk membela diri dan mengambil langkah hukum,” katanya inisial H.
Atas munculnya pemberitaan yang mencantumkan nama dirinya dan media yang dikelolanya, awak media menyatakan akan mempertimbangkan langkah hukum.
“Saya pribadi tidak akan tinggal diam. Jika memang terdapat tudingan yang tidak benar dan merugikan nama baik saya, saya akan menempuh jalur hukum. Semua bukti akan saya kumpulkan, termasuk pemberitaan, rekaman komunikasi, serta jejak digital yang berkaitan dengan persoalan ini,” ungkapnya inisial H.
Ia menegaskan, langkah hukum tersebut bukan bentuk ketakutan terhadap kritik, melainkan upaya untuk memastikan setiap pihak bertanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan kepada publik.
“Saya siap mempertanggungjawabkan setiap berita yang saya terbitkan. Tetapi saya juga meminta pihak lain mempertanggungjawabkan apa yang mereka tulis tentang saya. Jangan sampai kebebasan menyampaikan informasi justru berubah menjadi ruang untuk menyerang dan merusak nama baik seseorang,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa pemberitaan mengenai dugaan pemerasan tersebut tidak boleh dimaknai sebagai vonis terhadap individu tertentu.
“Saya tidak pernah mengatakan salah satu Wartawan bangkalan adalah pelakunya. Saya hanya memberitakan temuan dan informasi mengenai dugaan penekanan terhadap kepala sekolah. Kalau ada pihak yang merasa dirugikan, mari buktikan secara terbuka, bukan dengan saling melempar tuduhan,” katanya inisial H.
Awak media menyatakan tidak akan mundur dalam mengungkap informasi yang menurutnya berkaitan dengan kepentingan publik.
“Saya tidak akan mundur hanya karena ada pihak yang keberatan dengan pemberitaan. Selama berita itu berdasarkan fakta dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, saya siap mempertanggungjawabkannya Tetapi ketika nama saya diserang dengan tuduhan yang tidak benar, saya juga akan menggunakan hak saya untuk menempuh jalur hukum,” pungkasnya.
Menanggapi polemik tersebut, Pemimpin Redaksi bnewsnasional.id, turut angkat bicara. Ia menegaskan dukungan penuh redaksi terhadap inisial H dan menyayangkan penayangan berita yang menyebut nama medianya secara memojokkan.
Pihak redaksi meyakini jurnalisnya bekerja sesuai etika dan mengantongi bukti kuat berupa pengakuan serta aduan langsung dari kepala sekolah terkait perihal dugaan penekanan tersebut. Redaksi memastikan siap mengawal persoalan ini hingga tuntas melalui koridor hukum dan aturan pers yang berlaku.(Tim/Red)















